- Hujan di Qusra
- Di Bawah Langit Sudan
- BEI Perluas Wakaf Saham melalui SOTS
- Baznas Sukoharjo Bantu 200 Mustahik
- Investasi Wakaf Produktif atasi Krisis Pangan dan Energi
- HUT RI, Baznas Pacitan Tebar Zakat ke Tukang Becak
- BI Buka Beasiswa Kebanksentralan
- UI dan Baznas Bangun Ekosistem Zakat Seniman
- Sawahlunto, 866 Mustahik Dizakati Rp676 Juta
- Kemenag Bentuk Tim Pangawas Baznas
Hujan di Qusra
Oleh: Yola

Keterangan Gambar : Foto : Ilustrasi AI
Malam itu, hujan turun di Qusra, seperti air mata yang tumpah dari langit lalu menggenangi tanah Palestina.
Bukan gerimis yang biasa membuat anak-anak berlari keluar gubuk nan berdebu sambil tertawa. Hujan malam itu turun bersama suara langkah kaki, teriakan, dan dentuman yang membuat kaca-kaca jendela bergetar.
Maryam memeluk adiknya, Yusuf, erat-erat.
Baca Lainnya :
Anak laki-laki berusia tujuh tahun itu terus bertanya hal yang sama.
“Ummi, mereka mau apa?”
Maryam tidak menjawab.
Ia hanya memandang ayahnya yang berdiri di dekat jendela. Wajah lelaki tua itu pucat. Tangannya gemetar ketika melihat beberapa orang bersenjata berdiri di halaman rumah mereka.
Beberapa hari sebelumnya, orang-orang itu mulai mendirikan bangunan kecil di dekat rumah mereka. Mereka datang membawa kayu, seng, dan peralatan. Mereka mengatakan tanah itu akan menjadi milik mereka.
Ayah Maryam menolak.
“Ini rumah kami,” katanya.
Rumah itu memang sederhana. Dindingnya tidak lagi putih karena debu. Atapnya pernah bocor berkali-kali. Di belakang rumah hanya ada kebun kecil tempat ayah Maryam menanam zaitun.
Namun bagi keluarga itu, rumah tersebut bukan sekadar bangunan.
Di sanalah Maryam dilahirkan.
Di sanalah ibunya meninggal.
Di sanalah Yusuf belajar mengucapkan kata “Allah”.
Dan di bawah pohon zaitun tua, ayah mereka pernah berkata,
“Selama kita masih punya rumah, Nak, kita masih punya tempat untuk pulang.”
Malam itu, kalimat tersebut terasa seperti sesuatu yang hampir mustahil.
Pagi berikutnya, rumah itu sudah tidak lagi menjadi milik mereka.
Keluarga Maryam terpaksa pergi hanya dengan pakaian yang melekat di tubuh.
Yusuf membawa sebuah mobil-mobilan kayu.
Maryam membawa tas kecil berisi Al-Qur'an milik ibunya.
Sementara ayah mereka membawa kunci rumah.
“Untuk apa kuncinya, Abi?” tanya Maryam.
Lelaki tua itu menggenggam kunci tersebut erat.
“Karena suatu hari nanti kita akan kembali.”
Maryam menatap ayahnya.
Ia tahu mereka sedang berusaha saling menguatkan.
Padahal keduanya sama-sama takut.
Mereka berjalan bersama keluarga-keluarga Palestina lainnya. Ada yang membawa selimut. Ada yang menggendong bayi. Ada yang menyeret koper tua. Ada pula yang tidak membawa apa-apa.
Di kejauhan, rumah-rumah yang mereka tinggalkan masih terlihat.
Rumah yang dibangun puluhan tahun.
Rumah yang menyimpan foto keluarga.
Rumah yang menyimpan buku sekolah.
Rumah yang menyimpan kenangan.
Semuanya perlahan menjadi sesuatu yang hanya bisa mereka lihat dari kejauhan.
Hari-hari berikutnya menjadi semakin sulit.
Makanan semakin sedikit.
Air bersih sulit diperoleh.
Anak-anak mulai sering sakit.
Maryam melihat Yusuf semakin kurus.
Suatu sore, Yusuf bertanya,
“Ummi, kapan kita pulang?”
Maryam tersenyum.
“Sebentar lagi, Nak.”
Padahal dia sendiri tidak tahu kapan.
Malamnya, setelah Yusuf tertidur, Maryam menangis dalam diam.
Ayahnya duduk di sampingnya.
“Jangan menangis di depan Yusuf,” katanya pelan.
“Aku takut, Abi.”
“Aku juga.”
Itulah pertama kalinya Maryam mendengar ayahnya mengaku takut.
Lelaki yang selama ini selalu terlihat kuat itu menundukkan kepala.
“Tapi kita tidak boleh kehilangan harapan.”
Ribuan kilometer dari Qusra, di sebuah masjid kecil di Indonesia, seorang lelaki bernama Hasan sedang menghitung uang di atas meja.
Uang itu berasal dari kotak infak.
Ada uang receh.
Ada lembaran sepuluh ribu.
Dua puluh ribu.
Lima puluh ribu.
Dan beberapa lembar seratus ribu.
Tidak banyak.
Namun bagi Hasan, setiap rupiah memiliki cerita.
Ada seorang pedagang yang menyisihkan sebagian keuntungan hari itu.
Ada seorang ibu yang memasukkan uang belanja yang berhasil dihemat.
Ada seorang anak kecil yang memasukkan uang tabungannya.
Ada pula seorang petani yang setiap musim panen menyisihkan sebagian hasilnya untuk zakat.
“Pak, cukup nggak untuk bantu Palestina?” tanya anak Hasan.
Hasan tersenyum.
“Kalau cuma dilihat dari jumlahnya, mungkin kelihatan kecil.”
“Terus?”
“Yang besar itu bukan cuma jumlah uangnya. Tapi ketika banyak orang mau berbagi.”
Anaknya terdiam.
Hasan kemudian membuka laporan lembaga zakat yang bekerja sama dengan komunitas kemanusiaan.
Dana yang terkumpul akan digunakan untuk kebutuhan warga Palestina: makanan, air bersih, obat-obatan, perlengkapan bayi, bantuan keluarga yang kehilangan tempat tinggal, serta dukungan pendidikan bagi anak-anak.
Hasan menatap layar cukup lama.
Ia teringat satu kalimat yang pernah disampaikan ustaz di masjidnya:
“Zakat bukan hanya tentang mengeluarkan sebagian harta. Zakat adalah cara kita memastikan bahwa penderitaan orang lain tidak menjadi sesuatu yang kita anggap biasa.”
Beberapa pekan kemudian, sebuah distribusi bantuan tiba di tempat pengungsian.
Maryam sedang membagikan roti kepada anak-anak ketika sebuah truk berhenti.
Di atas kardus-kardus itu tertulis nama sebuah lembaga kemanusiaan.
Di dalamnya ada makanan.
Air.
Obat-obatan.
Selimut.
Perlengkapan sekolah.
Dan paket khusus untuk keluarga yang kehilangan rumah.
Yusuf berlari mendekat.
“Ummi!”
Maryam menoleh.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, mata Yusuf terlihat sedikit lebih cerah.
Ia mendapatkan sebuah buku gambar.
Di halaman pertama, Yusuf langsung menggambar rumah.
Sebuah rumah kecil.
Ada pohon zaitun di sampingnya.
Ada matahari.
Ada seorang anak berdiri di depan pintu.
Maryam memperhatikan gambar itu.
“Siapa ini?”
“Yusuf.”
“Terus rumahnya?”
“Rumah kita.”
Maryam terdiam.
“Bukannya rumah kita sudah diambil?”
Yusuf menggeleng.
“Rumahnya bisa diambil, Ummi.”
Ia menunjuk dadanya.
“Tapi rumahnya masih di sini.”
Maryam tidak mampu berkata-kata.
Ia memeluk anaknya erat-erat.
Bantuan itu tidak mengembalikan rumah mereka.
Bantuan itu juga tidak langsung menghentikan penderitaan yang mereka alami.
Tetapi bantuan tersebut membuat mereka mampu bertahan satu hari lagi.
Dan terkadang, bagi orang yang sedang kehilangan segalanya, kemampuan untuk bertahan satu hari lagi adalah sebuah bentuk kemenangan.
Zakat yang dibayarkan seorang petani di Indonesia berubah menjadi makanan untuk sebuah keluarga.
Infak seorang pedagang berubah menjadi obat.
Sedekah seorang anak berubah menjadi buku.
Donasi seseorang yang mungkin bahkan tidak pernah bertemu orang Palestina berubah menjadi selimut untuk seorang bayi yang tidur dalam dingin.
Jarak yang ribuan kilometer ternyata tidak cukup jauh untuk memisahkan manusia dari rasa kemanusiaan.
Suatu malam, ayah Maryam memanggil anak-anaknya.
Ia mengeluarkan sesuatu dari sakunya.
Sebuah kunci.
Kunci rumah mereka.
“Abi masih menyimpannya?” tanya Maryam.
Ayahnya mengangguk.
“Kita belum pulang,” katanya.
Yusuf menatap kunci itu.
“Kalau rumahnya sudah tidak ada bagaimana?”
Ayahnya tersenyum tipis.
“Kalau rumahnya tidak ada, kita bangun lagi.”
“Dengan apa?”
Ayahnya menatap langit.
“Dengan tangan kita.”
Ia kemudian menambahkan,
“Dan dengan doa orang-orang yang tidak pernah berhenti peduli kepada kita.”
Maryam menatap ayahnya.
Untuk sesaat, ia membayangkan sebuah hari ketika mereka kembali ke tanah mereka.
Hari ketika Yusuf kembali berlari di bawah pohon zaitun.
Hari ketika suara azan kembali terdengar tanpa rasa takut.
Hari ketika rumah mereka kembali menjadi tempat pulang.
Ia tahu hari itu mungkin masih jauh.
Namun malam itu, untuk pertama kalinya setelah kehilangan rumah, Maryam tidak menangis.
Ia membuka Al-Qur'an peninggalan ibunya.
Lalu membaca perlahan:
“Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya.”
Di tempat yang jauh, orang-orang mungkin hanya melihat angka dalam laporan penghimpunan zakat dan donasi.
Namun bagi Maryam, angka-angka itu memiliki wajah.
Ada wajah Yusuf.
Ada wajah ayahnya.
Ada wajah anak-anak yang menunggu makanan.
Ada wajah para ibu yang berharap anak-anak mereka tetap hidup.
Dan di tengah kehancuran yang begitu panjang, zakat dan filantropi Islam menjadi satu pesan sederhana:
Kalian mungkin kehilangan rumah, tetapi kalian tidak kehilangan saudara.
Karena selama masih ada tangan yang memberi, doa yang dipanjatkan, dan hati yang menolak untuk berpaling dari penderitaan sesama manusia, harapan belum benar-benar mati.
Malam itu, hujan turun di Qusra, seperti air mata yang tumpah dari langit lalu menggenangi tanah Palestina.(*)










.png)
.png)