Zakat, Algoritma, dan Jangkauan yang Kehilangan Jiwa
Oleh: Najwa Nur Fajriah (Mahasiswi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)

By Revolusioner 26 Okt 2026, 08:51:03 WIB Opini
Zakat, Algoritma, dan Jangkauan yang Kehilangan Jiwa

Keterangan Gambar : Foto: Dok. pribadi Najwa Nur Fajriah


“Bagaimana caranya agar konten organisasi pengelola zakat (OPZ) lebih sering muncul di layar warga?” Pertanyaan ini kerap membayangi para pengelola humas dan admin media sosial lembaga pengelola zakat. Di tengah riuh rendah linimasa digital, muncul godaan besar untuk mengejar angka jangkauan (reach) dan angka likes setinggi-tingginya demi membuktikan eksistensi lembaga. Namun, ada paradoks yang patut kita cermati bersama. Ketika algoritma platform digital dijadikan panglima, komunikasi zakat dan filantropi Islam (zafis) berisiko terperosok menjadi sekadar pertunjukan visual yang bising, tetapi miskin substansi dialogis.

Penting untuk menegaskan kembali posisi teoretis dan kelembagaan dalam diskursus ini: zakat secara esensial adalah kewajiban syariat (rukun islam) yang memiliki dimensi keadilan sosial-ekonomi formal, sedangkan filantropi Islam mencakup spektrum kedermawanan sukarela yang amat luas mulai dari infak, sedekah, wakaf, kurban, hibah, fidyah, kafarat, hingga luqatah (total mencapai 32 jenis instrumen zafis). Memadukan kewajiban zakat dengan kesadaran kedermawanan zafis memerlukan komunikasi publik yang berdampak nyata, bukan sekadar penggugur kewajiban unggahan atau selebrasi jumlah penonton.

Dari Jebakan Angka Metrik ke Realitas Kebutuhan Warga
Pertanyaan mendasar humas OPZ seharusnya bergeser: informasi apa yang sebenarnya sedang dibutuhkan oleh warga? Memahami algoritma pada dasarnya adalah seni membaca respons dan kebutuhan audiens secara riil.

Studi terkini mengenai evaluasi komunikasi media sosial instansi publik menunjukkan bahwa salah menginterpretasikan engagement dengan mengabaikan interaksi mendalam dan hanya berfokus pada metrik permukaan seperti likes menyebabkan komunikasi berjalan monolog dan kehilangan dampak. Riset Nur Atnan & Ayub Ilfandy Imran (2025) menegaskan pentingnya pergeseran paradigma menuju komunikasi dua arah yang dialogis. Hal senada diperkuat oleh analisis media digital terkini yang menyoroti bahwa pola komunikasi satu arah kerap gagal membangun kepercayaan, padahal kolom komentar dan respons audiens dapat menjadi data strategis untuk mengukur tingkat pemahaman serta kebutuhan layanan publik.

Dalam konteks zafis, warga tidak sekadar membutuhkan konten estetis atau reels yang mengikuti tren musik populer. Warga memerlukan jawaban lugas atas persoalan mereka: Bagaimana kelayakan muzaki dan amil dihitung? Ke mana persisnya dana zakat disalurkan? Bagaimana prosedur pengajuan bantuan pemberdayaan ekonomi bagi mustahik secara transparan?

Marcello la Forgia (2025) dalam karyanya Oltre il Palazzo menggarisbawahi bahwa transformasi komunikasi kelembagaan mutakhir menuntut peralihan dari model birokratis-searah menuju model dialogis-partisipatif yang berpusat pada warga. Konsep ini sangat relevan bagi OPZ. Penyampaian informasi zafis yang efektif harus menempatkan jawaban di awal, menyertakan bukti akuntabilitas yang sahih, serta memberikan petunjuk layanan yang mudah diakses oleh publik.

Kapasitas SDM dan Ukuran Keberhasilan yang Hakiki
Tidak ada rumus tunggal maupun algoritma ajaib yang menjamin jangkauan konten. Bahkan alat analisis paling canggih sekalipun tidak akan berdampak jika tidak diimbangi dengan kapasitas pengelola komunikasi di lapangan. Fenomena ini sejalan dengan studi evaluasi kinerja admin media sosial oleh institusi daerah yang menemukan fakta bahwa dominasi kinerja pengelola media sosial berada pada kategori rendah akibat keterbatasan pemahaman substantif atas fungsi komunikasi publik. Data dan analisis digital tidak akan bermakna tanpa peningkatan kapasitas SDM yang mampu mengevaluasi bagian mana dari konten yang benar-benar ditonton, dilewati, disimpan, atau dibagikan.

Kriteria keberhasilan konten OPZ tidak boleh berhenti pada papan peringkat trending topic atau tumpukan angka metrik yang hampa. Konten zafis dianggap berhasil apabila membantu warga memahami hak dan kewajiban mereka, mempermudah akses muzaki maupun mustahik, serta menciptakan dampak sosial yang terukur dalam pengentasan kemiskinan dan pemberdayaan masyarakat.

Secara operasional, humas dan admin OPZ patut menerapkan langkah strategis yang adaptif:

  1. Fokus Kebutuhan: Pilih satu kebutuhan spesifik warga untuk setiap konten yang dibuat.

  2. Relevansi Bahasa: Gunakan judul dan narasi yang sesuai dengan kata kunci yang biasa dicari publik.

  3. Orientasi Solusi: Sampaikan jawaban sejak awal, lengkapi dengan bukti transparansi dan petunjuk layanan yang jelas.

  4. Evaluasi Berkelanjutan: Pelajari bagian konten yang ditonton, dilewati, disimpan, atau dibagikan.

  5. Iterasi Penyajian: Uji cara penyajian secara berkala dan lakukan perbaikan berdasar hasil respons audiens.

Menagih Roh Kebermanfaatan Digital

Zakat dan filantropi Islam adalah instrumen keadilan sosial yang sakral dan memberdayakan. Mengabaikan esensi dialog demi mengejar sensasi viralitas semata adalah bentuk kemunduran orientasi komunikasi zafis. OPZ dituntut untuk berani keluar dari lingkaran jurnalisme kelembagaan yang narsis dan egosentris.

Layar gadget warga bukanlah papan reklame tanpa jiwa tempat lembaga memamerkan brosur digital. Layar itu adalah ruang perjumpaan warga yang mendamba solusi atas problem sosial-ekonomi mereka. Konten OPZ yang sejati adalah konten yang menghadirkan kejelasan di tengah simpang siur informasi, menumbuhkan kepercayaan muzaki, serta membukakan jalan keberdayaan bagi mustahik.

Sebab pada akhirnya, ukuran keberhasilan tertinggi sebuah konten bukan terletak pada seberapa banyak jempol yang menekan tombol like, melainkan seberapa dalam kemanfaatan itu merasuk dan mengubah kehidupan masyarakat. (*)




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment