- BAZNAS Jabar Kirim Kurban ke Palestina
- Perkuat Ziswaf untuk Bela Palestina
- Filantropi Islam Instrumen Pembangunan
- MUI Luncurkan Gerakan Wakaf Hijau
- Ziswaf Nasional Tembus Rp343 T
- Zakat Nasional Belum Tergarap Optimal
- Filantropi Perkuat Kesehatan Ibu Anak
- UPZ Kemenhaj Ambon Resmi Dibentuk
- HMNS dan DD Kolaborasi Tebar Kurban
- BAZNAS Salur Dam Haji di Pemalang
Perkuat Ziswaf untuk Bela Palestina

Keterangan Gambar : Foto: Dok. Minanews.net
Penguatan diplomasi filantropi dinilai menjadi strategi baru dalam mendukung perjuangan kemanusiaan rakyat Palestina. Upaya tersebut dilakukan melalui instrumen zakat, infak, sedekah, dan wakaf (ZISWAF).
Gagasan itu dibahas dalam audiensi Direktorat Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Kemenag bersama perwakilan Global Sumud Flotilla, Global Peace Convoy Indonesia (GPCI), serta sejumlah Lembaga Amil Zakat (LAZ) nasional di Jakarta.
Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Kemenag, Waryono Abdul Ghofur, mengatakan, dukungan umat Islam Indonesia untuk Palestina tidak cukup hanya dilakukan melalui pengumpulan bantuan kemanusiaan. Menurut dia, perlu ada strategi yang lebih menyeluruh dan berkelanjutan untuk menghadapi berbagai tantangan di lapangan.
Baca Lainnya :
- IZI dan LAZ FK Unand Bantu Gaza0
- DT Peduli Kirim 2.000 Paket ke Gaza0
- JSIT dan RZ Kirim Daging Kaleng ke Gaza0
- Kurban DD Sampai Afrika dan Palestina0
- Wakaf Orbit Konser Nasyid untuk Palestina 0
“Filantropi Islam tidak cukup hanya menjadi instrumen bantuan. Zakat, infak, sedekah, dan wakaf harus dioptimalkan menjadi instrumen diplomasi kemanusiaan yang mampu memperkuat posisi Indonesia dalam mendukung kemerdekaan dan hak-hak rakyat Palestina,” ujar Waryono, seperti dikutip dari laman Kemenag RI, Jumat (5/6).
Dia menjelaskan, berbagai misi kemanusiaan memperlihatkan bahwa hambatan yang dihadapi tidak hanya terkait distribusi logistik, tetapi juga menyangkut persoalan geopolitik dan akses kemanusiaan internasional. Karena itu, sinergi antara pemerintah, Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), LAZ, dan para pemangku kepentingan lainnya perlu terus diperkuat.
Menurut Waryono, Indonesia memiliki modal besar untuk menjalankan peran tersebut. Selain menjadi salah satu negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, Indonesia juga memiliki ekosistem zakat dan wakaf yang terus berkembang serta mendapat kepercayaan masyarakat.
Hal tersebut sejalan dengan pandangan Menteri Agama Nasaruddin Umar yang menyebut potensi dana umat di Indonesia sebagai kekuatan sosial dan spiritual untuk mendukung berbagai agenda kemanusiaan dan pemberdayaan masyarakat.
“Kita ingin memastikan bahwa setiap dana umat yang dihimpun benar-benar memberikan dampak yang luas, tepat sasaran, sesuai prinsip maqashid syariah, dan berkontribusi pada agenda kemanusiaan yang lebih besar,” kata dia.
Direktorat Pemberdayaan Zakat dan Wakaf juga menegaskan pentingnya penyusunan kerangka kebijakan dan tata kelola penyaluran bantuan kemanusiaan internasional berbasis ZISWAF. Langkah itu dinilai penting untuk memberikan kepastian hukum, memperkuat akuntabilitas lembaga pengelola zakat, serta meningkatkan efektivitas penyaluran bantuan kepada masyarakat yang membutuhkan.
Audiensi tersebut menghasilkan komitmen bersama untuk memperkuat sinergi antara pemerintah, Baznas, LAZ, dan organisasi kemanusiaan dalam merumuskan langkah strategis demi memperkuat diplomasi kemanusiaan Indonesia.
“Isu Palestina tidak hanya menjadi wujud solidaritas umat, tetapi juga momentum untuk memperkuat peran filantropi Islam Indonesia sebagai kekuatan kemanusiaan global yang berkelanjutan,” ujar Waryono.
Kontributor: Azzam Al Hanif
Editor: MAS
Sumber: www.minanews.net










.png)
.png)