Lumbung yang Menunggu Hujan
Oleh: Raeihan Ramadhan

By Revolusioner 25 Okt 2026, 05:54:34 WIB Cerpen
Lumbung yang Menunggu Hujan

Keterangan Gambar : Foto: Ilustrasi AI


Pagi itu, harga beras naik lagi.

Kabar tersebut sampai ke Desa Wanasari melalui suara radio milik Pak Lurah yang diletakkan di atas lemari arsip. Penyiar membacakan angka-angka dengan nada datar, seolah kenaikan harga bahan pokok hanyalah perubahan cuaca yang tidak perlu dicemaskan. Namun, di pasar, para pedagang telah mengganti tulisan pada papan harga. Seorang perempuan mengembalikan setengah kilogram beras ke dalam karung. Seorang lelaki menghitung uang di telapak tangannya, lalu pergi dengan dua bungkus mi instan.

Di warung Bu Rukmini, Sari berdiri di depan timbangan. Ia memperhatikan jarum merah yang bergoyang sebentar sebelum berhenti.

Baca Lainnya :

“Kurangi sedikit, Bu,” katanya.

Bu Rukmini menatapnya. “Dari kemarin sudah sedikit.”

Sari tersenyum tipis, lalu menyodorkan uang yang telah dilipat empat. Di dalam tas belanjanya ada bawang merah, garam, dan seikat kangkung yang mulai layu. Beras itu akan cukup untuk makan malam bersama ibunya, mungkin juga untuk sarapan besok, jika mereka tidak menambah nasi ke piring masing-masing.

Di sepanjang jalan pulang, sawah terbentang seperti kain kusam. Sebagian petak telah menguning, tetapi bulir padinya kecil-kecil. Sebagian lain masih berupa tanah retak yang memantulkan cahaya matahari. Saluran irigasi di sisi jalan hanya menyisakan aliran tipis, berwarna kecokelatan, dengan bungkus deterjen tersangkut di antara rerumputan.

Sari bekerja sebagai penyuluh pertanian di kecamatan. Ia tahu nama penyakit tanaman, jadwal pemupukan, cara membaca pH tanah, dan sejumlah istilah yang kerap membuat petani mengernyit. Ia juga tahu bahwa pengetahuan tidak selalu bisa mengalahkan cuaca, harga pupuk, atau kebutuhan membayar uang sekolah.

Yang tidak pernah diajarkan dalam pelatihan adalah bagaimana menjelaskan kepada seorang petani bahwa hasil panennya tidak cukup, ketika petani itu telah bekerja sejak matahari belum muncul.

Di rumah, ibunya sedang menjemur gabah di halaman. Usianya enam puluh delapan tahun, tetapi tangannya masih cekatan membalik bulir-bulir padi dengan garu kayu. Di sudut halaman berdiri lumbung kecil peninggalan suaminya. Dindingnya terbuat dari papan meranti yang menghitam, atapnya seng berkarat, dan pintunya diikat dengan seutas tali nilon.

“Berasnya mahal?” tanya ibunya tanpa mengangkat kepala.

“Naik lagi.”

“Kalau begitu, buka lumbung.”

Sari meletakkan tas belanja di meja. Ia menatap bangunan kecil itu. Selama beberapa tahun terakhir, lumbung tersebut hanya menyimpan sebagian gabah hasil panen yang sengaja tidak dijual. Jumlahnya tak seberapa, tetapi ibunya memperlakukannya seperti persediaan untuk menghadapi musim yang belum bernama.

“Gabah itu untuk bibit dan cadangan, Bu.”

“Justru karena itu disimpan.”

“Kalau dijual sekarang, kita bisa beli beras lebih banyak. Harganya sedang bagus.”

Ibunya berhenti membalik gabah. Ia menegakkan punggung, lalu memandang sawah di belakang rumah.

“Dulu, waktu bapakmu masih ada, orang-orang juga bilang begitu.”

Sari tidak menyahut. Ia sudah hafal kisah itu. Dua puluh tahun lalu, ketika kemarau panjang membuat panen gagal di beberapa dusun, ayahnya menolak menjual seluruh persediaan gabah meskipun seorang tengkulak datang membawa uang tunai. Tetangga menganggapnya terlalu berhati-hati. Beberapa bulan kemudian, ketika harga beras melonjak dan bibit sulit didapat, orang-orang datang meminjam benih dari lumbung mereka.

Ayahnya tidak pernah menceritakan peristiwa itu sebagai keberhasilan. Ia hanya mengatakan bahwa menyimpan benih sama seperti menyisakan pintu untuk masa depan.

Sari menganggap kalimat itu indah, tetapi tidak cukup praktis untuk menjawab tagihan listrik, biaya obat, dan harga kebutuhan dapur yang terus naik.

“Sekarang keadaan berbeda, Bu,” katanya.

Ibunya kembali menggaru gabah.

“Memang. Karena itu kita harus tahu apa yang tidak boleh berubah.”

Pada pekan berikutnya, kecamatan mengadakan pertemuan di balai desa. Kipas angin tua berputar lambat, mengaduk udara panas yang bercampur bau kopi sachet dan kertas fotokopi. Di depan ruangan, sebuah spanduk bertuliskan Penguatan Ketahanan Pangan dan Kemandirian Petani tergantung sedikit miring.

Sari duduk di samping Arman, kepala koperasi tani yang baru kembali dari kota. Lelaki itu membawa proposal kerja sama dengan perusahaan penggilingan beras. Perusahaan tersebut bersedia membeli gabah petani dalam jumlah besar, asalkan mereka menyepakati varietas yang seragam dan jadwal panen yang ditentukan sejak awal.

“Ini kesempatan,” kata Arman sambil membagikan lembar proposal. “Kita tidak bisa terus mengandalkan cara lama. Petani butuh pasar yang pasti.”

Beberapa orang mengangguk. Seorang petani muda mengangkat tangan dan bertanya tentang harga pembelian. Arman menjelaskan bahwa harga akan mengikuti kesepakatan kontrak, dengan penyesuaian berdasarkan mutu gabah.

“Kalau panen gagal?” tanya seorang lelaki di barisan belakang.

Arman merapikan ujung kertas. “Kita akan bicarakan mekanismenya.”

“Kalau pupuk naik?”

“Kita hitung bersama.”

“Kalau air tidak ada?”

Ruangan mendadak hening. Kipas angin terus berputar, mengeluarkan bunyi berdecit pada setiap putaran ketiga.

Sari melihat wajah-wajah di hadapannya. Ada yang berharap pada kontrak itu, ada yang mencurigainya, dan ada pula yang tidak punya kemewahan untuk memilih. Mereka membutuhkan uang setelah panen, bukan enam bulan kemudian. Mereka membutuhkan kepastian bahwa gabah yang tumbuh di sawah akan dibeli, meskipun kepastian itu datang bersama persyaratan yang belum sepenuhnya mereka pahami.

Arman menoleh kepada Sari.

“Menurutmu bagaimana? Kalau kita mau meningkatkan produksi, kita harus berani berubah.”

Sari membuka catatan yang dibawanya. Ia telah menyiapkan data luas tanam, kebutuhan air, dan perkiraan hasil panen. Semua angka itu mendukung satu hal: desa mereka membutuhkan sistem distribusi yang lebih baik, pengelolaan air yang teratur, dan akses pasar yang tidak membuat petani bergantung pada satu pembeli.

Namun, di bagian bawah catatannya terdapat daftar varietas padi yang selama ini ditanam warga. Sebagian varietas itu tidak menghasilkan sebanyak benih unggul yang ditawarkan perusahaan, tetapi lebih tahan terhadap kondisi tanah setempat. Benih-benih itu diwariskan dari musim ke musim, dipilih oleh petani dari bulir yang paling sehat.

“Perubahan memang perlu,” kata Sari. “Tapi kalau semua lahan menggunakan satu varietas, lalu varietas itu gagal karena penyakit atau cuaca, kita kehilangan lebih dari satu kali panen.”

Arman menghela napas.

“Kalau terlalu banyak pilihan, pengelolaannya sulit.”

“Kalau terlalu sedikit pilihan, risikonya berpindah ke petani.”

Seorang petani tua mengangguk pelan. Seorang lainnya justru menggeleng. Di sudut ruangan, seseorang berbisik bahwa penyuluh selalu mudah berbicara karena gajinya tetap turun setiap bulan.

Sari mendengar bisikan itu. Ia menutup catatannya tanpa membalas.

Dalam perjalanan pulang, ia merasa seperti seseorang yang berdiri di antara dua pintu. Di satu sisi ada kebutuhan nyata petani untuk memperoleh pendapatan yang cukup. Di sisi lain ada sesuatu yang tidak dapat dihitung hanya dengan harga per kilogram: kemampuan untuk menanam kembali ketika pasar berhenti menawarkan pertolongan.

Malam itu, ia membuka laptop dan menyusun laporan untuk kecamatan. Ia menulis tentang diversifikasi pangan, penguatan cadangan desa, dan perlunya perbaikan irigasi. Kalimat-kalimat itu tampak rapi di layar. Namun, ketika ia mengingat wajah petani yang bertanya tentang air, ia menghapus satu paragraf dan membiarkan kursor berkedip di halaman kosong.

Ia tahu masalahnya bukan kekurangan kata-kata.

Masalahnya adalah siapa yang bersedia menanggung biaya untuk membuat kata-kata itu menjadi kenyataan.

Kemarau mencapai puncaknya pada akhir Agustus.

Sungai kecil di sebelah timur desa menyusut menjadi deretan kubangan. Anak-anak yang biasanya mencari ikan kini mengumpulkan kecebong di antara lumpur. Di beberapa petak sawah, daun padi menggulung seperti kertas yang dibakar dari tepinya. Petani memasang pompa air, tetapi bahan bakar semakin mahal. Mereka bergantian mengairi lahan, sering kali sampai lewat tengah malam.

Pada suatu sore, Sari menerima telepon dari Arman. Perusahaan penggilingan meminta kepastian jumlah gabah yang bisa disediakan koperasi. Mereka harus segera menentukan lahan yang akan ditanami varietas kontrak pada musim berikutnya.

“Kalau kita menolak, mereka mungkin pindah ke desa lain,” kata Arman.

Sari memandang halaman rumahnya. Ibunya sedang memindahkan gabah ke dalam lumbung, satu tampah demi satu tampah.

“Beri waktu sampai besok,” jawabnya.

“Waktu tidak menurunkan harga pupuk, Sar.”

Telepon terputus sebelum Sari sempat menjawab.

Malamnya, ia membuka lumbung bersama ibunya. Bau gabah kering menyergap, bercampur aroma kayu tua dan debu. Di dalam, karung-karung tersusun hingga setinggi dada. Pada setiap karung, ayahnya dahulu menuliskan tahun panen dengan spidol hitam. Beberapa angka telah pudar, tetapi masih terbaca.

Ibunya mengambil segenggam gabah, kemudian meletakkannya di telapak tangan Sari.

“Pilih yang ini,” katanya. “Dari panen tahun lalu. Bulirnya penuh.”

Sari mengamati gabah itu. Ia tahu ibunya sedang menyiapkan benih untuk musim tanam berikutnya. Namun, ia juga tahu bahwa di dapur hanya tersisa beras untuk beberapa hari.

“Kalau sebagian kita jual, Ibu bisa membayar obat tanpa berutang.”

Ibunya memasukkan kembali gabah itu ke dalam karung.

“Kalau semuanya dijual, musim depan kita membeli benih dari siapa?”

“Dari toko pertanian.”

“Kalau tokonya kehabisan?”

Sari diam.

Ibunya mengikat karung dengan tali, lalu duduk di ambang pintu lumbung. Cahaya lampu mengguratkan bayangannya di lantai.

“Bapakmu pernah gagal panen tiga kali,” katanya. “Kita makan singkong rebus selama berbulan-bulan. Ibu tidak ingin mengulanginya. Tapi Ibu juga tidak ingin kamu mengira bahwa menyimpan gabah berarti kita tidak membutuhkan uang.”

Ia menunjuk tumpukan karung di hadapan mereka.

“Sebagian untuk makan. Sebagian untuk ditanam. Sebagian lagi, kalau ada lebih, untuk dijual. Tidak ada yang bisa menjamin kita akan selalu punya cukup. Tetapi jangan sampai kita kehilangan semua pilihan.”

Untuk pertama kalinya malam itu, Sari melihat lumbung bukan sebagai benda peninggalan yang harus dipertahankan, melainkan sebagai keputusan yang terus dibuat ulang. Gabah di dalamnya tidak akan menyelesaikan persoalan harga pangan, tidak akan memperbaiki irigasi, dan tidak akan membuat hujan turun. Namun, selama masih ada benih yang dapat ditanam, kegagalan belum menjadi satu-satunya kemungkinan.

Keesokan paginya, Sari kembali menemui Arman. Ia membawa usulan baru: koperasi tetap menerima kerja sama perusahaan, tetapi tidak menyerahkan seluruh lahan kepada satu varietas. Sebagian petak akan ditanami benih kontrak, sebagian lain mempertahankan varietas lokal. Mereka juga akan membentuk cadangan gabah desa dengan aturan yang disepakati bersama, bukan bergantung pada kemurahan hati beberapa keluarga.

“Siapa yang membiayai cadangan itu?” tanya Arman.

Sari meletakkan berkas di atas meja.

“Kita mulai dari jumlah kecil. Sebagian hasil panen, simpanan anggota, dan dukungan pemerintah desa. Kita buat pencatatannya terbuka.”

“Dan kalau hasilnya tidak cukup?”

“Kita evaluasi. Tapi setidaknya kita tidak mempertaruhkan semuanya pada satu kemungkinan.”

Arman membaca berkas itu cukup lama. Di luar kantor, seorang pengendara sepeda motor berhenti untuk membeli bensin eceran. Dari warung seberang terdengar suara minyak mendesis ketika tempe dimasukkan ke penggorengan.

“Aku tidak bisa menjanjikan semua petani setuju,” katanya.

“Aku juga tidak.”

Mereka akhirnya menyepakati pertemuan lanjutan. Bukan keputusan besar, bukan pula kemenangan yang layak dirayakan. Hanya sebuah pintu yang belum ditutup.

Beberapa hari kemudian, hujan turun selama dua puluh menit. Warga keluar dari rumah masing-masing, menengadah, dan membiarkan air membasahi wajah. Anak-anak berlari di halaman. Seorang petani meletakkan cangkulnya di bawah pohon dan tertawa ketika melihat aliran air kembali bergerak di selokan.

Namun, hujan itu tidak cukup untuk mengisi sungai. Keesokan harinya, tanah kembali mengeras.

Sari berdiri di tepi sawah bersama ibunya. Di kejauhan, seorang petani sedang memeriksa tanaman yang mengering. Ia mencabut satu rumpun padi, memeriksa akarnya, lalu menancapkannya kembali ke lumpur.

“Masih bisa diselamatkan?” tanya Sari.

Ibunya tidak langsung menjawab.

“Sebagian mungkin.”

Mereka berjalan pulang melewati pematang. Di depan rumah, pintu lumbung terbuka. Beberapa karung telah dipindahkan ke sudut yang lebih kering. Di atas meja, ibunya menaruh segenggam gabah yang akan disortir malam nanti.

Sari mengambil satu bulir, memecah kulitnya dengan kuku, lalu memperhatikan butiran kecil di dalamnya. Ia teringat angka-angka dalam laporan, percakapan di balai desa, harga beras di pasar, dan wajah petani yang menghitung uang di telapak tangannya.

Pangan, pikirnya, tidak pernah hanya soal berapa banyak yang tumbuh dari tanah. Ia juga soal siapa yang memiliki tanah, siapa yang menentukan harga, siapa yang menyimpan benih, dan siapa yang masih bisa makan ketika semua perhitungan meleset.

Dari dapur, ibunya memanggil agar ia membantu menanak nasi. Sari meletakkan gabah itu kembali ke tampah, kemudian masuk ke rumah.

Di luar, awan berkumpul di atas sawah, kelabu dan berat. Belum ada yang tahu apakah malam akan membawa hujan atau hanya angin.

Sari menutup pintu lumbung, tetapi tidak menguncinya.

Esok pagi, ia akan kembali ke balai desa. Mungkin beberapa petani akan menyetujui usulnya, mungkin yang lain memilih menjual seluruh hasil panen. Perusahaan tetap menunggu jawaban. Harga beras mungkin turun, mungkin juga naik lagi.

Sebelum tidur, ia mendengar ibunya memeriksa tali pengikat karung satu demi satu. Bunyi gesekan tali pada kayu terdengar seperti seseorang yang sedang menghitung sesuatu dalam gelap.

Sari ingin bertanya berapa lama persediaan mereka akan bertahan. Namun, ia membiarkan pertanyaan itu tinggal di dalam kepala.

Di halaman, lumbung kecil berdiri tanpa suara, menunggu musim yang belum menjanjikan apa-apa. (*)




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment