Kota yang Berenda Senja
Oleh: Raeihan Ramadhan

By Revolusioner 29 Okt 2026, 01:00:54 WIB Cerpen
Kota yang Berenda Senja

Keterangan Gambar : Foto: Ilustrasi AI


Pukul enam pagi, langit Kota Wanasena masih berwarna abu-abu ketika Raka berdiri di depan kios fotokopi milik pamannya. Di seberang jalan, sebuah gedung perkantoran baru memantulkan cahaya matahari seperti permukaan kaca akuarium. Orang-orang di dalamnya akan bekerja di depan komputer, menghadiri rapat, mengirim surel, dan pulang ketika lampu-lampu jalan menyala. Raka pernah membayangkan dirinya menjadi salah satu dari mereka.

Kini, ia menghabiskan pagi dengan membantu pamannya mengganti toner mesin cetak yang sudah tua.

Di meja kasir tergeletak ijazah sarjana administrasi bisnis dalam map plastik bening. Sudutnya mulai melengkung karena terlalu sering dibawa ke wawancara kerja. Ada noda kopi pada bagian belakang map, tepat di dekat namanya. Raka tak pernah berusaha membersihkannya. Noda itu setidaknya membuktikan bahwa ia pernah membawa ijazah tersebut ke suatu tempat selain rumah.

Baca Lainnya :

“Sudah ada panggilan?” tanya Paman Harun sambil mengangkat kardus kertas.

Raka menggeleng.

“Coba lagi. Orang yang mencari kerja itu harus lebih sabar daripada orang yang menunggu hujan.”

Raka tersenyum tipis. Di luar, matahari mulai mengeringkan genangan. Ia tahu pamannya bermaksud menghibur, tetapi kesabaran tidak pernah tercantum dalam formulir lamaran sebagai pengalaman kerja.

Sejak lulus sebelas bulan lalu, Raka telah mengirim lebih dari seratus lamaran. Ia melamar sebagai staf administrasi, petugas layanan pelanggan, analis penjualan, pengelola media sosial, dan entah berapa posisi lain yang namanya terdengar seperti gabungan dua pekerjaan berbeda. Beberapa perusahaan mengundangnya mengikuti tes. Sebagian meminta pengalaman dua tahun untuk posisi pemula. Yang lain mengirim surel penolakan dengan kalimat yang sama: Kami menghargai minat Anda, tetapi saat ini belum dapat melanjutkan proses.

Pada awalnya, Raka menyimpan semua surel itu. Ia mengira penolakan merupakan bagian dari perjalanan, seperti batu-batu kecil yang harus diinjak sebelum mencapai seberang sungai. Setelah puluhan pesan serupa, ia berhenti membacanya sampai selesai.

Yang lebih sulit dihadapi justru pertanyaan tetangga.

“Sekarang kerja di mana?”

“Masih cari, Pak.”

“Oh, belum dapat juga?”

Pertanyaan itu sering disampaikan sambil tersenyum, seolah pengangguran hanyalah cuaca buruk yang sebentar lagi berlalu. Raka biasanya menjawab dengan anggukan, kemudian berpura-pura sibuk memeriksa telepon.

Padahal, setiap kali layar menyala, ia masih berharap ada nama perusahaan muncul di sana.

Pada suatu siang, Raka duduk di warung nasi dekat terminal bersama Sinta, teman kuliahnya. Perempuan itu mengenakan kemeja biru muda dan membawa laptop yang ditempeli stiker berbagai aplikasi. Sejak tiga bulan lalu, Sinta bekerja sebagai penyunting konten di sebuah perusahaan rintisan.

“Di kantorku sekarang ada sistem baru,” katanya sambil mengaduk es teh. “Sebagian pekerjaan yang dulu kami kerjakan berjam-jam bisa selesai dalam beberapa menit.”

“Lalu?”

“Orang-orang diminta mengerjakan lebih banyak hal. Tim kami juga sedang dievaluasi.”

Sinta mengatakannya tanpa menatap Raka. Jarinya sibuk mengelupas label botol air mineral yang sudah kosong.

“Bukannya bagus kalau pekerjaan lebih cepat selesai?”

“Bagus untuk perusahaan.” Sinta berhenti mengelupas label. “Aku belum tahu apakah bagus untuk kami.”

Dari pengeras suara terminal terdengar pengumuman keberangkatan bus. Seorang pedagang menawarkan gorengan kepada penumpang yang bergegas. Di meja sebelah, dua mahasiswa membicarakan rencana magang sambil menghitung uang patungan untuk makan siang.

Raka memperhatikan wajah-wajah muda di sekitarnya. Ada yang mengenakan seragam toko, ada yang membawa tas pengantar makanan, ada pula yang berdiri di depan papan lowongan kerja yang ditempel dekat loket. Mereka semua tampak sedang menuju suatu tempat, meskipun belum tentu tahu apa yang menunggu di sana.

“Kadang aku merasa salah memilih jurusan,” kata Raka.

Sinta mengangkat kepala.

“Kalau dulu aku belajar pemrograman, mungkin sekarang aku punya kesempatan lebih besar.”

“Kalau semua orang belajar pemrograman, siapa yang mengurus orang sakit, mengajar anak-anak, atau memperbaiki saluran air?”

“Setidaknya mereka tahu apa yang harus dipelajari.”

Sinta tidak segera menjawab. Ia membuka laptop, memeriksa pesan masuk, lalu menutupnya kembali. Di wajahnya ada kecemasan yang mirip dengan kecemasan Raka, hanya saja kecemasan itu mengenakan seragam pekerja.

Sebelum berpisah, Sinta mengirimkan sebuah tautan tentang perubahan dunia kerja. Di sana, Raka membaca perkiraan bahwa jutaan anak muda di berbagai negara berisiko kesulitan mendapatkan pekerjaan pada masa depan, sementara perubahan teknologi dan kebutuhan industri berlangsung semakin cepat.

Angka-angka dalam artikel itu begitu besar hingga kehilangan bentuk. Raka membacanya dua kali, kemudian meletakkan telepon di meja.

Ia pernah mengira pengangguran adalah kegagalan pribadi: kurang pintar, kurang gigih, kurang berani, atau kurang pandai menjual diri. Kini ia mulai membayangkan sebuah lapangan luas yang dipenuhi orang-orang seperti dirinya, semuanya berlari menuju pintu yang jumlahnya semakin sedikit.

Namun, pemikiran itu tidak membuatnya merasa lebih baik. Jika kegagalannya bukan semata-mata kesalahannya, ia tetap harus membayar sewa kamar, membeli makan, dan menjawab pertanyaan ibunya setiap kali pulang ke rumah.

Angka besar tidak pernah bisa menggantikan uang kecil di dompet seseorang.

Dua minggu setelah percakapannya dengan Sinta, Paman Harun jatuh sakit. Bukan penyakit berat, hanya demam yang membuat lelaki itu terbaring di kamar belakang, tetapi kios fotokopi terpaksa tutup lebih awal. Raka menggantikannya sendirian.

Pagi itu, seorang perempuan membawa setumpuk dokumen untuk keperluan lamaran kerja. Ia meminta Raka mencetak dua puluh salinan riwayat hidup, lalu memeriksa setiap lembar dengan teliti. Pada bagian pengalaman kerja, hanya ada satu baris: Kasir minimarket, enam bulan.

“Bisa dibuat lebih menarik?” tanyanya. “Saya sudah melamar ke mana-mana, tetapi belum dipanggil.”

Raka menatap dokumen itu. Ia tahu cara memperbaiki tata letak, memilih huruf yang mudah dibaca, dan merapikan kalimat. Ia juga tahu bahwa sebuah riwayat hidup yang indah tidak bisa menciptakan pengalaman yang belum pernah dimiliki seseorang.

“Bisa kita rapikan,” jawabnya. “Tapi pengalaman kerjanya jangan ditambah-tambah.”

Perempuan itu mengangguk. Ia duduk di kursi plastik, mengeluarkan bekal nasi dari tas, lalu makan sambil sesekali melihat layar telepon. Raka memperhatikan jari-jarinya yang berhenti mengunyah setiap kali ada pemberitahuan masuk.

Ketika semua salinan selesai, perempuan itu membayar dan mengucapkan terima kasih. Sebelum pergi, ia bertanya apakah Raka bekerja di sana setiap hari.

“Untuk sementara,” katanya.

Perempuan itu tersenyum kecil, seolah memahami bahwa ada jawaban yang lebih panjang di balik dua kata tersebut.

Sore harinya, Raka membuka laptop bekas miliknya. Ia mencoba mengikuti kursus daring tentang pengolahan data dan penggunaan perangkat kecerdasan buatan untuk pekerjaan administrasi. Ia belajar membuat laporan sederhana, memeriksa angka, dan menyusun informasi agar mudah dipahami. Sesekali ia berhenti untuk mencari arti istilah yang tidak dimengerti.

Ia tidak tahu apakah keterampilan baru itu akan membawanya ke sebuah kantor atau hanya menambah satu sertifikat di folder komputernya. Namun, untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, ia tidak mengirim lamaran sambil menunggu jawaban. Ia sedang mengerjakan sesuatu yang hasilnya dapat dilihat, meski belum tentu dapat dijual.

Di luar jendela, suara azan magrib berbaur dengan deru sepeda motor. Ibunya menelepon dari kampung, menanyakan apakah ia sudah makan. Raka menjawab sudah, meskipun sejak siang ia hanya menyantap sepotong pisang goreng yang dibelikan pamannya.

“Jangan terlalu dipikirkan,” kata ibunya. “Rezeki tidak akan tertukar.”

Raka memandang sertifikat-sertifikat digital yang baru diunduh. Ia ingin percaya. Namun, ia juga tahu bahwa rezeki kadang datang melalui pintu yang tidak pernah dibukakan, atau menunggu seseorang mengetuk berkali-kali sampai tangannya lelah.

Sebulan kemudian, sebuah lembaga pelatihan di pusat kota membuka program kerja sementara untuk membantu usaha kecil menggunakan perangkat digital. Raka mendaftar. Ia lolos seleksi awal, lalu diminta mengikuti wawancara bersama belasan pelamar lain.

Di ruang tunggu, ia melihat wajah-wajah yang terasa akrab: seorang lulusan teknik yang bekerja sebagai pengantar makanan, perempuan yang pernah menjadi kasir, pemuda dengan sepatu mengelupas, dan seseorang yang terus merapikan map meski tidak ada yang perlu dirapikan. Mereka membawa ijazah, sertifikat, dan harapan yang telah berkali-kali dilipat agar muat di dalam tas.

Ketika namanya dipanggil, Raka masuk ke ruangan berpendingin udara. Pewawancara menanyakan keterampilannya, pengalamannya, dan kesediaannya mengikuti pelatihan tambahan.

“Apa yang bisa Anda tawarkan kepada kami?” tanya seorang lelaki berkacamata.

Raka sempat ingin menjawab dengan kalimat-kalimat yang pernah dibacanya di internet: pekerja keras, adaptif, mampu bekerja di bawah tekanan. Ia hampir mengucapkannya ketika teringat perempuan yang mencetak riwayat hidup di kios pamannya.

“Saya belum punya banyak pengalaman,” katanya. “Tapi saya terbiasa membantu orang menyelesaikan pekerjaan yang mereka tidak punya waktu untuk kerjakan. Saya bisa belajar menggunakan alat baru. Dan kalau saya belum tahu sesuatu, saya akan mengatakan bahwa saya belum tahu.”

Pewawancara itu berhenti menulis sejenak. Raka tidak tahu apakah jawabannya dianggap jujur atau justru menunjukkan kekurangan. Ia keluar dari ruangan tanpa mencoba menebak.

Tiga hari kemudian, surel pemberitahuan tiba. Ia diterima sebagai peserta pelatihan dengan kemungkinan penempatan kerja setelah program selesai. Tidak ada jaminan mengenai kelanjutannya. Honor yang ditawarkan pun tidak besar.

Raka membaca pesan itu di depan kios fotokopi. Untuk beberapa detik, ia hanya berdiri, membiarkan kendaraan lewat dan angin membawa debu ke ujung sepatunya. Kemudian ia memanggil pamannya yang sedang menyusun kertas.

“Paman, aku dapat tempat pelatihan.”

Harun mengangkat wajah. Senyumnya muncul perlahan, seperti lampu yang menyala setelah listrik sempat padam.

“Bagus. Berarti besok kau mulai?”

“Senin.”

“Kalau begitu, hari ini bantu aku menyelesaikan pesanan dulu.”

Raka tertawa. Untuk pertama kalinya dalam waktu lama, pekerjaan tambahan itu tidak terasa seperti hukuman.

Namun, malamnya, ketika ia membuka kembali artikel tentang masa depan dunia kerja, angka-angka besar itu masih ada. Jutaan orang akan memasuki usia produktif. Pekerjaan tidak tumbuh secepat jumlah mereka. Teknologi akan mengubah cara manusia bekerja, sementara kebijakan dan kesempatan menentukan siapa yang bisa ikut bergerak dan siapa yang tertinggal.

Raka menutup laptop. Ia tidak ingin menjadikan angka-angka itu sebagai ramalan bagi hidupnya, tetapi ia juga tidak bisa berpura-pura bahwa sebuah pelatihan akan menyelesaikan persoalan yang jauh lebih luas daripada dirinya.

Keesokan pagi, ia mengemas pakaian untuk dibawa ke tempat pelatihan. Ijazahnya dimasukkan kembali ke dalam map bening, kali ini bersama buku catatan dan pulpen. Di halaman pertama buku itu, ia menuliskan beberapa hal yang ingin dipelajarinya.

Di bagian paling bawah, ia menambahkan sebuah pertanyaan: Setelah aku bisa melakukan semua ini, apakah akan ada tempat untukku?

Ia menatap kalimat tersebut sebentar, lalu menutup buku.

Di luar, seorang anak kecil sedang membantu ibunya menggelar dagangan di trotoar. Sebuah mobil pengangkut barang berhenti di depan gedung perkantoran. Pintu otomatis terbuka, menerima orang-orang yang berjalan masuk dengan kartu identitas menggantung di leher mereka.

Raka berdiri di ambang kios, memperhatikan pintu itu dari kejauhan. Ia belum tahu apakah suatu hari akan melewatinya sebagai pegawai, sebagai pelanggan, atau sekadar orang yang mencari tempat berteduh ketika hujan turun.

Ia hanya tahu bahwa Senin akan datang, dan ia harus berangkat.

Di dalam tasnya, ijazah, buku catatan, dan pulpen saling bergesekan setiap kali ia bergerak. Bunyi kecil itu mengiringinya menuruni gang, menuju jalan raya yang mulai padat. Di hadapannya, lampu lalu lintas berubah hijau. Orang-orang melangkah, kendaraan bergerak, dan kota kembali sibuk mencari sesuatu yang belum tentu tersedia bagi semua orang.

Raka ikut menyeberang, membawa pertanyaannya sendiri di kota yang selalu berselubung kabut petang, yang kerap berhias dan berenda senja untuk para pencari kerja. (*)




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment