- Alumni UGM Donasi Banjir Sumatra Rp75 Juta
- Lazismu Perluas Manfaat untuk Mustahik
- UMKM Depok Dapat Gerobak Lazisnu
- RZ Gelar Workshop Pengelolaan Sampah
- Dunia Abaikan Krisis Kemanusiaan Sudan
- Lazismu Layani Pasien Kanker Palestina
- HUT Jakarta, Kemenag Bidik Wakaf Rp500 M
- BCA Buka Beasiswa S1 Subsidi UKT
- Kampung Zakat Turunkan Angka Stunting
- AI Dorong Zakat Wakaf Raup 1,2 Triliun USD
Dunia Abaikan Krisis Kemanusiaan Sudan

Keterangan Gambar : Foto: Dok. Minanews.com
Organisasi kemanusiaan Médecins Sans Frontières (MSF) menggandeng jaringan kartunis Sudan dari Khartoon Magazine untuk menyuarakan krisis kemanusiaan di Sudan melalui karya seni. Langkah tersebut dilakukan di tengah minimnya perhatian dunia terhadap perang yang telah berlangsung lebih dari tiga tahun.
MSF menyatakan perang di Sudan kini telah memasuki tahun keempat atau lebih dari 1.200 hari konflik. Meski menjadi salah satu krisis kemanusiaan terbesar di dunia, konflik tersebut dinilai masih kurang mendapat sorotan media internasional.
"Sengaja ada sikap acuh tak acuh dari komunitas internasional terhadap perang di Sudan," ujar salah seorang staf MSF asal Sudan sebagaimana dikutip dalam pernyataan organisasi tersebut. Laporan itu dimuat oleh Msf.org pada Rabu (5/8/2026).
Baca Lainnya :
- Islamic Relief Bantu Korban Banjir Bangladesh 0
- SOZECOM, Rujukan Zakat di Nigeria0
- Turki Bantu Lebanon $25,5 Juta0
- Maroko Siapkan Puluhan Beasiswa 0
- Dompet Dhuafa Tampil di Bank Dunia0
Melalui kolaborasi dengan para kartunis Sudan, termasuk mereka yang kini mengungsi atau hidup sebagai pengungsi di luar negeri, MSF berupaya menghadirkan kisah perang dari sudut pandang masyarakat Sudan sendiri.
Ilustrator sekaligus penulis Khartoon Magazine, Nader Jenni, mengatakan seni mampu menyampaikan pesan kemanusiaan yang tidak selalu dapat diungkapkan melalui kata-kata maupun forum internasional. "Saya pikir seni membantu orang karena membuat mereka merasa dipahami dan tidak sendirian. Terkadang sebuah gambar sederhana mampu menyampaikan sesuatu yang tidak bisa dilakukan oleh konferensi internasional," kata dia.
Dalam budaya Sudan, kartun telah lama menjadi media untuk menyampaikan kritik sosial maupun pengalaman hidup masyarakat. Karena itu, ilustrasi dipandang bukan sekadar karya seni, melainkan juga bentuk komentar terhadap realitas yang terjadi.
Melalui seri kartun tersebut, para seniman menggambarkan berbagai dampak perang, mulai dari kelaparan, wabah penyakit, kebutuhan layanan kesehatan jiwa, hingga sulitnya akses terhadap pelayanan kesehatan.
Ilustrasi tersebut dipadukan dengan ungkapan, peribahasa, dan istilah yang akrab bagi masyarakat Sudan. Setiap karya juga didukung oleh data dari berbagai proyek kemanusiaan MSF di Sudan.
MSF telah beroperasi di Sudan selama lebih dari 40 tahun dan memperluas respons kemanusiaannya sejak pecahnya perang pada 2023. Upaya itu mencakup layanan persalinan, penanganan malnutrisi, kesehatan reproduksi, hingga dukungan kesehatan mental.
Salah seorang ilustrator, Akram Abdo, mengatakan seni memiliki kekuatan untuk mengubah data dan penderitaan menjadi pesan yang mudah dipahami masyarakat luas. "Sebagai seniman Sudan, saya percaya seni dapat menarik perhatian terhadap persoalan seperti kolera dan malnutrisi dengan cara yang sederhana dan dekat dengan kehidupan masyarakat," ujar dia.
Selain menggandeng kartunis Sudan, penasihat operasional MSF Narin Fandoglu turut membagikan sketsa hasil pengamatannya saat mengunjungi Khartoum dan Darfur pada tahun lalu. Menurut dia, menggambar menjadi cara untuk memahami emosi sekaligus mendokumentasikan kehidupan masyarakat yang tetap bertahan di tengah perang.
Fandoglu menegaskan pentingnya memberikan ruang bagi seniman Sudan untuk menceritakan pengalaman mereka sendiri. "Ketika orang luar berbicara atas nama mereka, yang sering muncul hanyalah narasi tentang korban. Kolaborasi ini penting karena mengembalikan ruang yang telah dirampas perang kepada para seniman Sudan. Kita tidak bisa menghentikan perang dengan gambar, tetapi kita bisa menolak untuk berpaling," kata dia.
Menurut Badan Pengungsi PBB, hampir 12 juta orang masih mengungsi di dalam Sudan maupun di negara-negara tetangga. Sementara itu, OCHA melaporkan sekitar 33,7 juta orang di negara tersebut membutuhkan bantuan kemanusiaan.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan lebih dari sepertiga atau 37 persen fasilitas kesehatan di Sudan masih tidak berfungsi sehingga sebagian besar penduduk tidak memiliki akses terhadap layanan kesehatan yang penting.
"Bagi saya, seni bukanlah solusi untuk setiap masalah, tetapi membuka pintu dengan membuat masalah itu terlihat. Menggunakan seni adalah jalan pintas untuk menyampaikan pesan kemanusiaan," kata Amani Al-Zein, ilustrator dan desainer Khartoon Magazine.
Kontributor: Laila
Editor: MAS
Sumber: www.minanews.com











.png)
.png)