Pajak dan Zakat Jadi Isu Global

By Revolusioner 07 Okt 2026, 06:59:52 WIB Internasional
Pajak dan Zakat Jadi Isu Global

Keterangan Gambar : Foto: Dok. Kemenag.go.id


Masalah perpajakan dan perzakatan angkat diangkat menjadi Isu global. Indonesia akan menjadi tuan rumah seminar internasional perpajakan yang mengangkat tema "The Administration of Taxes under Moslem Majority Population Countries". Seminar ini menghadirkan pimpinan otoritas perpajakan dari Mesir dan Uni Emirat Arab (UEA).

Seminar digelar untuk memberikan pemahaman yang tepat mengenai posisi pajak dari sudut pandang Islam. "Tujuan kami sebenarnya ingin memposisikan bagaimana pajak itu dari sisi Islam sama sekali tidak bertentangan. Nanti Mesir dan UEA juga akan share pengalaman mereka menerapkan pajak di negara masing-masing," ucap Direktur Perpajakan Internasional Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan, Dwi Astuti saat beraudiensi dengan Menteri Agama Nasaruddin Umar di Jakarta, Selasa (6/10/2026).

"Dari sisi syariat, sebenarnya ada fatwa-fatwa yang menyatakan bahwa ini halal. Artinya, dari sisi kehidupan bernegara, pajak itu tidak bertentangan dengan kehidupan keagamaan kita," sambung dia.

Baca Lainnya :

Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menyambut baik rencana penyelenggaraan seminar tentang pajak dan zakat. Menag menekankan pentingnya meluruskan pemahaman publik agar masyarakat dapat menjalankan kewajiban keagamaan sekaligus kewajiban kewarganegaraan secara seimbang.

Menag lalu menjelaskan perbedaan mendasar antara peruntukan zakat dan pajak. Zakat memiliki syariat yang ketat dan penyalurannya terbatas pada delapan golongan penerima (mustahik/asnaf). Berbeda halnya dengan pajak atau penerimaan negara lainnya yang dapat dialokasikan secara fleksibel untuk fasilitas publik.

"Zakat tidak boleh dipakai untuk membangun jembatan atau pasar. Selain untuk delapan asnaf, tidak boleh. Kalau pajak atau penerimaan negara itu boleh untuk fasilitas umum," jelas dia.

Menag menyoroti praktik pengelolaan zakat dan pajak seperti di negara tetangga, Malaysia. "Di Malaysia, kalau kita membayar zakat 100 persen, berarti kita juga sudah dianggap melunasi pajak karena zakat dijadikan pengurang pajak (tax credit). Kalau di tempat kita kan belum, pembayaran zakat baru menjadi pengurang penghasilan kena pajak (tax deductible)," ungkap dia.

Menag juga menggarisbawahi pentingnya edukasi ekonomi bagi masyarakat dan para pembuat kebijakan keagamaan. "Masyarakat kita memang perlu diberikan edukasi terkait dengan ekonomi mikro dan literasi keuangan. Begitu juga para ulama kita, tidak boleh langsung mengatakan 'oh ini tidak boleh' atau 'haram' tanpa memahami urusan dan kondisinya secara utuh. Kita harus paham realitas masyarakat di daerah agar ketetapan keagamaan tidak menyulitkan mereka," tegas dia.

Menag menekankan bahwa ruang diskusi mengenai integrasi keagamaan dan perpajakan ini harus membutuhkan pendalaman yang serius. Menurut dia, setiap kebijakan dan pemahaman yang dibangun harus didasarkan pada studi referensi yang kuat, rekam jejak pengalaman negara lain, serta pemetaan realitas sosial yang matang agar tidak keliru dalam mengambil langkah.

"Hal-hal seperti ini memang harus kita pelajari dan kaji betul-betul secara mendalam dan harus dipahami secara utuh. Jangan sampai kita keliru atau sembarangan memutuskan tanpa pertimbangan yang matang," ujar dia.

Kontributor: Raeihan

Editor: MAS

Sumber: www.kemenag.go.id




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment