Alumni Beasiswa Bergerak untuk Kemandirian

By Revolusioner 04 Sep 2026, 05:17:08 WIB Z-Academy
Alumni Beasiswa Bergerak untuk Kemandirian

Keterangan Gambar : Foto: Dok. Dompetdhuafa.org


Ratusan peserta berkumpul di Grand Ballroom Yudistira, Hotel Patra Jasa, Jakarta, pekan lalu, dalam Kongres Kemandirian yang digelar Dompet Dhuafa. Forum tersebut mempertemukan alumni penerima beasiswa, akademisi, tokoh masyarakat, pengusaha, aktivis, diaspora, praktisi, hingga pemangku kebijakan dalam satu ruang untuk membahas masa depan kemandirian Indonesia.

Kongres Kemandirian menjadi bagian dari komitmen Dompet Dhuafa dalam mendorong terciptanya masyarakat yang lebih berdaya dan mandiri. Pertemuan ini sekaligus menjadi ruang untuk menghimpun gagasan serta merumuskan langkah strategis yang dapat berkontribusi terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat dan kualitas pembangunan bangsa.

Sejumlah tokoh turut hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya Ketua Pengurus Dompet Dhuafa Ahmad Juwaini, Pembina Dompet Dhuafa Yudi Latif dan Bambang Widjojanto, Ketua Dewan Syariah Dompet Dhuafa Djawahir Hijazy, serta Wakil Ketua Komisi X DPR RI Kurniasih Mufidayati. Hadir pula Deputi Mobilisasi dan Pengumpulan BAZNAS Arifin Purwakananta dan sejumlah alumni Beastudi Dompet Dhuafa yang kini berkiprah di berbagai bidang.

Baca Lainnya :

Memperkuat Peran Jejaring Alumni

Ahmad Juwaini menjelaskan bahwa Kongres Kemandirian memiliki dua sasaran utama. Pertama, menghadirkan forum yang mampu memberikan sumbangsih terhadap peningkatan kualitas kemerdekaan dan pembangunan Indonesia. Menurutnya, upaya membangun bangsa membutuhkan kontribusi dari berbagai pihak dengan kapasitas dan latar belakang yang beragam.

“Yang pertama, kami berkeinginan membuat satu forum yang memberi kontribusi terhadap peningkatan kualitas kemerdekaan bagi bangsa ini, karena kita perlu terus beri sumbangsih,” ujar dia.

Tujuan berikutnya adalah memperkuat hubungan antarpenerima Beastudi Dompet Dhuafa yang kini telah tersebar di berbagai sektor. Jejaring tersebut dinilai memiliki potensi besar untuk memberikan gagasan, masukan, serta kontribusi terhadap pengembangan program Dompet Dhuafa maupun agenda kemandirian masyarakat secara lebih luas.

“Yang pertama, kami berkeinginan membuat satu forum yang memberi kontribusi terhadap peningkatan kualitas kemerdekaan bagi bangsa ini, karena kita perlu terus beri sumbangsih,” tambah dia.

Pembina Dompet Dhuafa Yudi Latif menilai momentum akhir bulan kemerdekaan menjadi waktu yang tepat untuk membicarakan kembali makna kemandirian bangsa. Ia menekankan pentingnya membangun kepercayaan di antara masyarakat sebagai fondasi untuk menggerakkan kekuatan bersama.

“Perlu ada trust building. Itu penting untuk membangun kemandirian, karena tanpa trust building, tidak mungkin kita bisa memobilisasi rakyat. Kemudian, semangat gotong royong. Itulah yang bisa menutupi berbagai masalah kita,” ucap Yudi.

Menurut Yudi, semangat gotong royong juga menjadi modal sosial yang penting dalam menghadapi berbagai persoalan bangsa. Ia mengajak masyarakat untuk tidak hanya melihat berbagai persoalan sebagai kegelapan, tetapi berusaha menghadirkan solusi dan kontribusi yang dapat menjadi cahaya bagi lingkungan sekitar.

“Bagaimana kita di sela-sela Indonesia yang masih temaram, kita menyalakan cahaya daripada mengutuk kegelapan. Lebih baik apa yang bisa kita nyalakan, kita nyalakan,” tutur dia.

Ia juga mengingatkan para alumni penerima beasiswa bahwa dukungan pendidikan yang mereka dapatkan merupakan bentuk kepercayaan dari masyarakat. Karena itu, kesempatan tersebut perlu dibalas dengan tanggung jawab untuk memberikan manfaat yang lebih luas kepada masyarakat dan bangsa.

“Ingat, bahwa Saudara dapat beasiswa ini adalah satu kehormatan. Dalam setiap kehormatan dan privilese, ada tanggung jawab. Noblesse oblige. Semoga Kongres ini bisa melahirkan program dan tindak lanjut yang lebih berdampak bagi bangsa di masa depan,” tambah dia.

Pendidikan sebagai Jalan Kemandirian

Kongres Kemandirian digelar melalui dua sesi diskusi utama. Sesi pertama mengangkat tema Strengthening Community Well-being for Sustainable Development yang membahas pentingnya membangun kesejahteraan masyarakat melalui lingkungan yang sehat, terlindungi, dan memiliki daya untuk berkembang.

Sementara itu, sesi kedua bertema Empowered Education, Sovereign Economy. Pembahasan diarahkan pada hubungan antara pendidikan yang berdaya dengan terbentuknya kemandirian ekonomi. Pendidikan dipandang sebagai salah satu fondasi penting untuk melahirkan masyarakat yang memiliki kapasitas dan kemampuan menentukan masa depannya.

Pada momentum yang sama, Dompet Dhuafa melalui Great Edunesia turut menyalurkan dana Pendidikan Merdeka UKT 2026 kepada 56 mahasiswa yang berasal dari 42 perguruan tinggi di berbagai wilayah Indonesia. Total dukungan pendidikan yang diberikan mencapai Rp135 juta.

Bantuan tersebut diharapkan dapat membantu mahasiswa memenuhi kebutuhan pendidikan sekaligus menjaga keberlanjutan studi mereka. Program ini juga menjadi bagian dari upaya Dompet Dhuafa untuk memperluas akses pendidikan dan memberikan kesempatan kepada generasi muda agar dapat terus mengembangkan potensi.

Salah satu penerima Beasiswa Bakti Nusa, Atiatul Muqtadir, mengapresiasi penyelenggaraan kongres yang mempertemukan berbagai kelompok dengan latar belakang berbeda. Menurutnya, forum tersebut memberikan ruang untuk melahirkan gagasan mengenai kebijakan dan langkah yang dapat memperkuat kemandirian masyarakat maupun bangsa.

“Ini acara yang luar biasa, mempertemukan berbagai pihak. Ini adalah inisiasi yang sangat baik, melahirkan gagasan soal bagaimana kita bisa membuat kebijakan yang mendukung kemandirian bangsa dan masyarakat,” tutur Atiatul Muqtadir, dokter gigi sekaligus influencer dan penerima Beasiswa Bakti Nusa Dompet Dhuafa.

Temu Alumni dan Gagasan Kolaborasi

Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan Temu Alumni. Sesi tersebut menjadi ruang bagi para alumni untuk berbagi pengalaman, membicarakan bentuk kontribusi yang dapat diberikan kepada masyarakat, sekaligus menyusun peluang kolaborasi di masa mendatang.

Rida Badriah, Alumni Beasiswa Bakti Nusa Angkatan 14 asal Bogor, menilai pertemuan tersebut memberikan kesempatan bagi alumni untuk menyampaikan berbagai gagasan. Ia berharap forum serupa dapat dilaksanakan secara berkala, baik setiap enam bulan maupun satu tahun sekali, sehingga komunikasi dan kolaborasi antaralumni dapat terus berkembang.

“Ini menarik sekali karena memberikan ruang untuk berdiskusi. Kami sempat membahas banyak ide besar dari alumni yang lahir dalam forum ini. Harapannya, Kongres Kemandirian dan Temu Alumni ini bisa dilakukan setiap enam bulan atau satu tahun sekali,” ucap Rida Badriah, Alumni Beasiswa Bakti Nusa Angkatan 14 asal Bogor, Jawa Barat.

Dukungan terhadap agenda kemandirian juga disampaikan Wakil Ketua Komisi X DPR RI Kurniasih Mufidayati. Ia menilai pembangunan ekonomi memiliki hubungan erat dengan kemajuan pendidikan. Karena itu, kontribusi lembaga seperti Dompet Dhuafa dalam bidang pendidikan dinilai perlu terus diperluas, termasuk bagi masyarakat di wilayah terpencil.

“Dompet Dhuafa saya tahu sangat ketat terhadap pendidikan dan sudah berkontribusi besar terhadap dunia pendidikan di Indonesia, baik lewat beasiswa maupun isu-isu lainnya. Kita terus dorong Dompet Dhuafa agar kontribusinya semakin besar untuk pembangunan pendidikan di Indonesia, khususnya di daerah-daerah terpencil,” ujar Kurniasih.

Melalui Kongres Kemandirian, Dompet Dhuafa berupaya memperkuat jejaring, menghimpun gagasan, dan membuka ruang kolaborasi lintas sektor. Para alumni penerima beasiswa diharapkan tidak berhenti sebagai penerima manfaat, tetapi berkembang menjadi individu yang mampu menciptakan manfaat baru bagi masyarakat.

Kegiatan tersebut sekaligus menegaskan bahwa kemandirian tidak hanya dibangun melalui bantuan, tetapi juga melalui pendidikan, kepercayaan, jejaring, gotong royong, dan keberanian untuk mengambil peran. Dari pertemuan para alumni dan berbagai elemen masyarakat tersebut, diharapkan lahir langkah nyata yang dapat memperkuat kemandirian masyarakat serta membawa dampak yang lebih luas bagi Indonesia.

Kontributor: Raeihan

Editor: MAS

Sumber: www.dompetdhuafa.org  




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment