- Seabad Gontor: Pancajiwa dan Wakaf Nilai
- Studi Luar Negeri, Kemenag Buka PPSL 2026
- Ini Tips Menembus Beasiswa Inggris
- Rabiul Akhir, Perbanyak Pahala Sedekah
- Bagaimana Sedekah Bisa Menolak Bala?
- Pidana, Ubah Tanah Wakaf Jadi SHM
- Dibuka, Beasiswa Pemko Medan 2026
- Kemdikti Rilis SatuBeasiswa Indonesia
- Ini Skema Beasiswa Rp 17,7 M di UAD
- Superindo dan RZ Tebar 2.900 Paket Donasi
Seabad Gontor: Pancajiwa dan Wakaf Nilai
Oleh: Abd. Rohim Ghazali (Senior Fellow Maarif Institute, Direktur InDesa, Wakil Ketua LHKP PP Muhammadiyah 2022-2027)

Keterangan Gambar : Foto: Dok. Inilah.com
“Di Gontor, apa yang kau cari?” Pertanyaan ini dilontarkan
setiap tahun di hadapan ribuan santri pada Khutbatul ‘Arsy, apel tahunan
ketika tahun ajaran baru dimulai. Pertanyaan yang tidak pernah benar-benar
dijawab di tempat itu. Ia dibawa pulang ke kamar, kelas, lapangan, dapur, dan
terutama ke tahun-tahun panjang setelah seseorang meninggalkan pondok.
Saya mendengarnya pertama kali pada 1983 dan meninggalkan
Gontor pada 1987. Empat puluh tahun kemudian saya baru menyadari: pertanyaan
itu memang dirancang untuk tidak pernah selesai.
Pada 19 September tahun ini, Gontor genap berusia satu abad.
Kehadiran Presiden Prabowo Subianto di Gontor melanjutkan tradisi
presiden-presiden sebelumnya yang semuanya pernah berkunjung ke Gontor. Bahkan
di podium, Prabowo meminta untuk diundang kembali dalam suasana yang lebih
akrab, tanpa kehadiran wartawan. Apa maksudnya? Wallahu a’lam!
Baca Lainnya :
- Bagaimana Sedekah Bisa Menolak Bala?0
- HUT RI: Filantropi Islam Solusi Kemiskinan 0
- Memperkuat Kepastian Hukum Asuransi Syariah0
- Potensi Green Waqf dalam Filantropi Islam0
- Mendorong Zakat Jadi Instrumen Fiskal Negara0
Yang jelas, sebagaimana diceritakan salah satu pimpinan
Pondok Gontor, KH Hasan Abdullah Sahal, dulu Gontor adalah singkatan dari nggon
kotor (tempat yang kotor). Semua jenis keburukan seperti mo limo ada
di Gontor. Tetapi setelah berdiri pondok Gontor, tempat ini berubah menjadi nggon
inspirator.
Sebelum 1926, sudah ada pondok di desa itu, tetapi kemudian
meredup hingga nyaris tak bersisa. Tiga bersaudara—Kiai Ahmad Sahal, Kiai
Zainuddin Fananie, dan Kiai Imam Zarkasyi—memulai kembali dari puing-puing yang
ada. Mereka tidak mewarisi kejayaan. Mereka mewarisi sisa-sisa, lalu memutuskan
untuk berjalan.
Man sara ‘ala ad-darbi washala. Siapa berjalan pada
jalannya, ia akan sampai.
Sepuluh tahun kemudian, pada 1936, Kulliyatul Mu’allimin
al-Islamiyah (KMI) berdiri. Sepuluh tahun adalah waktu yang panjang bagi sebuah
perjuangan yang belum diketahui ujungnya. Man shabara zhafira. Siapa
bersabar, ia beruntung.
Namun, yang membuat Gontor menarik bukan sekadar usianya.
Ada sesuatu yang sejak awal membuatnya berbeda dari banyak pesantren lain.
Zamakhsyari Dhofier dalam Tradisi Pesantren (1982) menggambarkan unsur
pokok pesantren melalui pondok, masjid, santri, pengajaran kitab kuning, dan
kiai. Gontor memiliki semuanya, tetapi mengambil jalan yang berbeda. Kitab
kuning bukan poros utama. Bahasa Arab dan Inggris menjadi bahasa sehari-hari.
Dan yang paling penting, kepemimpinan tidak diwariskan melalui garis darah.
Puncaknya terjadi pada 1958. Trimurti mewakafkan Gontor
kepada umat Islam. Keputusan ini luar biasa. Tiga orang yang membangun lembaga
tersebut selama puluhan tahun, dengan tenaga, pikiran, dan harta mereka
sendiri, justru melepaskannya ketika mulai tumbuh. Mereka mengubah Gontor dari
milik menjadi amanah.
Max Weber menyebut proses perubahan kewibawaan pribadi
menjadi sistem sebagai rutinisasi karisma. Banyak lembaga gagal melewati
fase ini karena ketika pendirinya pergi, lembaganya ikut kehilangan arah.
Gontor memilih jalan berbeda: kewenangan tertinggi tidak diberikan kepada satu
keluarga, melainkan kepada badan yang menjaga amanah. Di situlah makna tindakan
Trimurti sesungguhnya terasa.
Panca Jiwa
Indonesia punya Pancasila, Gontor punya Panca
Jiwa—keikhlasan, kesederhanaan, berdikari, ukhuwah Islamiyah, dan
kebebasan—yang bukan sekadar lima slogan, tetapi ditanamkan dan diamalkan dalam
kehidupan sehari-hari.
Keikhlasan dipelajari dari guru-guru muda yang mengajar
tanpa banyak menuntut. Kesederhanaan terasa dari kamar, antrean mandi, dan
kehidupan bersama tanpa membedakan anak pejabat dan anak petani. Berdikari
diajarkan melalui kemampuan pondok menghidupi dirinya sendiri. Ukhuwah tumbuh
dari kamar-kamar yang dihuni santri dari berbagai daerah dan bahkan berbagai
negara.
Adapun kebebasan bukanlah kebebasan berbuat sesuka hati. Ia
adalah kebebasan berpikir dan menentukan masa depan, yang justru tumbuh melalui
disiplin.
Motto Gontor merangkum semuanya: berbudi tinggi, berbadan
sehat, berpengetahuan luas, berpikiran bebas. Urutannya penting. Budi
ditempatkan lebih dahulu, sebelum kesehatan, pengetahuan, dan kebebasan
berpikir.
Tetapi justru di sinilah pertanyaan berikutnya muncul.
Mengapa alumni Gontor bisa berjalan ke arah yang begitu beragam? Martin van
Bruinessen pernah mencatat adanya jalan-jalan pemikiran yang bercabang di
kalangan alumni Gontor. Sebagian bergerak ke arah pembaruan yang terbuka,
sebagian lainnya mengambil jalan yang berbeda.
Bukankah ini paradoks? Mungkin tidak. Gontor memang tidak
terutama menanamkan keseragaman pemikiran. Ia menanamkan kemampuan: membaca,
berbicara, memimpin, mengelola organisasi, dan hidup dalam disiplin. Kemampuan
itu dapat digunakan untuk berbagai arah.
Berpikiran bebas memang mengandung konsekuensi.
Kebebasan berpikir tidak menjamin keseragaman hasil.
Wakaf Nilai
Seratus tahun Gontor seharusnya bukan sekadar momentum
perayaan, melainkan momentum perhitungan. Usia panjang menunjukkan bahwa sebuah
lembaga telah melembaga, tetapi tantangan sesungguhnya adalah apakah ia mampu
menghadapi zaman yang terus berubah tanpa kehilangan nilai-nilai dasarnya.
Sebab, setiap lembaga yang berhasil akan menghadapi godaan
yang sama: berubah dari gerakan menjadi warisan, dari amanah menjadi milik,
dari pengabdian menjadi kedudukan. Godaan itu justru sering datang dari
keberhasilan itu sendiri.
Karena itu, wakaf Trimurti pada 1958 bukan sekadar wakaf
tanah dan bangunan. Yang sesungguhnya mereka wakafkan adalah nilai. Dan nilai
tidak pernah cukup diwariskan melalui akta. Ia hanya akan hidup jika setiap
generasi bersedia menanggungnya.
Maka, setelah satu abad, pertanyaan Khutbatul ‘Arsy
itu kembali kepada kita yang sudah lama meninggalkan pondok: “Di Gontor, apa
yang kau cari?”
Mungkin kini pertanyaan itu harus dibalik. Bukan lagi apa
yang kita cari di Gontor, melainkan apa yang masih kita bawa dari Gontor hari
ini—dan apa yang telah kita tinggalkan di tengah jalan.
Sumber: www.inilah.com










.png)
.png)