Nus & Ron
Oleh: Bang Zaki

By Revolusioner 30 Sep 2026, 13:40:11 WIB Cerpen
Nus & Ron

Saat tirai senja jatuh perlahan di atas kota yang tak pernah benar-benar tidur, Nus berdiri di tepi jendela gedung perpustakaan tua.

Di tangannya sebuah buku telah terbuka sejak setengah jam yang lalu, tetapi tak satu pun halaman benar-benar dibacanya.

Di luar, hujan menggantung seperti kelambu.

Di dalam, kenangan mengetuk-ngetuk pintu masa lalu.

Baca Lainnya :

Dan dari semua nama yang pernah singgah dalam hidupnya, ada satu nama yang selalu kembali seperti gema dari lorong panjang: Ron.

Nus mengenalnya ketika mereka masih muda.

Mereka bertemu di sebuah kampus yang dibangun di atas bukit, tempat para mahasiswa dan mahasiswi berbicara tentang keadilan dengan mata menyala dan dompet yang hampir selalu kosong.

Di sanalah mereka menjadi sahabat.

Mereka duduk dalam lingkaran yang sama, menyusuri gang-gang sempit selepas diskusi malam, berdebat tentang negara, rakyat, agama, demokrasi, dan masa depan.

Mereka adalah anak-anak muda dari sebuah pergerakan bernama Perhimpunan Mahasiswa Cahaya Bangsa.

Mereka belum memiliki jabatan.

Belum memiliki mobil.

Belum memiliki pengawal.

Yang mereka miliki hanyalah buku-buku lusuh, kopi murah, dan keyakinan bahwa dunia dapat dibuat sedikit lebih adil.

Ron adalah api.

Nus adalah cahaya.

Anehnya, mereka saling membutuhkan.

Dalam mitologi yang kemudian dibaca Nus bertahun-tahun setelah persahabatan itu tumbuh. Nus atau Nusku adalah dewa cahaya dan api, penjaga manusia ketika malam dipenuhi bayang-bayang.

Sementara Ron atau Ronove, dalam kitab-kitab tua yang lebih menyeramkan, adalah bangsawan agung dari kerajaan kegelapan, pemanen jiwa manusia yang telah tua.

Nus sering tertawa ketika mengingatnya.

"Lucu sekali," katanya suatu malam kepada Ron. "Namamu kelak menjadi pemanen jiwa, sedangkan namaku menjadi penjaga cahaya."

Ron tersenyum.

"Kalau begitu, kau harus menjagaku agar aku tidak tersesat."

Nus menatapnya lama.

"Dan kau harus mengingatkanku bahwa cahaya pun dapat membakar."

Mereka tertawa.

Mereka belum tahu bahwa kalimat itu kelak akan terasa seperti doa yang terlambat.

Tahun-tahun berlalu.

Kampus menjadi kenangan.

Jakarta menjadi labirin.

Pergerakan mahasiswa berubah menjadi pengalaman hidup.

Sebagian kawan memilih jalan akademik.

Sebagian masuk birokrasi.

Sebagian menjadi wartawan.

Sebagian menjadi pengusaha.

Dan sebagian lagi masuk ke dalam dunia kekuasaan, tempat kata "pengabdian" sering berjalan berdampingan dengan kata "kepentingan".

Nus memilih jalan ilmu.

Ia meneruskan langkahnya ke sebuah universitas tua di kota pelabuhan, memasuki program doktor administrasi publik.

Ia percaya bahwa negara yang baik bukanlah yang memiliki gedung paling tinggi, melainkan negeri yang mampu membuat manusia kecil tidur tanpa ketakutan.

Ron memilih jalan yang berbeda.

Ia masuk ke jantung kekuasaan.

Mula-mula sebagai aktivis.

Kemudian sebagai anggota parlemen.

Lalu sebagai pejabat tinggi.

Dan akhirnya, ia dipercaya memimpin sebuah kementerian yang mengurusi petak-petak bumi, ruang, rumah, dan batas-batas kepemilikan manusia.

Mereka tetap bersahabat.

Tetapi persahabatan mereka tak lagi seperti dahulu.

Ada jarak yang perlahan tumbuh.

Bukan jarak kilometer.

Melainkan jarak yang tercipta ketika seseorang mulai memiliki terlalu banyak pintu yang harus dijaga.

Nus pernah berkata kepada dirinya sendiri:

"Barangkali kekuasaan tidak mengubah manusia. Barangkali kekuasaan hanya memperlihatkan manusia yang selama ini tersembunyi."

Ia mengenal Ron cukup lama untuk mengetahui bahwa sahabatnya adalah manusia yang cerdas.

Licin dalam percakapan.

Cepat membaca keadaan.

Dan tahu bagaimana menyelamatkan dirinya dari badai yang datang.

Karena itu, ketika nama Ron mulai berulang kali muncul dalam berbagai pusaran perkara, Nus tidak segera percaya.

Ia hanya diam.

Sebab seorang sahabat tidak boleh menjadi hakim hanya karena pernah duduk di bangku yang sama.

Perkara pertama datang seperti angin.

Nama Ron disebut oleh seorang politikus muda dalam sebuah perkara pembagian amplop menjelang pemilihan umum.

Politikus itu mengatakan bahwa pernah ada permintaan untuk menyiapkan ratusan ribu amplop.

Nama Ron terseret ke dalam cerita itu.

Ron membantah.

Lembaga pemberantas korupsi berkata akan menelaah.

Waktu berjalan.

Tak ada pemeriksaan.

Tak ada babak baru.

Nama itu perlahan tenggelam.

Kemudian muncul perkara kedua.

Kali ini tentang pembagian kuota perjalanan ibadah.

Di ruang persidangan, seorang saksi berbicara tentang sejumlah besar uang asing yang disebut-sebut mengalir melalui seorang perantara kepada seseorang yang dikenal dekat dengan Ron.

Nama Ron kembali muncul.

Lembaga pemberantas korupsi mengatakan fakta persidangan akan dipelajari.

Nus membaca berita itu pada sebuah malam.

Ia menutup layar.

Memandang hujan.

Dan bertanya kepada dirinya sendiri:

"Berapa kali sebuah nama dapat disebut sebelum manusia mulai kehilangan kepercayaan kepada bayangannya sendiri?"

Belum sempat pertanyaan itu menemukan jawaban, datang perkara ketiga.

Seorang kepala daerah dari wilayah utara tersangkut perkara pelepasan kawasan hutan dan program ranah reforma.

Nama Ron kembali disebut.

Kali ini tidak lebih dari kabut.

Tidak ada bukti yang cukup untuk menariknya ke dalam pusaran.

Namun kabut tetaplah kabut.

Ia tidak membunuh.

Tetapi ia membuat manusia sulit melihat jalan.

Kemudian datang perkara yang lebih dekat.

Sebuah izin pemanfaatan tanah.

Sejumlah perusahaan.

Pejabat-pejabat tinggi.

Uang yang jumlahnya membuat manusia biasa sulit membayangkan bagaimana seseorang dapat tidur setelah menghitungnya.

Dan sekali lagi, nama Ron berdiri di ambang pintu perkara.

Nus teringat masa muda mereka.

Ia teringat ketika Ron pernah bercerita tentang betapa buruknya hubungan antara sebagian pegawai pajak, pengusaha, dan politisi.

Saat itu Nus masih muda.

Ia hampir memilih bekerja di lembaga perpajakan.

Tetapi cerita Ron membuatnya berpikir ulang.

Ia akhirnya memilih jalan perbendaharaan.

Bukan karena merasa dirinya lebih suci.

Melainkan karena ia takut kehilangan dirinya sendiri.

"Jangan pernah memilih tempat hanya karena area itu dekat dengan uang," kata Ron dahulu.

Nus masih mengingat kalimat itu.

Betapa ironisnya manusia.

Kadang-kadang nasihat yang paling baik justru keluar dari mulut orang yang suatu hari harus diuji oleh petuahnya sendiri.

***

Pada suatu malam, Nus menemui Ron.

Mereka duduk di sebuah restoran kecil yang dahulu sering mereka datangi ketika masih mahasiswa.

Tidak ada pengawal.

Tidak ada kamera.

Tidak ada mikrofon.

Hanya dua orang tua yang pernah menjadi dua anak muda.

Ron memandangi gelasnya.

"Apakah kau percaya kepadaku?" tanyanya.

Nus tidak langsung menjawab.

"Aku percaya kepada kenangan kita," katanya kemudian.

Ron tersenyum pahit.

"Itu bukan jawaban."

"Karena pertanyaanmu juga bukan pertanyaan yang sederhana."

Mereka terdiam.

Di luar, lampu kendaraan bergerak seperti kunang-kunang.

"Aku tidak melakukan semua yang mereka katakan," ujar Ron.

"Aku tahu."

"Kau percaya?"

"Aku percaya bahwa kebenaran tidak boleh ditentukan oleh persahabatan."

Ron menatap Nus.

Untuk pertama kalinya malam itu, wajahnya tidak lagi menyerupai seorang pejabat.

Ia tampak seperti mahasiswa yang dahulu duduk di lantai kampus, meminjam uang untuk membeli nasi.

"Kalau ternyata orang-orang di sekelilingku melakukan sesuatu tanpa sepengetahuanku?"

Nus menghela napas.

"Maka kau harus bertanya mengapa mereka merasa dapat melakukannya."

Ron terdiam.

"Dan kalau mereka menggunakan namaku?"

"Lebih berat lagi."

"Kenapa?"

"Karena kalau seseorang menggunakan namamu untuk melakukan kejahatan, berarti namamu telah menjadi pintu yang terlalu mudah dibuka."

Kata-kata itu jatuh di antara mereka.

Pelan.

Tetapi tajam.

Beberapa minggu kemudian, penyidik mulai membongkar apa yang disebut media sebagai "jaringan bayangan".

Orang-orang yang bukan pegawai kementerian ternyata memiliki akses ke ruangan-ruangan penting.

Mereka mengenal pejabat.

Mereka mengenal pengusaha.

Mereka mengenal nomor telepon yang tidak dimiliki masyarakat biasa.

Mereka datang dan pergi seperti angin.

Tidak terlihat.

Tetapi terasa.

Sejumlah pejabat ditetapkan sebagai tersangka.

Sebagian disebut sebagai orang dekat Ron.

Publik bertanya:

Apakah Ron tahu?

Apakah ia memerintahkan?

Apakah ia menerima?

Ataukah orang-orang itu hanya meminjam bayangan seorang pejabat untuk melindungi kepentingan mereka sendiri?

Tak ada yang boleh menjawab sebelum bukti berbicara.

Sebab tuduhan adalah suara.

Sedangkan kebenaran membutuhkan bukti.

Nus memahami itu.

Tetapi ia juga memahami sesuatu yang lain.

Seorang pemimpin tidak hanya bertanggung jawab atas apa yang ia lakukan.

Ia juga bertanggung jawab atas sistem yang ia bangun.

Sistem yang sehat seharusnya mampu mendengar bisikan korupsi sebelum ia berubah menjadi jeritan.

Sistem yang baik seharusnya mampu melihat lengan yang mengambil sebelum tangan itu menjadi kepalan.

Sistem yang kuat tidak menunggu lembaga lain datang mengetuk pintunya.

Ia membuka pintu lebih dahulu.

Suatu pagi, Nus membaca sebuah laporan panjang.

Tak ada pemeriksaan terhadap Ron.

Belum ada.

Penyidik mengatakan mereka masih menunggu kebutuhan penyidikan.

Nus meletakkan laporan itu.

Ia membuka buku catatannya.

Di halaman pertama ia menulis:

"Tempus delicti."

Waktu terjadinya peristiwa.

Sebab waktu sering kali adalah saksi yang tidak dapat disuap.

Jika sebuah kebusukan terjadi sebelum seorang pemimpin datang, jangan salahkan pemimpin baru atas bau yang ditinggalkan pendahulunya.

Tetapi jika kebusukan tumbuh ketika seorang pemimpin telah berada di dalam rumah itu, maka ia harus bertanya:

Mengapa aku tidak mencium baunya?

Mengapa pintunya tidak kututup?

Mengapa penjagaanku gagal?

Pertanyaan itu bukan vonis.

Ia adalah cermin.

Dan tidak semua orang sanggup memandang wajahnya sendiri di dalam cermin.

Ron akhirnya bertanya kepada Nus:

"Menurutmu, apakah aku harus mundur?"

Nus menatap sahabatnya.

"Jika kau bertanya sebagai sahabat, aku akan mengatakan: selamatkan dirimu."

"Bagaimana?"

"Dengan kebenaran."

"Kalau aku tidak bersalah?"

"Hadapi pemeriksaan."

"Kalau aku benar?"

"Kebenaran tak takut diperiksa."

Ron menunduk.

"Dan kalau aku tidak tahu apa yang dilakukan orang-orangku?"

Nus menjawab perlahan:

"Belajarlah menjadi pemimpin yang lebih tahu."

"Bagaimana jika aku gagal?"

Nus tersenyum sedih.

"Semua pemimpin pernah gagal. Yang membedakan mereka adalah apa yang mereka lakukan setelah mengetahui kegagalannya."

Ron diam.

Untuk beberapa saat, mereka tidak berbicara.

Dua sahabat tua itu hanya mendengar detak jam.

Tik.

Tik.

Tik.

Seolah waktu sendiri sedang mengingatkan mereka bahwa kekuasaan tidak pernah abadi.

***

Malam itu Nus pulang seorang diri.

Ia berjalan di bawah lampu temaram.

Ia tiba-tiba teringat mitologi yang pernah mereka tertawakan ketika masih muda.

Nus adalah cahaya.

Ron adalah pemanen jiwa.

Dahulu, itu hanya permainan nama.

Tetapi malam ini, ia menemukan makna lain.

Barangkali manusia tak takut pada kematian.

Yang paling digentarinya adalah ketika ia masih hidup tetapi telah kehilangan cahaya di dalam dirinya.

Kekuasaan dapat memberi seseorang ribuan ruangan.

Tetapi tidak satu pun kamar-kamar itu dapat menyelamatkan hati bagi yang kehilangan kejujuran.

Jabatan dapat memberikan pengawal.

Tetapi tak ada pengawal yang mampu menjaga manusia dari suara hati nuraninya sendiri.

Uang dapat membeli rumah.

Tetapi tidak dapat membayar kembali satu malam yang telah rusak oleh penyesalan.

Dan nama besar dapat membuat seseorang dikenang.

Tetapi sejarah memiliki cara sendiri untuk bertanya:

"Untuk apa engkau dikenang?"

Bertahun-tahun kemudian, ketika rambut Nus telah memutih dan Ron mulai jarang muncul di hadapan publik, keduanya kembali bertemu.

Tak ada podium.

Tak ada bendera.

Tak ada tepuk tangan.

Mereka duduk di sebuah taman tua.

Ron membawa dua cangkir kopi.

Nus mendekap sebuah buku.

"Masih menulis?" tanya Ron.

"Masih."

"Untuk siapa?"

Nus memandang anak-anak yang berlarian di taman.

"Untuk mereka yang belum lahir."

Ron tertawa kecil.

"Apa yang kau tulis?"

Nus menutup bukunya.

"Tentang kita."

"Untuk apa?"

"Agar mereka tahu bahwa persahabatan bukan berarti membenarkan kesalahan teman."

Ron terdiam.

Nus melanjutkan:

"Persahabatan adalah keberanian untuk mengatakan kebenaran ketika semua orang memilih diam."

Angin bergerak perlahan.

Daun-daun jatuh satu per satu.

Ron menatap sahabatnya.

"Apakah kau masih percaya kepadaku?"

Nus menggenggam cangkirnya.

"Aku percaya bahwa setiap manusia masih memiliki kesempatan untuk menjadi lebih baik."

"Termasuk aku?"

"Terutama engkau."

Ron tersenyum.

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, senyum itu bukan milik seorang pejabat.

Ia adalah senyum seorang anak muda yang dahulu pernah percaya bahwa dunia dapat diperbaiki.

***

Matahari mulai tenggelam.

Bayangan dua lelaki tua memanjang di atas tanah.

Nus bangkit.

Ron ikut berdiri.

Mereka berjalan perlahan meninggalkan taman.

Tak ada yang tahu siapa di antara mereka yang akan pergi lebih dahulu.

Sebab manusia selalu berjalan menuju pintu yang sama.

Hanya garis waktu yang berbeda.

Nus berhenti di gerbang.

Ia menoleh.

"Ron."

"Ya?"

"Kalau suatu hari namamu benar-benar menjadi sejarah, aku berharap bukan karena berapa banyak kekuasaan yang pernah kau miliki."

Ron menunggu.

"Melainkan karena berapa banyak manusia yang menjadi lebih baik setelah mengenalmu."

Ron menundukkan kepala.

Matanya berkaca-kaca.

"Dan jika aku gagal?"

Nus menjawab:

"Setidaknya jangan gagal untuk meminta maaf."

Kemudian mereka berpisah.

Tidak dengan pelukan.

Tidak dengan kata-kata besar.

Hanya dengan tatapan panjang dua sahabat yang tahu bahwa kehidupan lebih singkat daripada yang pernah mereka kira.

Pada malam itu, Nus kembali membuka buku catatannya.

Ia menulis satu kalimat terakhir:

"Manusia tidak kehilangan nyawanya ketika jantungnya berhenti berdetak; manusia kehilangan ruhnya ketika ia tidak lagi berani mengatakan bahwa dirinya salah."

Ia menutup buku.

Lampu kamar padam.

Tetapi satu cahaya kecil masih menyala di meja.

Dan barangkali itulah seluruh makna persahabatan Nus dan Ron:

bahwa seorang sahabat bukanlah orang yang selalu berdiri di samping kita ketika dunia bertepuk tangan.

Seorang sahabat adalah orang yang tetap berdiri di hadapan kita ketika dunia menuntut pertanggungjawaban.

Ia tidak membawa kita menjauh dari kebenaran.

Ia membawa kita menuju kebenaran, meskipun jalan itu penuh duri.

Sebab pada akhirnya, jabatan akan selesai.

Kekuasaan akan berpulang.

Gedung-gedung akan berganti nama.

Foto-foto akan menguning.

Berita-berita akan dilupakan.

Dan nama manusia akan perlahan turun dari dinding sejarah.

Yang tersisa hanyalah satu pertanyaan yang sangat sederhana:

Ketika cahaya terakhir dalam hidupmu hampir padam, apakah engkau masih memiliki keberanian untuk melihat wajahmu sendiri?

Jika jawabannya ya, mungkin masih ada jalan pulang.

Jika jawabannya tidak, maka bahkan seribu nyawa pun tidak akan cukup untuk menyelamatkanmu dari dirimu sendiri. (*)




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment