Kampung yang Menunggu Hujan
Oleh: Raeihan Ramadhan

By Revolusioner 03 Nov 2026, 01:16:59 WIB Cerpen
Kampung yang Menunggu Hujan

Keterangan Gambar : Foto: Dok. Ilustrasi AI


Pada hari ketika air mulai mundur, orang-orang di Cibunar mengira waduk sedang menarik napas.

Mula-mula, garis air bergeser sedikit dari batu penanda di dekat dermaga. Lalu lumpur kecokelatan muncul selebar telapak tangan. Beberapa hari kemudian, perahu-perahu nelayan terpaksa ditarik lebih jauh ke tengah, sementara anak-anak menemukan tanah keras yang selama ini hanya mereka dengar dalam cerita orang tua.

“Dulu jalan kampung lewat sini,” kata seorang lelaki tua kepada cucunya.

Baca Lainnya :

Anak itu menatap hamparan tanah yang retak. “Jalan yang mana, Kek?”

Lelaki tua itu tidak menjawab. Ia menunjuk ke arah sekelompok dinding yang muncul dari permukaan waduk, berdiri miring seperti orang-orang yang terlalu lama menunggu.

Kampung Cibunar telah ditinggalkan tiga tahun sebelumnya, ketika pemerintah membangun Bendungan Sagara. Rumah-rumahnya tidak seluruhnya dibongkar. Ada yang kehilangan atap, ada yang tinggal separuh dinding, ada pula yang masih menyimpan kusen jendela. Setelah air naik, semuanya lenyap dari pandangan. Orang-orang pindah ke permukiman baru di bukit, membawa lemari, kasur, ayam, dan benda-benda yang dapat mereka angkut. Yang tertinggal hanyalah tanah, makam, dan suara yang tidak ikut pindah.

Kini, kemarau panjang membuat air waduk surut. Tanah Cibunar muncul kembali, pecah-pecah seperti kulit tua.

Mira melihatnya dari jendela rumah kontrakan di Kampung Baru. Ia sedang menjemur seragam sekolah anaknya ketika kabar itu datang melalui grup pesan warga. Seseorang mengirim foto masjid lama yang masih berdiri. Di bawahnya tertulis: Cibunar muncul lagi.

Mira memperbesar gambar. Kubah masjid itu tampak kusam, tetapi menaranya masih tegak. Di halaman yang dahulu ditumbuhi pohon sawo, kini hanya ada tanah retak dan batang-batang kering.

Ia mengenali bentuk jendela di sisi timur.

Di sana, ibunya pernah duduk setiap sore, menunggu Mira pulang mengaji.

Mira menurunkan ponsel. Angin membawa debu dari jalan, menempel di jemuran yang belum kering. Dari dapur, anaknya memanggil meminta uang untuk membeli buku gambar. Mira menjawab sebentar lagi, lalu kembali memandangi foto itu.

Sejak pindah, ia jarang menyebut nama Cibunar. Bukan karena lupa. Justru karena terlalu banyak yang masih ia ingat.

Pada 2023, ketika petugas datang membawa peta dan surat pemberitahuan, Mira masih tinggal bersama ibunya di rumah berdinding bata merah. Rumah itu tidak besar, tetapi setiap ruang memiliki nama sendiri dalam ingatan mereka. Dapur adalah tempat ibunya menggoreng ikan asin. Serambi adalah tempat ayahnya memperbaiki jaring. Di belakang rumah, ada pohon sawo yang akarnya menembus pagar bambu.

Orang-orang berkumpul di balai kampung. Seorang petugas menjelaskan bahwa wilayah mereka akan menjadi bagian dari genangan waduk. Bendungan itu akan menyimpan air untuk kebutuhan banyak orang, mengairi sawah, dan membantu memenuhi kebutuhan kota-kota yang terus tumbuh. Ia berbicara dengan suara jelas, sesekali menunjuk garis pada peta.

Mira duduk di samping ibunya. Di pangkuan perempuan itu, sebuah tas kain berisi surat-surat tanah dan foto keluarga.

“Kalau rumah kita tenggelam, pohon sawo bagaimana?” tanya ibunya setelah pertemuan.

Mira tidak tahu harus menjawab apa. Ia ingin mengatakan pohon itu akan tetap hidup, bahwa akar-akar akan menemukan jalan di bawah air. Namun, ia pernah melihat pohon yang tumbang hanya karena tanah di sekitarnya digali.

“Barangkali nanti tumbuh lagi, Bu.”

Ibunya tersenyum kecil. “Pohon tidak bisa pindah seperti kita.”

Pada bulan-bulan berikutnya, rumah-rumah mulai dikosongkan. Beberapa keluarga membongkar genteng dan kusen untuk digunakan kembali. Ada yang menjual kayu, ada yang menyimpan batu bata di halaman rumah baru. Mira membantu ibunya mengemas piring-piring ke dalam kardus bekas minyak goreng.

Ketika mereka meninggalkan Cibunar, ibunya membawa sebuah pot kecil berisi tanah dari halaman. Di dalamnya tidak ada tanaman. Hanya tanah hitam dan sepotong akar sawo.

“Untuk apa dibawa?” tanya Mira.

“Supaya kita tahu dari mana kita berasal.”

Mira mengangkat pot itu ke dalam mobil bak terbuka. Di belakang mereka, kampung mulai sunyi. Tidak ada suara lesung, tidak ada anak-anak berlari, tidak ada orang memanggil dari pagar. Hanya bunyi mesin kendaraan dan sesekali suara burung yang terbang rendah.

Di Kampung Baru, rumah mereka berdiri dalam barisan yang seragam. Dindingnya dicat krem. Jalan di depannya lebih lebar daripada jalan Cibunar, tetapi tidak ada pohon yang cukup besar untuk memberi teduh. Pada awalnya, Mira menyukai keran air yang mengalir tanpa harus menimba. Ia menyukai kamar mandi yang tidak lagi berlantai tanah. Anak-anak bisa belajar di meja, bukan di tikar yang digelar di ruang tengah.

Namun, beberapa hal tidak ikut menjadi lebih mudah.

Ibunya sering terbangun sebelum subuh, lalu berjalan ke pintu. Ia berdiri di sana, memandang jalan yang masih gelap, seolah menunggu seseorang pulang dari sawah. Ketika Mira bertanya, ibunya hanya mengatakan bahwa udara di rumah baru terlalu pengap.

Pada tahun kedua, ibunya meninggal setelah sakit yang tidak lama. Sebelum dikuburkan, Mira meletakkan pot kecil berisi tanah Cibunar di dekat ranjang. Ia tidak tahu apakah ibunya sempat melihatnya.

Sejak itu, pot tersebut diletakkan di atas lemari. Akar sawo di dalamnya mengering, berubah menjadi serpihan yang mudah patah. Mira tidak membuangnya.

Ketika air waduk mulai naik, ia beberapa kali melihat permukaan bendungan dari jalan utama. Air itu tampak tenang, memantulkan langit dan bukit. Ia tahu di bawahnya ada kampung, tetapi ia tidak membayangkan kampung itu masih utuh dalam bentuk apa pun. Ia mengira air telah menghapus semuanya, seperti tinta yang tumpah di atas tulisan.

Pagi setelah foto masjid lama beredar, Mira meminta izin tidak masuk kerja. Ia menitipkan anaknya kepada tetangga, lalu naik kendaraan menuju waduk.

Di tepi bendungan, beberapa orang sudah berkumpul. Ada yang membawa kamera, ada yang berjalan dengan sandal jepit, ada pula yang berdiri lama tanpa bicara. Seorang pedagang menjual kopi dari termos. Bau kopi bercampur dengan aroma lumpur yang terpapar matahari.

Mira berjalan menuruni lereng. Tanahnya keras di beberapa bagian, tetapi licin di bagian lain. Ia melihat sisa dinding rumah, pecahan genteng, dan sebuah sumur yang mulutnya tertutup lumpur. Di kejauhan, masjid lama berdiri dengan dinding yang masih utuh. Pintu kayunya tidak ada. Jendela-jendelanya kosong, membiarkan cahaya masuk tanpa harus meminta izin.

Ia berhenti di depan bekas rumahnya.

Tidak ada atap. Tidak ada pohon sawo. Hanya dua dinding yang membentuk sudut, dan sebuah lubang tempat dahulu mereka menanam bunga melati. Mira berjongkok, menyentuh tanah yang retak. Di sela-selanya ada serpihan kaca berwarna hijau.

Ia mengingat ibunya menyiram melati setiap sore. Air dari gayung jatuh ke tanah, menimbulkan bau yang berbeda dari bau waduk. Bau rumah. Bau sesuatu yang tidak pernah ia sadari sebagai sesuatu yang dapat hilang.

“Bu Mira?”

Ia menoleh. Seorang lelaki kurus berdiri beberapa langkah darinya. Namanya Jaya, tetangga lama yang kini tinggal di Kampung Baru. Ia membawa karung kecil berisi botol plastik yang dipungut dari tepian waduk.

“Tidak menyangka masih ada yang datang,” katanya.

Mira berdiri. “Saya ingin melihat rumah.”

Jaya mengangguk, lalu memandang dinding yang tersisa. “Saya juga sering ke sini. Kadang mencari kayu. Kadang cuma duduk.”

“Masih ingat rumah sendiri?”

Jaya tertawa pendek. “Rumah saya sudah tidak punya dinding. Tapi saya masih ingat suara pintunya.”

Mira menatapnya. “Suara pintu?”

“Kalau angin dari selatan datang, pintu rumah saya selalu berderit tiga kali. Istri saya bilang itu tanda ada tamu. Padahal tidak ada siapa-siapa.”

Mereka tertawa pelan. Tawa itu segera berhenti, seolah keduanya sadar bahwa mereka sedang berdiri di tempat yang tidak lagi bisa disebut rumah.

Di dekat masjid, beberapa orang tua duduk di atas batu. Mereka membicarakan makam yang dulu dipindahkan, tentang pohon-pohon yang hilang, tentang siapa yang paling lama bertahan sebelum meninggalkan kampung. Seorang perempuan menyebut nama tetangga yang telah meninggal. Seorang lelaki menyela, mengatakan bahwa anaknya sekarang bekerja di Serang dan jarang pulang.

Mira mendekati masjid. Di dinding bagian dalam, masih ada bekas cat hijau yang mengelupas. Ia teringat suara azan yang dahulu memantul di antara rumah-rumah, lalu menyusuri sawah. Di serambi, ibunya pernah menunggu setelah pengajian, membawa singkong rebus yang dibungkus daun pisang.

Mira menyentuh dinding itu dengan telapak tangan.

“Kalau air naik lagi, kita tidak akan melihatnya,” kata Jaya dari belakang.

Mira mengangguk.

“Kalau hujan datang, waduk akan penuh.”

Kalimat itu terdengar seperti kabar baik. Namun, Mira memandang masjid dengan perasaan yang sulit diberi nama. Ia tahu waduk dibangun untuk menyimpan air. Ia tahu orang-orang di kota membutuhkan air untuk minum, memasak, dan menjalani hari. Ia sendiri kini membuka keran tanpa harus berjalan ke sumur.

Tetapi ada sesuatu yang tidak bisa ditampung dalam angka kapasitas waduk, sesuatu yang tidak tercantum dalam peta pembangunan. Rumah ibunya bukan sekadar bangunan yang berada di bawah permukaan air. Rumah itu adalah tempat seseorang pernah menunggu, memasak, marah, tertawa, dan memanggil namanya.

Mira bertanya-tanya apakah kehilangan dapat disebut selesai hanya karena seseorang telah menerima ganti rugi dan pindah ke rumah baru.

Sore mulai turun. Langit di atas waduk berubah menjadi warna tembaga. Para pengunjung perlahan kembali ke kendaraan. Mira berjalan ke bekas halaman rumahnya, lalu mengeluarkan pot kecil dari tas yang dibawanya.

Ia telah mengambil pot itu dari atas lemari sebelum berangkat. Tanah di dalamnya sudah mengeras. Akar sawo yang tersisa hampir hancur ketika ia menyentuhnya.

Mira membuka telapak tangan. Beberapa serpihan akar jatuh ke tanah Cibunar.

Ia tidak tahu apakah tindakan itu berarti mengembalikan sesuatu atau sekadar melepaskan benda yang terlalu lama disimpan. Ia menutup pot, lalu meletakkannya di dekat dinding.

Jaya berdiri di tepi jalan lama. “Kita pulang?”

Mira melihat ke arah masjid. Di jendela kosong, cahaya sore masuk dan berhenti di lantai yang tertutup debu. Ia teringat ibunya, bukan sedang sakit atau terbaring di ranjang, melainkan sedang menyiram melati sambil menyenandungkan lagu lama.

“Sebentar,” katanya.

Angin bergerak melewati kampung yang muncul kembali. Debu terangkat dari tanah, berputar sebentar, lalu jatuh. Dari kejauhan terdengar mesin perahu. Di permukaan waduk, air yang tersisa berkilau seperti kaca yang belum pecah.

Mira berdiri di antara dinding rumah dan pot kecil berisi tanah. Ia tahu hujan, jika datang, akan mengisi kembali cekungan-cekungan itu. Air akan naik, menutup jalan, halaman, dan masjid. Kampung Cibunar akan kembali menghilang dari pandangan.

Namun, sebelum semuanya tenggelam, ia ingin mengingatnya sekali lagi—bukan sebagai kampung yang hilang, melainkan sebagai tempat yang pernah mengajarinya bagaimana suara pintu, bau tanah, dan sebatang pohon dapat menjadi bagian dari seseorang.

Ia mengambil pot itu.

Di belakangnya, langit menahan warna terakhir sore. Di hadapannya, waduk menunggu hujan.

Mira belum tahu apakah suatu hari ia akan kembali ketika air telah naik. Ia juga belum tahu apa yang akan ia ceritakan kepada anaknya tentang kampung yang hanya sempat dilihatnya melalui foto.

Ia berjalan perlahan menuju jalan pulang, membawa pot kecil yang kini terasa lebih berat daripada sebelumnya. (*)




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment