Breaking News
- Menakar Urgensi Badan Pengelolaan Dana Umat
- Ketika Bumi Menagih Zakat Kita
- Rumah yang Hilang Dari Peta
- Baznas-YPSP Kolaborasi Bantu Gaza
- Ini Peluang Beasiswa Korea University
- Zakat Baznas Sumut Melonjak Rp11,5 M
- Baznas-ICMI Sinergi Teknologi dan Riset
- Bluebird dan RZ Tebar Sembako di Bogor
- Nus & Ron
- Mengubah Kekeringan Menjadi Gerakan Kebaikan
Rumah yang Hilang Dari Peta
Oleh: Nabila Citra Aurellya

Keterangan Gambar : Foto: Ilustrasi AI
Rumah Kecil di Ujung Jalan
Sebelum rumah itu menjadi puing, pondok tersebut selalu dipenuhi suara.
Suara pintu yang dibuka setiap pagi.
Suara langkah kaki Yusuf menuju dapur.
Suara Maryam memanggil suaminya dari ruang tengah.
Suara air yang mengalir ketika mereka berwudu.
Suara piring yang beradu.
Suara tawa kecil yang sering muncul tanpa alasan.
Rumah itu tidak besar. Hanya sebuah bangunan sederhana di salah satu kawasan permukiman Gaza. Dindingnya dicat putih, meski sebagian mulai kusam dimakan waktu. Di depan rumah terdapat halaman kecil yang cukup untuk meletakkan dua kursi kayu dan beberapa pot tanaman.
Di sanalah Yusuf dan Maryam tinggal.
Mereka baru tiga bulan menikah.
Tiga bulan bukan waktu yang panjang bagi sebuah pernikahan. Tetapi bagi mereka, tiga bulan itu terasa seperti awal dari kehidupan yang telah lama mereka tunggu.
Yusuf berusia dua puluh delapan tahun. Ia bekerja sebagai teknisi listrik sebelum keadaan di Gaza membuat pekerjaannya semakin sulit. Tangannya terbiasa memperbaiki kabel, memasang sakelar, dan mencari sumber masalah pada peralatan yang rusak.
Maryam berusia dua puluh lima tahun. Ia mengajar anak-anak membaca Al-Qur'an di sebuah ruang kecil dekat rumah mereka ketika keadaan memungkinkan.
Pernikahan mereka sederhana.
Tidak ada gedung besar.
Tidak ada pesta mewah.
Tidak ada ratusan tamu.
Hanya keluarga, beberapa tetangga, makanan sederhana, dan doa-doa panjang agar rumah tangga mereka diberi keberkahan.
Pada malam pertama mereka tinggal di rumah itu, Maryam berdiri di tengah ruang tamu sambil memandangi dinding kosong.
"Kenapa melihat dinding terus?" tanya Yusuf.
Maryam tersenyum.
"Aku sedang membayangkan nanti kita akan taruh apa di sini."
"Di situ?"
"Iya."
"Apa?"
"Foto kita."
Yusuf tertawa kecil.
"Foto pernikahan?"
Maryam mengangguk.
"Supaya nanti kalau kita sudah tua, kita bisa melihat bagaimana mudanya kita."
Yusuf menatapnya.
"Kalau sudah tua nanti, kamu masih mau tinggal di rumah ini?"
Maryam tersenyum.
"Kalau kamu masih jadi suamiku, aku mau tinggal di mana saja."
Yusuf terdiam beberapa detik.
Kemudian ia berkata, "Kalau begitu, kita harus menjaganya."
Maryam tidak tahu bahwa kalimat sederhana itu kelak akan menjadi sesuatu yang terus hidup di dalam ingatannya.
Karena beberapa bulan kemudian, rumah itu tidak lagi berdiri.
Dan yang tersisa hanyalah sebuah kunci.
Sebuah foto pernikahan.
Serta kenangan yang tidak dapat dihancurkan oleh ledakan mana pun.
Tiga Bulan Pernikahan
Hari-hari pertama pernikahan mereka berjalan sederhana.
Yusuf bekerja ketika ada pekerjaan.
Maryam mengajar ketika situasi memungkinkan.
Mereka sering makan bersama di lantai ruang tengah karena meja makan mereka terlalu kecil.
Kadang hanya ada roti, minyak zaitun, keju, dan teh.
Tetapi Maryam selalu mengatakan bahwa makanan sederhana terasa lebih nikmat ketika dimakan bersama orang yang dicintai.
Yusuf sering mengejeknya.
"Kalau besok aku cuma bisa membawa roti satu potong?"
Maryam akan menjawab, "Kita bagi dua."
"Kalau cuma setengah?"
"Kita bagi dua lagi."
"Kalau tidak ada makanan?"
Maryam akan menatapnya.
"Jangan bercanda begitu."
Kemudian Yusuf tertawa.
Mereka memiliki banyak rencana.
Mereka ingin menabung.
Mereka ingin memperbaiki kamar belakang.
Mereka ingin membeli lemari baru.
Maryam ingin menanam bunga di halaman.
Yusuf ingin memasang lampu kecil di depan rumah.
Dan mereka ingin suatu hari memiliki anak.
Tetapi untuk sementara, mereka menikmati kehidupan sebagai dua orang yang baru saja menemukan rumah dalam diri satu sama lain.
Setiap malam sebelum tidur, Yusuf dan Maryam berbicara.
Tentang pekerjaan.
Tentang keluarga.
Tentang masa depan.
Tentang hal-hal kecil yang sebenarnya tidak penting.
Suatu malam, Maryam bertanya,
"Kalau nanti kita punya anak perempuan, kamu mau namanya siapa?"
Yusuf berpikir.
"Fatimah."
Maryam menggeleng.
"Kenapa?"
"Nama itu bagus."
"Kalau anak laki-laki?"
"Adam."
Maryam tersenyum.
"Sudah merencanakan semuanya?"
"Belum."
"Terus?"
"Aku cuma ingin punya keluarga."
Maryam menunduk.
Yusuf kemudian meraih tangannya.
"Kita sudah punya rumah."
Maryam mengangguk.
"Dan kita punya satu sama lain."
Mereka tidak tahu bahwa beberapa bulan kemudian, dua kalimat itu akan menjadi satu-satunya alasan mereka tetap bertahan.
Suara yang Datang dari Langit
Malam itu awalnya tenang.
Terlalu tenang.
Yusuf sedang duduk di ruang tengah ketika listrik kembali padam.
Ia menyalakan lampu darurat.
Maryam berada di dapur.
"Yusuf."
"Iya?"
"Persediaan air tinggal sedikit."
"Besok kita cari."
Maryam mengangguk.
Kemudian terdengar suara.
Jauh.
Samar.
Seperti dentuman yang datang dari tempat lain.
Mereka berdua terdiam.
Beberapa detik kemudian suara kedua terdengar.
Lebih dekat.
Yusuf berdiri.
"Maryam, ke sini."
Maryam keluar dari dapur.
"Apa?"
"Jangan jauh-jauh."
Mereka berdiri di ruang tengah.
Kemudian suara ledakan ketiga terdengar.
Lebih keras.
Jendela bergetar.
Maryam refleks menutup telinga.
Yusuf memegang tangannya.
"Jangan panik."
Ledakan berikutnya terdengar.
Kali ini rumah mereka bergetar.
Sebuah benda jatuh dari rak.
Foto pernikahan mereka bergeser.
Maryam menatap dinding.
"Yusuf..."
"Ayo."
Mereka bergerak menuju bagian rumah yang menurut Yusuf lebih aman.
Tetapi sebelum mereka sampai, suara ledakan yang jauh lebih besar mengguncang kawasan tersebut.
Cahaya putih memenuhi jendela.
Kemudian semuanya menjadi gelap.
Sangat gelap.
Suara runtuhan terdengar dari atas.
Dinding seperti bergerak.
Maryam berteriak.
Yusuf menarik tubuh istrinya.
"Maryam!"
"Aku di sini!"
Debu memenuhi udara.
Mereka tidak dapat melihat apa pun.
Yusuf meraba lantai.
"Pegang tanganku!"
Maryam menggenggamnya.
"Sakit..."
"Di mana?"
"Kakiku."
Yusuf berusaha menariknya.
Sebuah bagian plafon runtuh.
Mereka terjatuh.
Untuk beberapa detik, tidak ada suara selain batuk.
Kemudian Yusuf mendengar tangisan.
"Maryam?"
Tidak ada jawaban.
"Maryam!"
"Aku di sini..."
Yusuf merangkak menuju suara itu.
Tangannya menyentuh tangan istrinya.
"Aku di sini."
Maryam menggenggam tangannya erat.
"Aku takut."
"Aku juga."
Untuk pertama kalinya sejak mereka menikah, Yusuf mengaku bahwa ia takut.
Bukan karena ia ingin membuat Maryam tenang.
Bukan karena ia ingin terlihat kuat.
Tetapi karena malam itu ia benar-benar takut.
Ia takut kehilangan istrinya.
Ia takut rumah mereka runtuh seluruhnya.
Ia takut mereka tidak akan keluar.
Ia takut pagi tidak akan pernah datang.
Di Bawah Reruntuhan
Mereka terjebak.
Debu memenuhi paru-paru.
Maryam menangis pelan.
Yusuf terus berbicara agar mereka tetap sadar.
"Maryam."
"Iya."
"Masih bersamaku?"
"Iya."
"Bagus."
"Yusuf."
"Iya?"
"Kalau kita tidak bisa keluar..."
Yusuf langsung memotong.
"Jangan bicara begitu."
"Tapi kalau..."
"Kita akan keluar."
"Bagaimana?"
"Kita akan mencari jalan."
Yusuf meraba sekeliling.
Tangannya menyentuh pecahan kayu.
Ia mencoba mendorong sesuatu.
Tidak bergerak.
Ia mencoba lagi.
Tidak berhasil.
"Yusuf..."
"Aku di sini."
"Aku ingin pulang."
Yusuf terdiam.
Kalimat itu membuat dadanya sesak.
Mereka berada di rumah mereka.
Tetapi Maryam sudah mengatakan ingin pulang.
Karena rumah yang mereka kenal telah berubah menjadi tempat yang tidak mereka kenali.
Yusuf mendekatkan wajahnya.
"Kita akan pulang."
"Ke mana?"
"Ke tempat yang aman."
Maryam menangis.
"Aku ingin rumah kita."
Yusuf memejamkan mata.
Ia tidak tahu harus menjawab apa.
Rumah itu mungkin sudah tidak ada.
Tetapi ia tidak sanggup mengatakan itu kepada istrinya.
Jadi ia hanya berkata,
"Insyaallah."
Jalan Keluar
Entah berapa lama mereka berada di bawah reruntuhan.
Waktu terasa berhenti.
Yusuf akhirnya menemukan celah kecil.
Udara masuk dari sana.
Ia menggunakan pecahan besi untuk memperlebar celah.
Tangannya terluka.
Darah mengalir dari telapak tangannya.
Tetapi ia terus menggali.
Sedikit demi sedikit.
Sampai akhirnya cahaya terlihat.
"Maryam."
"Iya?"
"Aku menemukan jalan."
Maryam mencoba bergerak.
Kakinya sakit.
Yusuf membantu.
Mereka merangkak melalui celah sempit.
Debu menempel di wajah mereka.
Pakaian mereka penuh tanah.
Ketika akhirnya keluar, Maryam menatap bangunan itu.
Atau lebih tepatnya, sisa bangunan itu.
Bagian depan rumah telah runtuh.
Atap sebagian hilang.
Dinding retak.
Ruang tamu tempat mereka duduk setiap malam sudah tidak berbentuk.
Foto pernikahan mereka tidak terlihat.
Maryam berdiri diam.
Yusuf memegang bahunya.
"Jangan lihat."
Tetapi Maryam tetap melihat.
"Itu rumah kita."
Yusuf tidak menjawab.
"Itu rumah kita, Yusuf."
"Iya."
"Sudah tidak ada."
Yusuf menarik napas.
"Kita masih ada."
Maryam menatapnya.
Yusuf memegang wajah istrinya.
"Kita masih ada."
Maryam memeluknya.
Dan untuk pertama kalinya sejak mereka menikah, mereka menangis bukan karena kebahagiaan.
Mereka menangis karena menyadari bahwa tempat yang mereka sebut rumah telah berubah menjadi reruntuhan.
Malam Tanpa Rumah
Mereka berjalan bersama warga lain.
Tidak ada lagi rasa seperti sebuah keluarga kecil yang baru menikah.
Mereka menjadi bagian dari arus manusia yang bergerak mencari tempat aman.
Ada ibu membawa bayi.
Ada lelaki tua dengan tongkat.
Ada anak-anak yang menangis.
Ada orang-orang yang membawa tas kecil berisi apa pun yang berhasil mereka selamatkan.
Sebagian tidak membawa apa-apa.
Yusuf hanya membawa satu botol air.
Maryam membawa tas kecil.
Mereka tidak sempat mengambil banyak barang.
Mereka bahkan tidak sempat mencari foto pernikahan.
Maryam beberapa kali menoleh.
Rumah itu semakin jauh.
"Aku lupa sesuatu," katanya.
"Apa?"
"Foto kita."
Yusuf terdiam.
Maryam menunduk.
"Itu satu-satunya foto besar yang kita punya."
Yusuf meraih tangannya.
"Foto bisa dibuat lagi."
"Tapi rumahnya?"
Yusuf tidak menjawab.
Mereka terus berjalan.
Malam semakin dingin.
Mereka akhirnya menemukan tempat berlindung sementara.
Tidak nyaman.
Tidak luas.
Tetapi setidaknya ada atap.
Maryam duduk di sudut.
Yusuf memberikan botol air.
"Minum."
"Kamu?"
"Nanti."
"Kita bagi."
Maryam minum sedikit.
Kemudian memberikan botol itu kembali.
Yusuf minum.
Mereka duduk berdampingan.
Tidak banyak yang dapat mereka katakan.
Rumah mereka telah hilang.
Tetapi malam itu, mereka masih memiliki satu sama lain.
Peta dari Sebuah Layar
Beberapa hari kemudian, Yusuf mendapatkan kesempatan menggunakan telepon seseorang.
Koneksi internet tidak selalu stabil.
Tetapi ia ingin mengetahui kondisi kawasan mereka.
Seseorang mengatakan bahwa citra satelit terbaru telah tersedia di Google Earth.
Yusuf membuka aplikasi itu.
Maryam duduk di sampingnya.
"Kenapa?"
"Aku ingin melihat rumah."
Maryam menatap layar.
Yusuf memasukkan lokasi.
Peta muncul.
Kemudian ia memperbesar.
Mereka menemukan kawasan tempat mereka tinggal.
Yusuf terdiam.
Maryam mendekat.
Di layar, kawasan itu terlihat dari atas.
Tetapi tidak seperti yang mereka ingat.
Bangunan-bangunan yang dulu memenuhi kawasan tersebut kini banyak yang tidak lagi terlihat sebagai rumah.
Sebagian menjadi bentuk-bentuk abu-abu.
Sebagian tampak seperti struktur yang runtuh.
Sebagian kawasan terlihat kosong.
Maryam menutup mulut.
"Di sana."
Yusuf memperbesar.
"Itu rumah kita."
"Yakin?"
"Ya."
Maryam melihat layar lama-lama.
Tidak ada halaman kecil.
Tidak ada atap.
Tidak ada kursi kayu.
Tidak ada bunga.
Hanya sisa bangunan.
Yusuf menggeser peta.
Di layar, rumah mereka hanya terlihat sebagai bagian kecil dari kawasan yang jauh lebih luas.
Dan saat itu Yusuf menyadari sesuatu.
Rumah mereka bukan satu-satunya yang hilang.
Sekolah hilang.
Toko hilang.
Jalan berubah.
Bangunan-bangunan yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat juga telah rusak atau hancur.
Pembaruan citra satelit itu memperlihatkan sesuatu yang tidak selalu terlihat dari darat: skala kehancuran yang membentang dari satu kawasan ke kawasan lain.
Spirit of Aqsa mencatat bahwa warga Gaza menggunakan citra Google Earth untuk mencari rumah, sekolah, jalan, dan lingkungan yang pernah menjadi bagian hidup mereka. Salah satu warga bahkan menekankan bahwa citra satelit hanya menunjukkan apa yang pernah ada, bukan seluruh kenyataan yang terjadi setelah kehancuran.
Maryam menatap layar.
"Jadi sekarang kita hanya punya alamat."
Yusuf menggeleng.
"Tidak."
"Apa?"
"Kenangan."
Angka-Angka yang Terlalu Besar
Beberapa hari kemudian, Yusuf membaca laporan mengenai kerusakan bangunan di Gaza.
Angka-angka memenuhi layar.
Ratusan ribu.
Bangunan.
Rumah.
Tempat tinggal.
Ia membaca perlahan.
Data UNOSAT yang dikutip dalam laporan yang menjadi dasar cerita ini menyebut sekitar 201.290 bangunan mengalami kerusakan, dengan kategori mulai dari hancur hingga rusak dan diduga rusak.
Yusuf berhenti membaca.
Ia menatap Maryam.
"201.290."
Maryam tidak mengerti.
"Apa?"
"Bangunan."
"Berapa banyak?"
"Lebih dari dua ratus ribu."
Maryam terdiam.
Yusuf kembali melihat layar.
Di laporan itu, angka bukan sekadar angka.
Setiap angka mungkin berarti sebuah ruang tamu.
Sebuah kamar.
Sebuah dapur.
Sebuah meja makan.
Sebuah tempat seorang ibu menyiapkan sarapan.
Sebuah tempat seorang ayah menyimpan sepatu.
Sebuah kamar anak.
Sebuah foto keluarga.
Sebuah Al-Qur'an.
Sebuah kehidupan.
Maryam berkata pelan,
"Kalau satu rumah berarti satu keluarga..."
Yusuf tidak menjawab.
Ia tahu tidak sesederhana itu.
Satu bangunan bisa berisi banyak keluarga.
Satu kawasan bisa menjadi tempat hidup ribuan orang.
Dan kerusakan bangunan berarti kerusakan ruang hidup.
Angka 201.290 terasa terlalu besar untuk dibayangkan.
Tetapi Yusuf memahami satu hal.
Ia tidak perlu membayangkan 201.290 rumah.
Ia hanya perlu melihat satu.
Rumahnya sendiri.
Rumah yang pernah ia cat.
Rumah tempat ia pertama kali memanggil Maryam sebagai istrinya.
Rumah yang sekarang hanya bisa ia lihat dari layar.
Rumah yang Hilang
Maryam kembali membuka peta.
"Kalau dilihat dari sini," katanya, "rumah kita cuma seperti titik."
Yusuf mengangguk.
"Itu masalahnya."
"Apa?"
"Di peta, semuanya terlihat sederhana."
Maryam menatapnya.
"Rumah runtuh."
"Iya."
"Jalan rusak."
"Iya."
"Bangunan hilang."
"Iya."
"Tapi tidak terlihat apa yang ada di dalamnya."
Yusuf mengangguk.
Tidak terlihat mainan.
Tidak terlihat buku.
Tidak terlihat pakaian.
Tidak terlihat foto.
Tidak terlihat makanan yang belum sempat dihabiskan.
Tidak terlihat orang-orang yang menangis.
Tidak terlihat seseorang yang mencari keluarganya.
Tidak terlihat seorang pengantin baru yang kehilangan rumah tiga bulan setelah menikah.
Satelit dapat melihat bentuk bangunan.
Tetapi tidak dapat melihat kenangan.
Ia dapat melihat atap yang runtuh.
Tetapi tidak dapat melihat seseorang yang pernah tidur di bawahnya.
Ia dapat melihat jalan.
Tetapi tidak dapat melihat langkah kaki yang selama bertahun-tahun melewatinya.
Ia dapat melihat tanah.
Tetapi tidak dapat melihat kehidupan yang pernah tumbuh di atasnya.
Janji di Tengah Pengungsian
Hari-hari berlalu.
Yusuf dan Maryam berpindah beberapa kali.
Setiap tempat memiliki cerita sendiri.
Kadang mereka tidur di lantai.
Kadang di dalam tenda.
Kadang mereka hanya duduk berdekatan sampai pagi.
Maryam tetap berusaha menjaga rutinitas kecil.
Ia membantu anak-anak belajar membaca.
Yusuf membantu memperbaiki peralatan yang rusak.
Salah satu relawan memberinya alat sederhana.
"Masih bisa bekerja?"
Yusuf tersenyum.
"Selama tangan saya masih bisa bergerak."
Ia memperbaiki lampu.
Memperbaiki kabel.
Membantu mengisi daya telepon.
Hal-hal kecil.
Tetapi bagi orang-orang di sekitar mereka, hal kecil berarti banyak.
Maryam melihat suaminya bekerja.
Ia tahu Yusuf tidak bisa memperbaiki rumah mereka.
Tetapi ia tetap memperbaiki apa pun yang masih dapat diperbaiki.
Suatu malam Maryam berkata,
"Kamu tahu?"
"Apa?"
"Kamu masih sama seperti waktu kita menikah."
"Bagaimana?"
"Selalu memperbaiki sesuatu."
Yusuf tertawa.
"Bedanya sekarang yang rusak lebih banyak."
Maryam tersenyum.
Kemudian suasana menjadi hening.
"Yusuf."
"Iya?"
"Kalau nanti kita selamat..."
"Kita akan selamat."
"Kalau nanti kita punya rumah lagi..."
"Kita akan punya."
"Aku ingin rumahnya kecil."
Yusuf menatapnya.
"Kenapa?"
"Supaya mudah kita bersihkan."
Yusuf tertawa.
"Dan?"
"Aku ingin ada jendela besar."
"Untuk apa?"
"Supaya matahari masuk."
"Dan?"
"Aku ingin halaman."
"Untuk bunga?"
Maryam mengangguk.
"Dan satu pohon."
"Jenis apa?"
Maryam berpikir.
"Zaitun."
Yusuf tersenyum.
"Baik."
"Dan ruang untuk anak-anak."
Yusuf terdiam.
Maryam melihatnya.
"Kamu masih mau?"
"Apa?"
"Memiliki keluarga."
Yusuf meraih tangannya.
"Lebih dari sebelumnya."
Hujan
Kemudian hujan turun.
Awalnya hanya gerimis.
Tetapi hujan di tempat pengungsian bukan sekadar hujan.
Tanah menjadi lumpur.
Air masuk dari sisi tenda.
Selimut menjadi lembap.
Orang-orang berusaha mengangkat barang.
Yusuf membantu beberapa keluarga.
Maryam memegang tas mereka.
Hujan semakin deras.
Seseorang berteriak agar semua orang menjauh dari sebuah bangunan yang rusak.
Struktur bangunan itu terlihat retak.
Beberapa bagian dinding telah runtuh.
Yusuf melihat ke arah tersebut.
Ia teringat rumah mereka.
Terutama bagian dinding yang retak.
Ia teringat suara runtuhan.
Peringatan tentang bangunan yang rusak bukan sesuatu yang abstrak bagi mereka.
Bangunan yang terlihat masih berdiri belum tentu aman.
Kerusakan struktural dapat menjadi ancaman baru bagi orang-orang yang masih bertahan.
Dalam laporan yang menjadi konteks cerita ini, PBB juga memperingatkan risiko dari bangunan yang mengalami kerusakan struktural. Pada September 2026, keruntuhan sebuah bangunan rusak di Tal al-Hawa, Gaza City, dilaporkan menewaskan sedikitnya 21 orang, termasuk delapan anak.
Maryam berdiri di samping Yusuf.
"Kita harus pergi dari sini."
Yusuf mengangguk.
Mereka membantu orang lain berpindah.
Saat berjalan, Maryam melihat seorang anak kecil memegang mainan yang kotor oleh lumpur.
Ia berhenti.
"Kenapa?"
"Dia kehilangan rumah."
Yusuf menatap anak itu.
Kemudian Maryam memberikan sesuatu dari tasnya.
Sebuah boneka kecil yang ia temukan beberapa hari sebelumnya.
Anak itu menerimanya.
"Untukmu."
Anak tersebut tersenyum.
Yusuf melihat istrinya.
Maryam tersenyum.
Mereka mungkin telah kehilangan rumah.
Tetapi mereka masih bisa menjadi tempat aman bagi seseorang selama beberapa menit.
Gencatan Senjata yang Tak Terasa Seperti Damai
Berita mengenai gencatan senjata pernah membawa harapan.
Orang-orang berharap suara ledakan akan berhenti.
Orang-orang berharap mereka dapat pulang.
Orang-orang berharap dapat membuka kembali toko.
Anak-anak berharap dapat kembali sekolah.
Keluarga berharap dapat mencari anggota keluarga yang hilang.
Tetapi kenyataan di lapangan tetap penuh ketidakpastian.
Laporan PBB yang dirujuk dalam bahan tersebut menyebut bahwa setelah gencatan senjata mulai berlaku pada 10 Oktober 2025, serangan udara, penembakan, dan aktivitas militer masih dilaporkan berlangsung, sementara akses kemanusiaan menghadapi berbagai pembatasan.
Bagi Yusuf dan Maryam, istilah "gencatan senjata" terdengar seperti sesuatu yang jauh.
Mereka ingin mempercayainya.
Tetapi suara ledakan yang masih terdengar membuat mereka sulit benar-benar merasa aman.
Setiap suara keras membuat Maryam terbangun.
Kadang ia terbangun sambil mencari tangan Yusuf.
Yusuf selalu menggenggamnya.
"Di sini."
Maryam membuka mata.
"Kamu di sini?"
"Iya."
"Rumah kita?"
Yusuf diam.
Maryam memahami jawabannya.
Ia memejamkan mata kembali.
Kemudian Yusuf berkata,
"Suatu hari kita akan punya rumah lagi."
Maryam tidak menjawab.
Tetapi tangannya menggenggam tangan Yusuf lebih kuat.
Foto yang Lenyap
Beberapa minggu kemudian, Yusuf mendapatkan kabar dari seorang tetangga.
Ada orang yang berhasil kembali ke kawasan rumah mereka.
Yusuf bertanya tentang kondisi rumah.
"Sudah hancur."
"Semua?"
"Hampir tidak ada yang tersisa."
Yusuf menunduk.
"Apakah ada barang yang bisa ditemukan?"
Orang itu berpikir.
"Mungkin."
Yusuf kemudian teringat sesuatu.
"Foto."
"Foto?"
"Foto pernikahan kami."
Orang tersebut mengangguk.
"Akan saya lihat."
Dua hari kemudian, ia kembali.
Di tangannya ada sebuah benda yang dibungkus kain.
Yusuf membukanya.
Foto itu rusak.
Sebagian sisinya terbakar.
Wajah mereka masih terlihat.
Maryam memegang buket.
Yusuf berdiri di sampingnya.
Mereka tampak muda.
Bahagia.
Tidak tahu apa yang akan terjadi.
Maryam menangis ketika melihatnya.
"Masih ada."
Yusuf tersenyum.
"Katamu sudah hilang."
"Rumahnya yang hilang."
Maryam memegang foto itu.
"Foto kita tidak."
Yusuf memandangnya.
Mereka kemudian menyimpan foto itu di dalam plastik.
Benda kecil itu menjadi salah satu barang paling berharga yang mereka miliki.
Bukan karena harganya.
Tetapi karena foto itu menjadi bukti bahwa sebelum perang mengubah hidup mereka, mereka pernah memiliki hari yang sangat bahagia.
Ribuan Pondok dalam Satu Angka
Suatu malam, Yusuf kembali membuka laporan kerusakan.
Ia membaca angka demi angka.
134.422 bangunan dinyatakan hancur.
13.848 rusak parah.
28.096 rusak sedang.
24.924 diduga mengalami kerusakan.
Total 201.290 bangunan.
Ia membaca lagi.
328.627 unit rumah diperkirakan mengalami kerusakan.
Yusuf menutup telepon.
Maryam bertanya,
"Kenapa?"
"Aku capek melihat angka."
"Angka apa?"
"Semua ini."
Maryam duduk di sampingnya.
Yusuf berkata,
"Kalau kita bilang dua ratus ribu, orang mungkin hanya membayangkan angka."
"Memang."
"Tapi kalau kita bilang rumah pertama milik keluarga ini. Rumah kedua milik keluarga itu. Rumah ketiga tempat seorang anak belajar berjalan..."
Maryam melanjutkan,
"Rumah keempat tempat seorang ibu memasak."
"Rumah kelima tempat seorang ayah pulang kerja."
"Rumah keenam tempat pasangan baru menikah."
Yusuf menatapnya.
"Seperti kita."
Maryam mengangguk.
Mereka terdiam.
Di luar, angin bergerak melewati tenda.
Yusuf berkata,
"Mungkin itulah yang tidak bisa ditunjukkan oleh satelit."
"Apa?"
"Jumlah kehidupan."
Maryam Menulis
Maryam mulai menulis.
Ia menemukan sebuah buku kecil.
Setiap malam ia menulis.
Bukan tentang perang.
Bukan tentang politik.
Bukan tentang angka.
Ia menulis tentang rumah.
Hari pertama ia menulis:
"Rumah kami memiliki dua jendela."
Hari berikutnya:
"Di dapur ada cangkir biru."
Kemudian:
"Yusuf selalu lupa mematikan lampu."
"Maryam selalu menutup pintu dua kali."
"Pada Jumat pagi kami membersihkan rumah."
"Di halaman ada tiga pot."
"Yusuf ingin membeli pohon."
"Maryam ingin bunga."
Ia menulis semuanya.
Karena ia takut lupa.
Suatu malam Yusuf bertanya,
"Kenapa kamu menulis itu semua?"
"Supaya rumah kita tidak hilang sepenuhnya."
Yusuf memahami.
Bangunan mungkin dapat hilang.
Peta dapat berubah.
Foto dapat rusak.
Tetapi cerita masih dapat disimpan.
Nama Sang Buah Hati
Suatu malam Maryam kembali bertanya,
"Kalau kita punya anak nanti, kamu masih mau nama Adam?"
Yusuf tersenyum.
"Masih."
"Kalau perempuan?"
"Fatimah."
Maryam mengangguk.
Kemudian ia berkata,
"Aku ingin mereka tahu rumah pertama kita."
"Mereka belum tentu pernah melihatnya."
"Aku akan ceritakan."
"Bagaimana?"
"Aku akan bilang rumah pertama kami kecil."
Yusuf tersenyum.
"Aku akan bilang ayah mereka suka memperbaiki barang."
Maryam tertawa.
"Aku akan bilang ibunya suka bunga."
"Dan?"
"Dan mereka harus tahu bahwa rumah itu pernah ada."
Yusuf menatap langit-langit tenda.
"Mungkin nanti kita bawa mereka ke sana."
Maryam diam.
"Kalau masih ada."
Yusuf memegang tangannya.
"Kalau tidak ada, kita tunjukkan dari peta."
Maryam tersenyum.
"Dari Google Earth?"
"Iya."
Mereka tertawa kecil.
Untuk pertama kalinya setelah lama, mereka tertawa tentang sesuatu yang tidak menyakitkan.
Hari Ketika Yusuf Kembali
Beberapa bulan kemudian, Yusuf mendapat kesempatan mendekati kawasan lama mereka.
Ia pergi bersama beberapa warga.
Jaraknya tidak jauh.
Tetapi rasanya seperti perjalanan menuju masa lalu.
Ketika tiba, Yusuf tidak langsung mengenali jalan.
Bangunan yang dahulu menjadi penanda telah hilang.
Sebuah toko di ujung jalan sudah tidak ada.
Pohon besar yang dulu menjadi tempat anak-anak bermain juga tidak terlihat.
Yusuf berjalan perlahan.
Ia mengeluarkan ponsel.
Membuka peta.
Kemudian melihat sekeliling.
Ia mencocokkan posisi.
"Di sini."
Ia berdiri.
Inilah tempat rumah mereka.
Tetapi tidak ada rumah.
Tidak ada pintu.
Tidak ada jendela.
Tidak ada kursi.
Hanya puing.
Yusuf mengambil batu kecil.
Kemudian duduk.
Ia mengeluarkan foto pernikahan.
Menatapnya.
"Maryam," katanya pelan.
Ia tahu istrinya tidak berada di sana.
Tetapi ia berbicara seolah-olah Maryam berdiri di sampingnya.
"Ini rumah kita."
Angin bertiup.
Yusuf menutup mata.
Ia teringat malam pertama.
Maryam berdiri di tengah ruang tamu.
"Aku sedang membayangkan nanti kita akan taruh apa di sini."
Foto.
Itu jawabannya.
Foto yang sekarang ia pegang.
Yusuf menangis.
Bukan karena ia ingin menyerah.
Tetapi karena akhirnya ia memahami bahwa rumah bisa hilang tanpa kenangan ikut hilang.
Pulang dengan Tangan Kosong
Yusuf kembali menjelang sore.
Maryam menunggunya.
"Kamu pergi ke sana?"
Yusuf mengangguk.
"Bagaimana?"
Yusuf duduk.
Ia tidak langsung menjawab.
Maryam sudah tahu.
"Tidak ada?"
"Tidak ada rumah."
Maryam menunduk.
Yusuf kemudian memberikan sesuatu.
Batu kecil.
Maryam menatapnya.
"Apa ini?"
"Bagian dari rumah kita."
Maryam menggenggam batu itu.
"Benarkah?"
"Entahlah."
Mereka tertawa kecil.
Maryam kemudian menyimpan batu itu bersama foto pernikahan.
Dua benda.
Satu berasal dari masa lalu.
Satu berasal dari reruntuhan.
Keduanya menjadi simbol kehidupan mereka.
Istana Baru
Waktu berjalan.
Situasi perlahan berubah.
Tidak berarti semuanya menjadi mudah.
Tidak berarti semua orang dapat pulang.
Tidak berarti semua rumah berdiri kembali.
Tetapi manusia selalu mencari cara untuk hidup.
Yusuf mulai bekerja lagi.
Maryam kembali mengajar anak-anak.
Mereka menemukan tempat tinggal sementara yang lebih layak.
Tidak besar.
Tidak seperti rumah lama.
Tetapi memiliki pintu.
Ada jendela.
Ada ruang kecil.
Dan ada tempat untuk dua orang duduk bersama.
Suatu sore Maryam berkata,
"Kita harus mulai lagi."
Yusuf bertanya,
"Mulai apa?"
"Rumah."
Yusuf tersenyum.
"Rumah kita?"
"Iya."
Mereka membeli dua kursi sederhana.
Kemudian sebuah meja kecil.
Maryam mendapatkan beberapa pot.
Yusuf memperbaiki lampu.
Mereka belum memiliki banyak barang.
Tetapi perlahan ruangan itu mulai terasa seperti rumah.
Maryam menggantung foto pernikahan mereka.
Foto yang rusak itu ditempatkan di dinding.
Yusuf melihatnya.
"Kenapa tidak kita ganti dengan foto baru?"
Maryam menggeleng.
"Yang ini tetap."
"Kenapa?"
"Karena ini mengingatkan kita."
"Tentang apa?"
Maryam menatap foto tersebut.
"Bahwa kita pernah kehilangan rumah."
Kemudian ia menatap Yusuf.
"Tapi kita tidak kehilangan satu sama lain."
Pohon Zaitun
Beberapa waktu kemudian, Yusuf membawa pulang sebuah bibit kecil.
Maryam terkejut.
"Apa itu?"
"Pohon."
Maryam tersenyum.
"Zaitun?"
Yusuf mengangguk.
Maryam memeluknya.
Mereka menanam bibit itu di depan tempat tinggal mereka.
Tanahnya tidak sempurna.
Tetapi mereka menggali lubang.
Memasukkan bibit.
Menutupnya dengan tanah.
Maryam menyiramnya.
Yusuf memasang penyangga.
Kemudian mereka duduk di depannya.
"Kalau besar nanti," kata Maryam, "kita akan duduk di bawahnya."
Yusuf mengangguk.
"Dan anak-anak kita akan bermain di sini."
Maryam tersenyum.
"Adam dan Fatimah?"
"Kalau jadi."
Maryam tertawa.
"Masih saja."
Yusuf tertawa.
Mereka memandang bibit kecil itu.
Pohon itu masih terlalu kecil untuk memberikan bayangan.
Tetapi mereka tidak keberatan.
Tidak semua hal harus langsung besar.
Kadang sesuatu hanya perlu ditanam.
Peta yang Berubah
Suatu malam Yusuf kembali membuka Google Earth.
Maryam duduk di sampingnya.
Mereka mencari kawasan lama.
Citra satelit itu masih menunjukkan kehancuran.
Kawasan yang dahulu padat kini terlihat berubah.
Yusuf memperbesar.
Maryam berkata,
"Jangan terlalu lama."
"Kenapa?"
"Aku tidak ingin melihatnya terus."
Yusuf mengangguk.
Kemudian ia menutup peta.
"Benar."
Maryam bertanya,
"Kenapa kamu sering membukanya?"
Yusuf berpikir.
"Mungkin karena aku ingin memastikan rumah kita benar-benar pernah ada."
Maryam tersenyum.
"Kamu tidak perlu peta untuk itu."
Yusuf melihatnya.
"Kenapa?"
"Karena aku masih ingat."
Yusuf tersenyum.
"Aku juga."
Apa yang Tertinggal
Ada benda-benda yang tidak pernah ditemukan.
Cangkir pertama mereka.
Kursi kayu.
Buku Maryam.
Alat kerja Yusuf.
Beberapa pakaian.
Surat-surat.
Hadiah pernikahan.
Barang-barang kecil yang sebenarnya tidak mahal.
Tetapi setiap benda memiliki cerita.
Kehilangan rumah membuat Yusuf dan Maryam mengerti bahwa manusia sering baru memahami nilai sesuatu setelah benda itu hilang.
Mereka dulu menganggap kursi hanyalah kursi.
Sekarang, ketika mengingatnya, kursi itu adalah tempat Maryam duduk sambil membaca.
Meja hanyalah meja.
Tetapi meja itu adalah tempat mereka makan malam.
Jendela hanyalah jendela.
Tetapi dari sana mereka pernah melihat hujan.
Dinding hanyalah dinding.
Tetapi di sana foto pernikahan mereka pernah tergantung.
Rumah bukan kumpulan benda.
Rumah adalah kumpulan kenangan.
Dan ketika bangunannya hilang, kenangan tetap mencari tempat untuk tinggal.
Anak-Anak yang Bertanya
Suatu sore Maryam mengajar beberapa anak.
Seorang anak bertanya,
"Kak Maryam, rumah kakak di mana?"
Maryam terdiam.
"Sudah tidak ada."
"Kenapa?"
"Rusak."
"Karena perang?"
Maryam mengangguk.
Anak itu berpikir.
"Kalau rumahnya rusak, kakak tidur di mana?"
Maryam tersenyum.
"Di rumah baru."
"Bagus?"
"Belum sebagus rumah dulu."
Anak itu bertanya lagi,
"Rumah dulu seperti apa?"
Maryam menunjuk foto kecil yang ia bawa.
"Seperti ini."
Anak-anak melihat.
"Ini Kak Maryam?"
"Iya."
"Dan ini siapa?"
"Suamiku."
Anak-anak tertawa.
Maryam ikut tertawa.
Kemudian seorang anak berkata,
"Berarti rumah itu masih ada."
Maryam terdiam.
"Kenapa kamu bilang begitu?"
"Karena ada fotonya."
Maryam tersenyum.
"Benar."
Anak itu mungkin tidak tahu.
Tetapi kalimat sederhananya membuat Maryam merasa lebih ringan.
Rumah itu memang sudah tidak berdiri.
Tetapi kisahnya masih ada.
Malam yang Berbeda
Suatu malam, setelah sekian lama, Yusuf dan Maryam duduk di luar.
Pohon zaitun kecil mereka tumbuh beberapa daun baru.
Langit gelap.
Udara lebih tenang.
Maryam membawa dua cangkir teh.
Yusuf menerima satu.
"Masih ingat?"
"Apa?"
"Malam pertama di rumah kita."
Yusuf tersenyum.
"Kamu berdiri di ruang tengah."
"Kamu tanya kenapa aku melihat dinding."
"Dan kamu bilang mau menggantung foto."
Maryam mengangguk.
"Foto itu masih ada."
"Iya."
"Rumahnya tidak."
Yusuf menatap pohon kecil.
"Rumah bisa dibangun lagi."
Maryam menatapnya.
"Tapi tidak sama."
"Memang."
"Jadi?"
Yusuf tersenyum.
"Rumah baru tidak harus sama dengan rumah lama."
Maryam mengangguk.
"Kita buat cerita baru."
"Dan cerita lama?"
"Kita simpan."
Mereka diam.
Tidak semua luka harus dilupakan.
Ada luka yang cukup diterima sebagai bagian dari perjalanan.
Surat untuk Rumah Lama
Pada suatu malam, Maryam menulis surat.
Bukan untuk manusia.
Bukan untuk pemerintah.
Bukan untuk siapa pun.
Ia menulis untuk rumah lama mereka.
"Untuk rumah kecil kami,
Aku tidak tahu apakah kau masih memiliki satu dinding yang berdiri.
Aku tidak tahu apakah pintu yang pernah kami buka setiap pagi masih ada.
Aku tidak tahu apakah bunga yang pernah kutanam masih bisa tumbuh di tanahmu.
Tetapi aku ingin mengucapkan terima kasih.
Terima kasih karena pernah menjadi tempat kami memulai pernikahan.
Terima kasih karena pernah menyimpan suara tawa kami.
Terima kasih karena pernah melindungi kami dari panas dan dingin.
Terima kasih karena pernah menjadi tempat kami berdoa.
Kami pergi bukan karena ingin meninggalkanmu.
Kami pergi karena keadaan memaksa.
Kalau suatu hari kami bisa kembali, mungkin kami tidak akan menemukanmu seperti dahulu.
Tidak apa-apa.
Kami akan mengingatmu seperti ketika kau masih utuh.
Dengan dinding putih.
Dengan dua jendela.
Dengan kursi kayu.
Dengan foto pernikahan.
Dengan suara dua orang yang sedang belajar menjadi keluarga.
Selamat tinggal, rumah kami.
Kami tidak akan melupakanmu."
Maryam melipat surat itu.
Yusuf membacanya.
"Kamu mau melakukan apa dengan surat ini?"
"Menyimpannya."
"Di mana?"
"Di samping foto."
Yusuf mengangguk.
Gubuk Tanpa Dinding
Bertahun-tahun kemudian, mungkin seseorang akan melihat peta Gaza.
Mereka mungkin melihat kawasan yang telah dibangun kembali.
Mungkin jalan-jalan baru.
Mungkin rumah-rumah baru.
Mungkin sekolah.
Mungkin pasar.
Mungkin masjid.
Tetapi bagi orang-orang yang pernah tinggal di sana, peta itu tidak pernah sekadar peta.
Setiap garis memiliki kenangan.
Setiap jalan memiliki nama.
Setiap bangunan pernah memiliki penghuni.
Setiap rumah pernah menyimpan kehidupan.
Yusuf dan Maryam memahami hal itu setelah kehilangan rumah mereka.
Mereka tidak lagi mengukur rumah berdasarkan luas.
Tidak berdasarkan jumlah kamar.
Tidak berdasarkan warna dinding.
Mereka mengukurnya berdasarkan rasa aman.
Berdasarkan siapa yang berada di dalamnya.
Berdasarkan kenangan yang diciptakan.
Karena rumah adalah tempat seseorang berkata,
"Aku pulang."
Dan ketika rumah itu hilang, kalimat tersebut tetap hidup dalam ingatan.
Ketika Citra Satelit Menjadi Arsip Kehilangan
Pembaruan citra satelit yang memperlihatkan perubahan Gaza akhirnya menjadi perhatian banyak orang.
Dari udara, kehancuran tampak seperti pola.
Bangunan.
Reruntuhan.
Jalan.
Ruang kosong.
Tetapi bagi Yusuf dan Maryam, citra itu memiliki arti berbeda.
Mereka melihat satu titik.
Dan di dalam satu titik itu ada tiga bulan pernikahan.
Ada makan malam.
Ada doa.
Ada pertengkaran kecil.
Ada tawa.
Ada rencana memiliki anak.
Ada foto pernikahan.
Ada mimpi.
Kemudian ada ledakan.
Kemudian ada reruntuhan.
Kemudian ada kehilangan.
Citra satelit dapat menunjukkan perubahan lanskap.
Tetapi manusia memberikan makna pada lanskap tersebut.
Itulah sebabnya ketika Yusuf melihat peta, ia tidak melihat bangunan.
Ia melihat Maryam.
Ia melihat dirinya sendiri.
Ia melihat dua orang yang pernah percaya bahwa mereka akan menjalani kehidupan sederhana di rumah kecil itu.
Mereka yang Masih Bertahan
Yusuf dan Maryam bukan satu-satunya.
Di sekitar mereka, ada banyak keluarga dengan cerita masing-masing.
Ada orang tua yang kehilangan rumah.
Ada anak-anak yang kehilangan sekolah.
Ada pedagang yang kehilangan toko.
Ada keluarga yang kehilangan album foto.
Ada pasangan yang kehilangan tempat mereka memulai kehidupan.
Ada orang-orang yang tidak tahu apakah mereka masih memiliki rumah untuk kembali.
Dan ada orang-orang yang bahkan tidak memiliki kesempatan untuk mencari tahu.
Karena itulah sebuah bangunan yang hancur tidak pernah hanya berarti beton yang jatuh.
Ia berarti hilangnya ruang hidup.
Hilangnya rasa aman.
Hilangnya rutinitas.
Hilangnya tempat pulang.
Dan proses membangun kembali bukan hanya tentang mendirikan tembok.
Ia tentang mengembalikan kehidupan.
Rumah yang Dibangun dari Awal
Beberapa tahun setelah malam itu, Yusuf dan Maryam kembali menanam pohon.
Bukan satu.
Lima.
Maryam tertawa ketika melihat Yusuf menggali tanah.
"Kamu terlalu banyak."
Yusuf menggeleng.
"Supaya kalau satu mati, masih ada yang lain."
Maryam tersenyum.
"Kamu belajar dari perang?"
Yusuf menatapnya.
"Mungkin."
Mereka menanam pohon-pohon itu bersama.
Kemudian membangun rumah kecil.
Tidak mewah.
Tetapi memiliki dua jendela besar.
Ada ruang untuk salat.
Ada ruang untuk anak-anak.
Ada halaman.
Dan ada satu pohon zaitun di depan rumah.
Maryam menggantung foto pernikahan mereka di dinding.
Foto itu sudah tua.
Sudutnya rusak.
Warnanya memudar.
Tetapi wajah mereka masih terlihat.
Yusuf berdiri di sampingnya.
"Bagus?"
Maryam mengangguk.
"Sangat."
"Kenapa?"
"Karena itu kita."
Yusuf tersenyum.
Adam dan Fatimah
Beberapa tahun kemudian, Yusuf dan Maryam akhirnya memiliki anak.
Seorang anak laki-laki.
Namanya Adam.
Kemudian seorang anak perempuan.
Namanya Fatimah.
Mereka tumbuh di rumah kecil yang dibangun kembali.
Suatu sore Adam bertanya,
"Ayah, rumah pertama Ayah di mana?"
Yusuf tersenyum.
"Di sana."
Ia menunjukkan sebuah foto.
"Ini?"
"Iya."
"Kenapa tidak ada sekarang?"
"Karena rumah itu hancur."
"Siapa yang menghancurkan?"
Yusuf diam sejenak.
Ia tidak ingin anaknya tumbuh tanpa mengetahui sejarah.
Tetapi ia juga tidak ingin kebencian menjadi satu-satunya warisan.
Ia berkata,
"Perang menghancurkan banyak rumah."
Adam menatap foto.
"Apakah Ayah sedih?"
"Ya."
"Terus kenapa Ayah tersenyum?"
Yusuf memandang Maryam.
"Karena setelah rumah itu hilang, Ayah dan Ibumu masih punya satu sama lain."
Adam berpikir.
Kemudian bertanya,
"Berarti rumah itu ada di mana sekarang?"
Maryam menjawab,
"Di hati kami."
Adam tertawa.
"Rumah di hati?"
Maryam mengangguk.
"Iya."
Kunci
Bertahun-tahun kemudian, kunci rumah lama itu masih ada.
Maryam menyimpannya di sebuah kotak kecil.
Di sampingnya ada foto pernikahan.
Ada surat yang pernah ia tulis.
Ada batu kecil yang dibawa Yusuf dari reruntuhan.
Adam pernah menemukan kotak itu.
"Ibu, ini apa?"
"Kunci."
"Untuk pintu?"
"Iya."
"Mana pintunya?"
Maryam tersenyum.
"Sudah tidak ada."
Adam terlihat bingung.
"Lalu kenapa disimpan?"
Maryam menjawab,
"Karena pernah ada."
Adam memegang kunci tersebut.
Kecil.
Tua.
Berkarat sedikit.
Tetapi penting.
Yusuf datang dan melihat mereka.
Ia berkata,
"Kunci itu bukan untuk membuka rumah."
"Terus?"
"Untuk membuka ingatan."
Adam tidak benar-benar memahami.
Tetapi ia menyimpan kembali kunci itu dengan hati-hati.
Dari Atas dan Dari Bawah
Suatu hari, Adam melihat citra satelit.
Ia melihat kawasan Gaza dari atas.
Ia melihat bangunan.
Jalan.
Reruntuhan.
Rumah baru.
Kemudian ia melihat rumah ayah dan ibunya.
Ia bertanya,
"Apakah dari satelit orang bisa tahu siapa yang tinggal di sini?"
Yusuf menggeleng.
"Tidak."
"Kenapa?"
"Karena satelit melihat bangunan."
"Kalau begitu siapa yang melihat manusia?"
Yusuf tersenyum.
"Manusia."
Adam terdiam.
Kemudian ia memahami sesuatu.
Peta dapat menunjukkan tempat.
Tetapi hanya manusia yang dapat menceritakan kehidupan di tempat itu.
Itulah sebabnya Yusuf dan Maryam terus bercerita.
Tentang rumah lama.
Tentang kehidupan mereka.
Tentang kehilangan.
Tentang harapan.
Bukan untuk hidup di masa lalu.
Tetapi agar masa lalu tidak dihapus begitu saja.
Rumah yang Tak Hilang
Pada suatu malam, Maryam kembali membuka kotak kecil.
Ia mengeluarkan foto.
Yusuf duduk di sampingnya.
Mereka melihat foto itu bersama.
Dua orang muda.
Pengantin baru.
Belum tahu apa yang akan terjadi.
Belum tahu bahwa rumah mereka akan hancur.
Belum tahu bahwa mereka akan tidur di tempat pengungsian.
Belum tahu bahwa suatu hari anak-anak mereka akan bertanya tentang rumah pertama mereka.
Maryam tersenyum.
"Kita kelihatan bahagia."
"Kita memang bahagia."
"Padahal kita tidak tahu apa-apa."
"Kadang ketidaktahuan membuat kita bisa menikmati hari."
Maryam mengangguk.
Yusuf memegang tangannya.
"Kalau aku boleh mengulang semuanya..."
Maryam menatapnya.
"Aku tetap akan menikah denganmu."
Maryam tersenyum.
"Aku juga."
Epilog: Kediaman dalam Ingatan
Citra satelit terus berubah.
Teknologi terus berkembang.
Peta terus diperbarui.
Kawasan yang dahulu tidak terlihat jelas kini dapat dilihat dari udara.
Dari layar, dunia dapat menyaksikan perubahan sebuah kota.
Tetapi bagi orang-orang yang pernah hidup di sana, perubahan itu memiliki wajah.
Ada wajah ibu.
Ada wajah ayah.
Ada wajah anak.
Ada pasangan muda.
Ada guru.
Ada pedagang.
Ada dokter.
Ada pelajar.
Ada orang-orang biasa yang hanya ingin hidup.
Di salah satu titik pada peta, pernah berdiri sebuah rumah kecil.
Rumah Yusuf dan Maryam.
Rumah itu kini tidak lagi ada.
Tetapi jika seseorang bertanya di mana rumah mereka, Yusuf tidak akan menunjuk peta.
Ia akan menunjuk Maryam.
Karena rumah itu telah berpindah.
Dari dinding ke ingatan.
Dari pintu ke cerita.
Dari halaman ke hati.
Dan mungkin itulah hal yang tidak dapat dihancurkan oleh perang.
Kenangan tentang rumah.
Kenangan tentang orang yang dicintai.
Dan harapan untuk membangunnya kembali.
Di halaman rumah baru mereka, pohon zaitun tumbuh semakin besar.
Anak-anak mereka bermain di bawahnya.
Maryam duduk di teras.
Yusuf memperbaiki sebuah lampu.
Pemandangan itu sederhana.
Hampir sama seperti yang pernah mereka impikan bertahun-tahun lalu.
Hanya satu hal yang berbeda.
Sekarang mereka memahami betapa berharganya setiap detik ketika sebuah keluarga dapat mengatakan:
"Kita pulang."
Dan setiap kali Yusuf mendengar kalimat itu, ia teringat rumah lama mereka.
Rumah kecil dengan dua jendela.
Rumah yang pernah menjadi awal kehidupan mereka.
Rumah yang kemudian hilang dari peta.
Tetapi tidak pernah hilang dari ingatan.
Karena sebuah rumah dapat dihancurkan.
Dapat diratakan.
Dapat menghilang dari citra satelit.
Namun selama masih ada seseorang yang mengingat siapa yang pernah tinggal di dalamnya, rumah itu belum benar-benar hilang.
Ia masih hidup.
Dalam cerita.
Dalam doa.
Dalam foto yang kusam.
Dalam sebuah kunci tua.
Dalam pohon zaitun.
Dan dalam hati dua orang yang pernah kehilangan segalanya, tetapi memilih untuk membangun kembali kehidupan mereka dari awal.
Yusuf dan Maryam.
Dua pengantin baru yang pernah kehilangan rumah.
Namun tidak kehilangan harapan.
Dan pada akhirnya, mereka mengerti:
Rumah bukan tempat yang selalu bisa ditemukan di peta.
Kadang, rumah adalah seseorang yang tetap menggenggam tanganmu ketika seluruh dunia di sekelilingmu runtuh.
Dan selama tangan itu masih ada, masih ada tempat untuk pulang. (*)
Write a Facebook Comment
Tuliskan Komentar anda dari account Facebook
View all comments












.png)
.png)