Yang Karam di Ujung September
Oleh: Afriza Nur

By Revolusioner 22 Sep 2026, 08:46:56 WIB Cerpen
Yang Karam di Ujung September

Keterangan Gambar : Foto: Ilustrasi AI


Malam itu, langit di atas pelabuhan begitu kelam, seolah tahu ada sesuatu yang akan terjadi. Anindya berdiri di dek kapal Libra, menggenggam erat selendang tipis yang melilit lehernya. Angin laut menerpa wajahnya, membawa aroma garam dan kerinduan yang tak pernah selesai. Di sampingnya, Bara—lelaki yang sudah lima tahun menjadi rekan sekaligus cintanya—menatap cakrawala dengan mata yang berkaca-kaca.

“Kita akan sampai di sana besok pagi,” bisik Bara, suaranya hampir kalah oleh debur ombak. “Anak-anak di panti itu sudah menunggu. Mereka bilang, mereka ingin melihat matahari terbit bersama kita.”

Anindya tersenyum, tapi senyum itu getir. Ia tahu, perjalanan ini bukan sekadar misi filantropi. Ini adalah pelarian dari segala luka yang tak pernah mereka bicarakan. Bara, yang selama ini menjadi tulang punggung yayasan mereka, baru saja divonis mengidap penyakit jantung yang tak bisa disembuhkan. Anindya, yang selalu tampak tegar, menyimpan rahasia bahwa ia sedang hamil—dan ia belum sempat memberitahu Bara.

“Bara,” panggil Anindya pelan. “Kalau nanti kita sampai, aku ingin kita menikah di depan anak-anak itu. Mereka bilang, mereka ingin melihat kita bahagia.”

Bara menoleh. Matanya yang lelah tiba-tiba berbinar. “Kau serius?”

Anindya mengangguk. Air matanya jatuh, tapi ia cepat menghapusnya. “Aku tidak ingin menunda lagi. Aku takut... kalau kita terus menunda, kita tak pernah sempat.”

Bara meraih tangan Anindya, menggenggamnya erat. “Kita akan menikah. Di atas kapal ini, atau di mana pun. Aku akan menjadi suamimu, Anindya. Meski hanya sebentar.”

Malam itu, mereka duduk di dek, bersandar pada tiang kapal yang dingin. Bara bercerita tentang masa kecilnya, tentang betapa ia selalu bermimpi menjadi pahlawan. Anindya tertawa, lalu menangis. Mereka berdua tahu, waktu mereka tidaklah panjang.

Pukul dua pagi, kapal Libra tiba-tiba berguncang hebat. Suara alarm memecah keheningan. Penumpang berlarian, panik. Air mulai memasuki dek bawah. Bara dan Anindya saling menatap. Mereka tahu, ini bukan latihan.

“Anindya, kau harus naik ke sekoci!” seru Bara, mendorong tubuh Anindya ke arah sekoci yang mulai dipenuhi orang.

“Tidak! Aku tidak mau meninggalkanmu!” Anindya meronta, air matanya bercampur air laut yang mulai naik.

Bara memegang wajah Anindya dengan kedua tangannya. “Dengar aku. Kau membawa sesuatu yang lebih berharga dari hidupku. Kau membawa masa depan. Anak kita.”

Anindya terisak. “Kau tahu?”

“Aku tahu sejak lama,” bisik Bara, tersenyum lemah. “Aku hanya menunggu kau memberitahuku.”

Air semakin tinggi. Kapal miring. Bara mendorong Anindya ke sekoci, memastikan ia duduk di antara perempuan dan anak-anak. Anindya meraih tangan Bara, tapi Bara melepaskannya.

“Aku akan menyusul,” kata Bara. Tapi matanya berkata lain.

Sekoci diturunkan. Anindya menangis histeris, memanggil nama Bara berkali-kali. Bara berdiri di dek yang semakin tenggelam, melambaikan tangan. Senyumnya adalah senyum terakhir yang Anindya lihat sebelum kapal Libra benar-benar hilang di bawah laut.

***

Pagi itu, kabar tentang KM Libra Transport kembali datang. Dua jenazah ditemukan pada pekan pertama. Satu ditemukan di Pantai Bayan, Laut Tengah, sementara satu lainnya ditemukan di badan kapal oleh tim SAR.

Bagi sebagian orang, kabar itu mungkin hanya sebuah pembaruan mengenai operasi pencarian. Namun bagi keluarga yang masih menunggu, setiap jenazah yang ditemukan membawa dua kemungkinan sekaligus: kepastian bagi satu keluarga dan ketakutan bagi keluarga lainnya.

Total korban meninggal dunia kini mencapai 15 orang.

Sementara itu, 108 penumpang berhasil diselamatkan dan 120 lainnya masih dalam pencarian.

Di sebuah rumah, seorang ibu bernama Mira duduk di depan televisi sambil menggenggam ponselnya erat-erat. Sejak kapal itu tenggelam, benda tersebut hampir tak pernah lepas dari tangannya. Setiap notifikasi membuat jantungnya berdegup lebih cepat.

Di sampingnya, anak laki-lakinya terus menunggu.

“Bu, Ayah belum ditemukan?”

Mira menatap anaknya beberapa saat sebelum menjawab.

“Belum, Nak. Ayah masih dicari.”

Anak itu mengangguk. Ia kemudian kembali memeluk tas kecil milik ayahnya yang sejak hari pertama tak pernah ia lepaskan.

Bagi Mira, dua kata “masih dicari” menjadi alasan untuk tetap berharap.

Di lokasi pencarian, tim SAR terus bergerak. Penemuan jenazah di Pantai Seruyan langsung dikoordinasikan dengan Kantor SAR Palangkaraya untuk proses evakuasi menuju RS Bhayangkara Banjarmasin.

“Ada penemuan dari korban KM Libra yang ditemukan di Pantai Bayan. Kami koordinasikan dengan kantor SAR Palangka, jenazah dievakuasi dalam perjalanan menuju RS Madangkara,” kata Kepala SAR Mission Coordinator (SMC).

Jenazah lain yang ditemukan di sekitar badan kapal juga dievakuasi oleh Tim SAR Gabungan. Proses evakuasi dipercepat menggunakan helikopter tim SAR yang mendarat di Bandara Syamsudin Noor Banjarmasin.

Bagi petugas, evakuasi adalah tugas yang harus diselesaikan.

Namun bagi keluarga korban, setiap helikopter yang mendarat membawa harapan sekaligus ketakutan.

Malam kembali turun.

Mira masih menatap layar ponselnya.

Tidak ada pesan baru.

Tidak ada panggilan.

Ia membuka percakapan terakhir dengan suaminya. Pesan itu sederhana, seperti percakapan pada hari-hari biasa.

“Jaga anak-anak, ya.”

Hanya itu.

Mira mengusap layar ponselnya perlahan.

“Kamu di mana sekarang?” bisiknya.

Tidak ada jawaban.

Di kamar sebelah, anaknya tertidur sambil memeluk tas biru milik ayahnya.

Mira berjalan menghampiri, membenarkan selimut, lalu mencium kening anaknya.

Ia ingin menangis, tetapi menahannya.

Sebab ia tahu, selama 120 penumpang masih dalam pencarian, masih ada keluarga yang sama sepertinya.

Masih menunggu.

Masih berharap.

Masih percaya bahwa orang yang mereka cintai akan ditemukan.

Di laut, pencarian kembali dilanjutkan.

Perahu-perahu bergerak menyisir wilayah yang luas. Para petugas menatap permukaan air, mencari tanda sekecil apa pun.

Tidak ada yang tahu berapa lama pencarian akan berlangsung.

Tidak ada yang tahu berapa banyak nama lagi yang akan ditemukan.

Yang mereka tahu, masih ada 120 penumpang yang belum mendapatkan kepastian.

Dan di daratan, ada ratusan mata yang terus menunggu.

Menunggu suara telepon berdering.

Menunggu seseorang mengetuk pintu.

Menunggu satu kabar yang dapat mengakhiri ketidakpastian.

Bagi mereka, laut bukan lagi sekadar hamparan air.

Laut telah menjadi tempat di mana harapan dan kehilangan bertemu.

Dan selama pencarian belum berakhir, tidak ada keluarga yang benar-benar bisa berhenti berharap.

Malam itu, Mira kembali duduk di depan pintu.

Tas biru milik suaminya masih berada di sampingnya.

Ia memeluk tas itu erat-erat.

“Pulanglah,” ucapnya lirih.

Laut tetap diam.

Tetapi pencarian masih berlanjut.

***

Lima tahun kemudian.

Anindya duduk di beranda rumah kecilnya di tepi pantai. Seorang anak perempuan bermata bening berlari menghampirinya, membawa selembar foto yang sudah usang.

“Bu, ini siapa?” tanya anak itu, menunjuk sosok lelaki yang tersenyum di dalam foto.

Anindya menatap foto itu lama. Air matanya jatuh, tapi ia tersenyum.

“Itu Ayah,” jawabnya pelan. “Ayah yang tidak sempat Ayah lihat.”

Anak itu mengangguk, lalu memeluk ibunya.

“Ayah di mana sekarang, Bu?”

Anindya menatap laut yang membentang di depan rumahnya. Laut yang tenang, laut yang diam, laut yang tak pernah selesai menyimpan nama.

“Ayah ada di sana,” bisik Anindya. “Di tempat yang paling dalam. Di tempat yang paling dingin. Tapi Ayah selalu bersama kita.”

Anak itu memeluk Anindya erat-erat.

“Bu, jangan menangis,” katanya, mengusap pipi ibunya. “Ayah bilang, Ayah akan selalu menjaga kita.”

Anindya tersenyum. Tapi senyum itu adalah senyum yang paling patah yang pernah ada.

Di kejauhan, ombak memecah di pantai. Angin membawa aroma garam, aroma yang sama seperti malam itu—malam terakhir di dek Libra.

Anindya menutup mata. Ia membayangkan Bara berdiri di dek kapal, melambaikan tangan, tersenyum. Senyum yang tidak pernah ia lupakan.

“Selamat jalan, cintaku,” bisiknya. “Aku akan menua sendiri. Tapi aku akan menjaga anak kita. Aku akan bercerita tentangmu, tentang Libra, tentang cinta yang tak sempat pulang.”

Dan di dalam hatinya, ia tahu, selama laut masih menyimpan nama, selama itu pula Bara akan hidup—di dalam dirinya, di dalam anaknya, di dalam setiap tetes air mata yang jatuh di pantai. (*)




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment