- Keadilan Sosial, Ketika Revolusi Prancis Menampar Dunia
- Yang Tertinggal di Lereng
- Debu Reruntuhan Zura
- Memutus Lingkaran Setan Konglomerasi Kekayaan dan Jerat Kemiskinan
- UIN Jambi Sediakan Beasiswa Internasional
- Ini Dia Aplikasi Satu Beasiswa Berbasis AI
- Ada Beasiswa Agrinas untuk Pemuda Papua
- BI Luncurkan 3 Program Unggulan ISEF
- Zakat Terhambat Fatwa Belum Jadi PMA
- Ada Beasiswa Sandiaga untuk Wirausaha
Debu Reruntuhan Zura
Oleh: Aura Ambia

Keterangan Gambar : Foto: Ilustrasi AI
Angin membawa aroma
tembaga yang anyir dari utara, bercampur dengan kelembapan payau dari Laut Zura
yang berwarna sekelam timah. Di
bawah hamparan langit senja yang robek oleh sapuan jingga kemerahan, Mayor
Kalandra berdiri mematung. Sepatu larsnya tertanam di atas gundukan beton yang
hancur bekas pilar sebuah sekolah dasar yang kini tak lebih dari pusara massal
batu dan baja.
Di sekelilingnya, lanskap Semenanjung Zura terbentang bagai anatomi
keputusasaan. Bangunan-bangunan patah seperti gigi membusuk. Tidak ada pohon
yang berdiri tegak; semua telah hangus, menyisakan kerangka arang yang menunjuk
ke langit dengan kebisuan yang menggugat. Kalandra menarik napas panjang. Udara
di sini terasa berat, sarat oleh debu mesiu yang menolak enyah meski dentum
artileri telah dinyatakan reda dua bulan lalu.
Ia membetulkan letak baret hijaunya. Di lengan seragam lorengnya, tertempel
lencana yang tidak bergambar pedang atau senapan menyilang, melainkan sepasang
tangan yang menopang tunas daun.
Baca Lainnya :
- Api yang Membakar Pagi0
- Rumah yang Hilang Dari Peta0
- Nus & Ron0
- Yang Karam di Ujung September0
- Air Mata Himalaya 0
"Operasi Tangan Terbuka," gumam Kalandra nyaris tak terdengar, mengulang nama sandi misi yang membawanya sejauh ribuan kilometer dari tanah kelahirannya, Kepulauan Svarna, menuju ujung gurun pesisir yang porak-poranda ini.
Keputusannya turun ke Zura berawal dari sebuah jabat tangan diplomasi
berminggu-minggu lalu. Pemimpin Svarna dan penguasa Republik Al-Safwa negara
tetangga yang memagari wilayah Zura duduk di sebuah meja perundingan. Mereka
menyepakati sesuatu yang jarang tercatat dalam sejarah konflik bersenjata:
pengerahan kekuatan militer gabungan bukan untuk memperluas garis demarkasi,
melainkan untuk menjahit kembali nadi kehidupan yang terputus. Batalyon Zeni
Tempur dan Kompi Medis dari Svarna diterbangkan, bergabung dengan armada
logistik Al-Safwa, menembus perbatasan yang selama bertahun-tahun dijaga ketat
oleh deru senapan mesin.
Bagi Kalandra, ini adalah transisi yang musykil dan mengoyak kesadaran.
Laki-laki dengan bekas luka serpihan peluru di rahang kirinya itu dibesarkan
oleh doktrin militer klasik: mencari musuh, mengamankan perimeter, melumpuhkan
ancaman. Selama belasan tahun kariernya, ia dididik untuk menjadi instrumen
penaklukan yang presisi. Namun di Zura, musuhnya bukanlah infantri lawan yang
mengintai di balik parit. Musuhnya adalah wabah kolera, malnutrisi, trauma, dan
puing-puing seberat ribuan ton yang mengubur masa depan sebuah generasi.
Dari gundukan puing tempatnya berdiri, Kalandra menatap ke lembah di bawah. Tidak ada tank atau panser yang mengaum mencari mangsa. Yang terdengar adalah deru ekskavator berwarna kuning menyala, dikemudikan oleh prajurit-prajuritnya sendiri, yang tengah menyingkirkan puing-puing sebuah balai pengobatan. Di sudut lain, tenda-tenda pleton disulap menjadi bangsal operasi darurat. Para dokter militer berseragam hijau bedah mondar-mandir dengan celemek yang terciprat noda merah segar, namun kali ini darah itu bukan milik kombatan yang bertikai, melainkan milik anak-anak dan perempuan terlantar yang terperangkap dalam sisa-sisa reruntuhan.
Seorang prajurit muda, Kopral Tariq, berlari menghampiri Kalandra menaiki
gundukan itu, napasnya tersengal. Wajah pemuda itu cemong oleh peluh dan debu
semen.
"Lapor, Komandan. Sektor tiga sudah bersih dari sisa-sisa ranjau
darat. Alat berat dari batalyon Al-Safwa sudah merangsek masuk untuk perataan
tanah. Fondasi untuk rumah sakit darurat siap dicor besok pagi pada pukul
enam."
Kalandra mengangguk pelan, matanya tak lepas dari kerumunan jauh di bawah
sana. "Bagaimana dengan pasokan air bersih?"
"Truk tangki dari perbatasan baru saja melintasi pos penjagaan, Ndan.
Tapi ada sedikit masalah. Ratusan pengungsi berkerumun menghalangi jalur.
Mereka berdesakan berebut jeriken." Tariq menelan ludah, suaranya sedikit
bergetar memancarkan kegamangan yang tak bisa disembunyikan. "Apa kami
harus melepaskan tembakan peringatan ke udara untuk mengurai massa, Ndan?"
Kalandra terdiam. Pertanyaan itu seolah menarik pelatuk imajiner di dalam kepalanya, memutar kembali pita memori usang yang mati-matian ia kubur. Tujuh tahun lalu, di Lembah Taranis yang basah, ia pernah memberikan perintah serupa. Sebuah tembakan peringatan yang memicu kepanikan massal, berujung pada jatuhnya korban sipil yang tak bersenjata saat mereka berebut akses pangan. Teriakan dan jerit tangis malam itu masih sering merayap masuk ke dalam mimpi-mimpinya, menjelma menjadi hantu-hantu yang menggerogoti nuraninya.
"Tidak ada tembakan peringatan, Tariq," suara Kalandra memberat,
lebih menyerupai geraman tertahan. Ia mencengkeram bahu prajurit muda itu
dengan tenaga yang membuat Tariq sedikit berjengit menahan ngilu.
"Turunkan senjatamu. Perintahkan peleton logistik untuk turun dari truk,
bagikan air itu secara manual, satu per satu. Biarkan mereka berkerumun. Mereka
bukan musuh yang mau menyerang kita. Mereka adalah manusia-manusia yang sudah
lupa rasanya minum tanpa rasa takut."
Tariq mematung sejenak, mencerna perintah itu, sebelum bersikap sempurna.
"Siap, Komandan!" Ia berbalik dan berlari menuruni bukit puing itu,
meninggalkan Kalandra kembali berbalut hembusan angin Zura.
Matahari perlahan tenggelam, seakan menolak untuk melihat lebih lama nanah
luka di kota ini. Cahayanya yang keemasan menyapu permukaan tanah berdebu,
menciptakan bayangan-bayangan panjang dari tiang besi yang menyerupai siluet
orang-orang yang menanti pertolongan. Kalandra melangkah turun dari gundukan
beton. Udara senja membawa suhu yang merosot tajam, mengginggit kulit, menembus
lapisan seragamnya hingga ke pori-pori tulang.
Di sebuah persimpangan yang dulunya mungkin merupakan pasar atau alun-alun, ia melihat seorang pria tua lokal duduk di atas sisa-sisa kursi roda yang salah satu rodanya bengkok tak keruan. Pria itu mengenakan jubah abu-abu kotor, memegang sebuah radio transistor tua yang tak lagi bersuara, hanya mendesiskan statis yang membosankan. Di sampingnya, seorang anak perempuan kecil—mungkin usianya belum genap enam tahun—tengah mengorek-ngorek debu di antara retakan aspal menggunakan sendok plastik kusam.
Kaladra melangkah mendekat. Langkah sepatu larsnya sebisa mungkin diredam
agar tak mengejutkan mereka. Kehadiran seragam militer di Semenanjung Zura,
dari faksi mana pun datangnya, biasanya hanya menggemakan satu arti bagi
penduduk lokal: ancaman dan teror. Namun pria tua itu tidak menyingkir. Mata
kataraknya yang kelabu mendongak menatap Kalandra, berawan, kosong, namun tajam
menyelisik.
"Kau bukan dari komplotan mereka," ucap pria tua itu perlahan
dalam dialek yang cukup jelas untuk ditangkap oleh telinga Kalandra. Suaranya
kering, menyerupai gesekan ranting patah.
"Saya Kalandra. Dari Svarna," balasnya sambil berjongkok
perlahan, menyembunyikan laras karabin miliknya ke belakang punggung agar tak
terlihat mengintimidasi, lalu menyejajarkan pandangannya.
Pria tua itu mengangguk pelan, seolah mengingat-ingat. "Svarna...
Negeri di tanah rempah yang sering disebut-sebut dalam doa-doa syekh kami
sebelum masjid utama di ujung jalan sana luluh lantak dibom." Ia menatap
lencana tunas daun di lengan Kalandra. "Tentara yang tidak menenteng mesin
pembunuh... Sungguh sebuah pemandangan ganjil di hari kiamat kami."
"Kami di sini untuk membangun rumah sakit, Kek," ucap Kalandra
setenang mungkin. "Membawa pasokan medis dan pangan dari Al-Safwa. Hari
ini kami tidak membawa peluru."
Mendengar kata peluru, anak perempuan kecil di samping pria itu tiba-tiba
berhenti menggali tanah. Ia menoleh, menatap wajah Kalandra. Tangan mungilnya
yang berlumur tanah campur jelaga hitam terulur ke arah prajurit itu. Di
telapak tangannya terdapat sebuah benda kecil silindris yang baru saja ia gali
dari dalam puing: sebuah selongsong peluru karabin kaliber lima koma lima enam
milimeter yang permukaannya telah berkarat.
Kalandra menatap benda kuningan di telapak mungil itu seolah itu adalah
seekor kalajengking. Tenggorokannya mendadak mengering. Selongsong itu adalah
bahasa universal dari kekerasan. Sesuatu yang sangat akrab berada di ujung
laras tempurnya sendiri di masa lalu.
Anak perempuan itu tidak berbicara, hanya menyodorkannya sedikit lebih ke
depan, menunggu Kalandra menerimanya. Dengan tangan yang mendadak terasa kebas,
Kalandra mengambil selongsong dingin berselimut debu tersebut.
"Dulu, ayahku bekerja memungut rongsokan besi dan tembaga untuk
dijual," bisik anak perempuan itu tiba-tiba. Matanya bulat, hitam pekat,
namun telah lama kehilangan binar kekanakan yang seharusnya menyala di sana.
"Sekarang ayah sudah tertidur di bawah beton sana. Apakah besi kecil
ini... bisa kutukar dengan sepotong roti dari tendamu, Tuan Tentara?"
Kalandra merasa ada seutas senar putus di dalam dadanya. Sebongkah batu
besar yang selama bertahun-tahun bersarang di hatinya perlahan runtuh,
diremukkan oleh sebentuk kepolosan yang dikoyak kejamnya perang. Di saat para
jenderal dan politikus di ibu kota-ibu kota mewah berdebat dengan jas rapi
mengenai geopolitik dunia, keseimbangan kekuasaan, dan strategi pertahanan,
realitas absolut dari sebuah perang justru tergeletak hina di telapak tangan
seorang anak kelaparan, yang dengan lugu mencoba menukar sisa logam kematian
demi menyambung napas esok hari.
"Kau tidak perlu menukarnya dengan apa pun," suara Kalandra
bergetar halus, tertahan di kerongkongan. Ia merogoh saku taktis di bagian
paha, mengeluarkan sebatang biskuit ransum energi yang selalu ia simpan. Ia
membuka bungkus plastik foil-nya sedikit dan meletakkannya di tangan anak
perempuan itu dengan kelembutan yang jarang ia miliki. "Makanlah
ini."
Gadis itu menatap biskuit di tangannya seolah ia baru saja menerima
bongkahan emas. Ia tak langsung memakannya, melainkan mematahkannya menjadi dua
bagian, lalu memberikan potongan yang sedikit lebih besar kepada kakeknya yang
buta.
Kalandra perlahan bangkit berdiri. Tangannya meremas selongsong peluru itu
erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih pasi, lalu memasukkannya ke dalam
saku kemeja di dada kiri, tepat di atas debar jantungnya. Logam berkarat itu
bukan sekadar sampah peluru; ia akan menjadi sebuah prasasti peringatan bagi
dirinya sendiri. Peringatan bahwa kehormatan sejati dari sebuah seragam militer
tidak pernah terletak pada seberapa luas wilayah yang bisa ia rebut atau
seberapa banyak musuh yang bisa ia lumpuhkan. Melainkan pada seberapa banyak
kehidupan yang bisa ia rawat saat dunia di sekitarnya memaksa untuk hancur.
Malam akhirnya merengkuh Semenanjung Zura dalam kegelapan mutlak. Dari arah
bukit, lampu-lampu sorot tembak berdaya tinggi dari Batalyon Zeni mulai menyala
serentak. Cahayanya merobek pekatnya gulita malam, mengarahkan sinar lurus ke
depan, bukan untuk menyapu target pergerakan musuh, melainkan menerangi para
insinyur dan tentara medis yang sedang sibuk memancang tiang-tiang fondasi besi
baja bagi rumah sakit darurat. Suara palu raksasa yang menghantam baja bergema
di udara, menggeser ritme bising rentetan senjata mesin yang merajalela bulan
lalu.
Kalandra berdiri mengawasi siluet tubuh-tubuh prajuritnya yang bergerak
terkoordinasi di bawah sorot pendar lampu halogen. Dalam keheningan nuraninya,
ia akhirnya menyadari satu kebenaran yang tak pernah ditulis di dalam buku
panduan akademi militer mana pun: membangun kembali keadaban yang telah dilumat
habis oleh kebencian membutuhkan keberanian seribu kali lipat lebih besar
ketimbang menarik sebuah pelatuk.
Angin berembus lagi, menyapu wajah Kalandra. Kali ini, udara tak lagi murni
membawa anyir tembaga, melainkan sayup-sayup aroma semen basah dan galian tanah
yang baru dikeruk. Bau kehidupan masa depan yang sedang susah payah dirakit
kembali. Kalandra tahu, operasi militer ini mungkin tak akan bisa menghapus
seluruh air mata yang tumpah di Zura. Namun setidaknya, saat ia melihat
sekelebat cahaya dari balik reruntuhan di kejauhan, ia meyakini sebuah senyap
epifani: dari celah tanah yang pernah dihanguskan, kehidupan, perlahan namun
pasti, akan mencari cara sendiri untuk kembali bernapas. (*)












.png)
.png)