Sungai Rahmat Suscia Rahmani
Oleh: Daffa Atha

By Revolusioner 02 Mar 2026, 11:18:28 WIB Cerpen
Sungai Rahmat Suscia Rahmani

Keterangan Gambar : Foto: Asistensi ChatGPT


Banjir rob di Muara Gembong itu seperti tamu tak diundang yang betah berbulan-bulan. Ia datang tanpa permisi, menginap tanpa tahu diri, dan pulang tanpa pamit. Rumah-rumah di Desa Pantai Harapan Jaya dan Pantai Bahagia berubah menjadi kolam yang tak pernah diminta. Perahu lebih sibuk parkir di teras daripada melaut.

Di tengah genangan yang membuat kaki keriput sebelum waktunya itu, datanglah Suscia.

Nama lengkapnya Suscia Rahmani, tapi warga cukup memanggilnya “Mbak Sus.” Aktivis filantropi yang lebih sering bersepatu bot lumpur daripada sepatu hak tinggi. Ia hafal bau air rob, hafal suara genset mogok, dan hafal cara membujuk donatur yang dompetnya sering lebih keras dari batako.

Baca Lainnya :

Hari itu, ia ikut mengawal distribusi 200 paket beras zakat fitrah masing-masing 5 kilogram yang disalurkan lewat koordinasi dengan Badan Amil Zakat Nasional. “Zakat itu jangan cuma jadi wacana di mimbar,” katanya suatu kali, “ia harus bisa berenang.”

Warga menyambut beras itu seperti menyambut tamu yang benar-benar ditunggu. Watiah, dengan kaki yang setia digigit kutu air, nyaris memeluk karung beras sebelum memeluk Suscia. Sementara Tambrun, nelayan dengan penghasilan yang kadang cuma cukup untuk membeli bensin perahu dan separuh kilo beras, berkali-kali mengucap syukur.

“Zakat fitrah itu menyucikan yang puasa dan mengenyangkan yang lapar,” ujar Suscia pada seorang relawan muda yang sibuk memotret untuk media sosial. “Kalau cuma suci tapi tak ada yang kenyang, itu namanya suci sendirian.”

Relawan itu manggut-manggut, meski tak sepenuhnya paham. Ia lebih paham filter yang tepat untuk cahaya senja.

 Sore itu, ketika air mulai surut sedikit cukup untuk membuat ilusi bahwa keadaan membaik terdengar teriakan.

“Anak hanyut! Anak hanyut!”

Orang-orang berlarian. Sungai yang biasanya jinak tiba-tiba menjadi seperti ular yang baru bangun tidur. Seorang bocah terseret arus, tangannya menggapai apa saja kecuali pegangan yang kokoh.

Tanpa banyak teori, Suscia melompat.

Ia tidak sempat mengingat dalil, tidak pula mengutip Fiqh az-Zakah. Yang ia ingat hanya satu: manusia lebih penting daripada rapat evaluasi.

Air sungai lebih dingin dari komentar warganet. Arusnya lebih deras dari arus kas lembaga filantropi yang sedang seret. Tapi Suscia lebih keras kepala daripada semuanya.

Dengan satu tangan ia meraih batang bambu yang mengambang, dengan tangan lain ia menyambar kerah baju si bocah. Beberapa detik yang terasa seperti satu bab skripsi akhirnya berakhir ketika warga membantu menarik mereka ke tepi.

Bocah itu batuk, menangis, lalu memeluk Suscia dengan erat. “Tante jangan pergi,” katanya.

Belakangan baru diketahui, bocah itu adalah putra seorang pejabat tinggi yang kebetulan sedang meninjau proyek tanggul yang tak kunjung rampung.

Pejabat itu datang dengan wajah pucat, lebih pucat dari proposal yang sering ia abaikan. Jasnya rapi, tapi matanya berantakan. Ia memeluk anaknya lama sekali, lalu menatap Suscia seperti menatap ayat yang baru ia pahami artinya.

“Saya tidak tahu harus bagaimana membalasnya,” katanya lirih.

Suscia, masih menggigil dan sedikit malu karena bajunya berbau sungai, menjawab enteng, “Kalau mau membalas, jangan ke saya. Balas ke mereka.” Ia menunjuk rumah-rumah yang setengahnya masih terendam.

Pejabat itu terdiam.

Beberapa hari kemudian, kabar beredar lebih cepat dari air pasang: sang pejabat menyumbangkan sebagian besar hartanya untuk program filantropi, khususnya bagi masyarakat penyintas bencana. Bukan sekadar CSR yang difoto lalu dilupakan, melainkan dana yang benar-benar dialokasikan untuk tanggul, perahu, pelatihan usaha, dan lumbung pangan.

“Kadang,” kata Suscia kepada timnya, “orang baru mengerti arti zakat setelah hampir kehilangan yang paling ia cintai.”

Ia lalu bercerita tentang delapan asnaf, tentang bagaimana fakir dan miskin selalu disebut pertama. Tentang gagasan bahwa zakat bukan sekadar menggugurkan kewajiban, tetapi membangun kehidupan. Ia menyebut nama-nama ulama dengan santai, seolah mereka kawan diskusi di warung kopi.

“Teks itu penting,” ujarnya sambil membagikan teh hangat, “tapi yang lebih penting adalah siapa yang kita tolong setelah membaca teks.”

Program pun berkembang. Dari sekadar distribusi beras zakat fitrah, lahir pelatihan pengolahan hasil laut, koperasi kecil nelayan, hingga sekolah darurat untuk anak-anak yang bosan belajar dari buku yang lembap.

Pejabat itu beberapa kali datang, kali ini tanpa rombongan berlebihan. Ia lebih sering duduk mendengar daripada berdiri berpidato. Anak yang dulu hanyut kini berlari-lari di antara tumpukan karung beras, bercita-cita menjadi “penolong seperti Tante Sus.”

Muara Gembong masih dilanda rob sesekali. Air masih datang tanpa undangan. Tapi kini, warga tak lagi merasa sendirian. Mereka punya lumbung, punya perahu, punya pelatihan, dan yang tak kalah penting punya harapan.

Suatu malam, setelah semua relawan pulang, Suscia duduk di tepi sungai. Ia memandangi air yang memantulkan cahaya bulan seperti potongan koin yang tercecer.

“Zakat,” gumamnya pelan, “seharusnya memang seperti ini. Mengalir. Membersihkan. Dan, kalau perlu, menyelamatkan.”

Sungai "rahmat" tak menjawab. Tapi kali ini, ia terdengar lebih bersahabat.




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment