- BAZNAS Mataram Pugar 56 Rumah Mustahik
- Islamic Relief Bantu Korban Banjir Bangladesh
- Belajar Pangkas Gratis di MUI Tangerang
- Mengenal Tradisi Waris Sebelum Kematian
- Filantropi Islam Indonesia Harus Mendunia
- Fikroh, Manhaj, dan Harakah Nahdhiyyah dalam Perspektif KH Maruf Amin
- RZ Perkuat Ketahanan Pangan Mustahik
- Jurnalisme Filantropi: Revitalisasi Peran Media untuk Visi Kesejahteraan Umat
- Ini Beasiswa Tendik untuk Studi di Inggris
- Muhammadiyah Terima Wakaf Pesantren
Jurnalisme Filantropi: Revitalisasi Peran Media untuk Visi Kesejahteraan Umat
Oleh: Muhamad Bagus Siddiq Pamungkas (Mahasiswa Gunadarma)

Keterangan Gambar : Foto: Dok. Suaraaisyiyah.id
Pada resepsi milad ke-24 Lazismu yang berlangsung di Gedung Perpustakaan Nasional, Jakarta, belum lama ini, Majalah Suara Muhammadiyah bekerja sama dengan Lazismu resmi merilis buku berjudul "Jurnalisme Filantropi, Media dan Visi Kesejahteraan".
Bedah buku setebal 345 halaman tersebut dihadiri oleh penulis Roni Tobroni, Pemimpin Redaksi Republika Andi Muhyidin, Direktur Penanggulangan Kemiskinan dan Kesejahteraan Sosial Bappenas RI Tirta Sutedjo, serta Peneliti Filantropi Islam Amelia Fauzia yang masing-masing mengupas isi karya dari sudut pandang mereka.
Baca Lainnya :
- Surat-Surat Cinta Islami: Dialog Gus Nadir0
- Filantropi Islam: Sejarah Kontestasi Masyarakat Sipil dan Negara0
Penulis menjelaskan bahwa buku ini dilatarbelakangi oleh dua guncangan intellectual, yakni disrupsi dalam jurnalisme serta belum terhubungnya tradisi kedermawanan masyarakat Indonesia secara optimal dengan media massa.
“Buku ini digagas untuk menjembatani dua kegelisahan itu. Tetapi diksi jurnalisme filantropi, menjadi sebuah kajian keilmuan baru yang interdisiplin dan melahirkan cara pandang, pendekatan dan konsep baru dalam bidang jurnalisme,” ujar dia.
Roni mengungkapkan bahwa jurnalisme filantropi tidak sekadar memberikan warta. Perannya tidak berhenti pada pencatatan informasi aksi sosial atau pemberitaan penderitaan sesama, tetapi juga mengawal latar belakang masalah, menggerakkan kedermawanan, serta mendorong aksi bersama demi menghadirkan solusi.
“Oleh karena itu, ukuran keberhasilan jurnalisme filantropi bukan pada banyaknya berita, bukan pada seberapa viral, tetapi pada seberapa besar dampak yang dihadirkan bagi kehidupan sosial masyarakat,” ujar dia.
Memberikan tanggapan, Pemimpin Redaksi Republika Andi Muhyidin menyebut karya ini ingin menjadi penghubung antara pihak yang membutuhkan uluran tangan dengan masyarakat yang ingin memberi. “Karya Mas Roni ini akan sangat membantu. Buku ini berhasil merangkum, menceritakan tahap demi tahap dan juga bagaimana kemudian jurnalisme filantropi itu diterapkan,” papar dia.
Andi menjelaskan bahwa jurnalisme filantropi berarti mengabarkan, memunculkan empati, lalu merealisasikan aksi. “Kondisi itu yang sedang dilakukan oleh media-media besar. Mereka sedang bergerak ke arah sana, tapi kita juga perlu berdiskusi lebih lanjut soal ini,” ungkap dia.
Direktur Penanggulangan Kemiskinan dan Kesejahteraan Sosial Bappenas RI, Tirta Sutedjo, berpendapat bahwa jurnalisme filantropi berpotensi besar membangun kepercayaan publik sekaligus menggerakkan isu sosial yang disertai tawaran solusi.
“Kita memiliki agenda besar tahun 2045, tepatnya 100 tahun Indonesia Merdeka. Harapannya, kita sudah menjadi negara maju. Artinya tidak ada kemiskinan lagi dan seluruh masyarakat Indonesia sudah sejahtera,” ungkap dia.
Tirta menilai jurnalisme filantropi harus mengambil peran lebih jauh, salah satunya dengan menghapus pelabelan negatif terhadap kelompok rentan. “Ini menjadi tugas kita bersama. Baik pemerintah, masyarakat, jurnalis, dan media perlu bergandeng tangan sehingga agenda bersama ke depan bisa berjalan dengan baik dan lancar,” tutur dia.
Dari sudut pandang peneliti filantropi Islam, Amelia Fauzia mengutarakan bahwa tradisi kedermawanan telah mengakar kuat di Indonesia, baik filantropi yang memicu lahirnya jurnalisme maupun jurnalisme yang melahirkan lembaga filantropi. “Ada Republika yang melahirkan Dompet Dhuafa. Ada Muhammadiyah yang melahirkan koran ataupun Suara Muhammadiyah. Ini sebagian contoh saja. Mungkin di luar Indonesia lebih banyak lagi,” papar dia.
Amelia menegaskan pentingnya penyusunan kode etik bagi jurnalisme filantropi agar ada standar yang jelas dalam meliput, mengawal, dan mengadvokasi isu sosial. “Bagaimana seorang jurnalis menjaga independensi jurnalistik. Paling tidak tetap saja jurnalisme filantropi harus ada kode etiknya. Bagaimana menyeimbangkan fungsi advokasi dengan prinsip-prinsip verifikasi, independensi, dan integritas,” tandas dia.
Sementara itu, Direktur Utama PT Syarikat Cahaya Media, Deni Asy’ari, menegaskan bahwa kehadiran insan pers bertujuan untuk mencerahkan, memperkaya wawasan, serta memberdayakan publik, bukan sekadar menyampaikan warta.
“Kita berharap buku yang ditulis Kang Roni Tabroni ini, peran pers ke depan tidak sekadar mengungkap fakta, tetapi mulai membangun empati, memberi inspirasi, dan mengkoordinasi potensi, dan mengkonsolidasi sumber daya, termasuk di lingkungan Lazismu,” jelas dia.
Deni optimis bahwa pengintegrasian kekuatan jurnalisme dengan potensi ekonomi seperti zakat, infak, dan sedekah akan melahirkan dampak yang sangat besar. “Kami berharap buku ini memberi pengaruh bahwa dunia pers tidak melulu soal berita, tapi ke depan, dunia pers bisa menginspirasi, membangun empati, dan mengkonsolidasikan potensi-potensi besar secara ekonomi dan juga memberikan solusi untuk membangun negeri ini,” tandas dia.
Peluncuran buku tersebut menjadi momentum penting untuk memperkenalkan pemikiran kritis terkait peran media dalam memperkuat gerakan kedermawanan dan mewujudkan kesejahteraan sosial.
Kontributor: Siddiq
Editor: MAS
Sumber:











.png)
.png)