Api yang Membakar Pagi
oleh: Afriza Nur

By Revolusioner 01 Okt 2026, 09:26:40 WIB Cerpen
Api yang Membakar Pagi

Keterangan Gambar : Foto: Ilustrasi AI


Langit pagi itu tidak lagi berwarna biru.

Kabut asap menggantung rendah, menutupi pepohonan dan membuat jarak pandang semakin pendek. Mata terasa perih. Tenggorokan kering. Udara yang seharusnya menjadi sesuatu yang tidak perlu dipikirkan, kini harus dihirup dengan hati-hati.

Di sebuah rumah sederhana yang berada tak jauh dari kawasan terdampak kebakaran, seorang anak perempuan berdiri di balik jendela.

Baca Lainnya :

Matanya terus mengarah ke jalan.

Ia sedang menunggu seseorang pulang.

“Bapak belum pulang?”

Ibunya yang sedang menutup jendela hanya diam beberapa detik.

“Belum, Nak.”

“Masih di tempat kebakaran?”

Perempuan itu mengangguk.

“Bapak masih membantu.”

Anak itu kembali memandang ke luar.

“Kalau apinya sudah mati, Bapak pulang, kan?”

Sang ibu tersenyum tipis.

“Iya.”

Jawaban itu terdengar sederhana.

Tetapi hanya ibunya yang tahu, ada rasa takut yang disembunyikan di balik senyum tersebut.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang belum berhasil dipadamkan di enam provinsi prioritas kini tersisa 96,07 hektare.

Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan luas tersebut menunjukkan penurunan signifikan dibandingkan hari sebelumnya.

“Berdasarkan pemutakhiran data per 28 September 2026, total luas lahan terbakar di enam provinsi prioritas mencapai 527,6 hektare, dengan 431,53 hektare di antaranya telah berhasil dipadamkan. Luas lahan yang masih belum padam saat ini tersisa 96,07 hektare,” kata dia dilansir Antara, Rabu (30/9/2026).

Angka itu memang menunjukkan kabar baik.

Namun bagi mereka yang tinggal di sekitar wilayah terdampak, 96,07 hektare bukan sekadar angka yang tercetak dalam laporan.

Itu adalah hutan yang masih mengeluarkan asap.

Tanah yang masih menyimpan bara.

Dan udara yang masih membuat anak-anak harus menutup hidung ketika keluar rumah.

Di lapangan, para petugas tidak punya banyak waktu untuk beristirahat.

Api yang terlihat kecil di permukaan bisa saja menyimpan panas jauh di dalam tanah gambut. Ketika angin berubah, bara yang semula dianggap aman dapat kembali menyala.

“Masih ada asap di sebelah sana!”

Seorang petugas menunjuk ke balik pepohonan.

“Basahi lagi bagian itu!”

Air kembali disemprotkan.

Tanah menjadi basah, tetapi asap belum sepenuhnya menghilang.

Petugas itu mengusap wajahnya.

Debu dan keringat bercampur di dahinya.

“Kalau malam nanti hujan, mungkin lebih mudah,” katanya.

Rekannya melihat langit yang masih tertutup asap.

“Semoga.”

Hanya satu kata.

Tetapi di tengah keadaan seperti itu, kata “semoga” menjadi sesuatu yang terus mereka pegang.

Berdasarkan data Direktorat Pengendalian Operasi BNPB, penurunan luas area yang belum padam terbesar terjadi di Kalimantan Tengah sebesar 46,70 hektare.

Kemudian Kalimantan Selatan turun 17,74 hektare, Jambi 1,50 hektare, dan Kalimantan Barat 1 hektare.

Namun, beberapa wilayah justru mengalami peningkatan. Sumatera Selatan bertambah 4,15 hektare, sedangkan Riau meningkat 0,5 hektare.

Artinya, perjuangan belum selesai.

Pemadaman seluas 431,53 hektare dilakukan melalui operasi darat dan udara. Operasi darat berhasil memadamkan 369,03 hektare, sedangkan operasi udara mencakup 62,5 hektare.

Sebanyak 59.035 personel Satgas disiagakan di enam provinsi prioritas.

Pompa pemadam dikerahkan.

Tangki portabel dibawa ke lokasi.

Air diinjeksi ke lapisan gambut.

Dari udara, 56 unit armada juga disiapkan, terdiri dari 43 unit water bombing serta 13 unit patroli dan Operasi Modifikasi Cuaca.

Semua dilakukan dengan satu tujuan: membuat api berhenti.

Di rumah itu, malam mulai turun.

Anak perempuan tadi masih menunggu.

Ia duduk di dekat pintu dengan kedua tangan memeluk lutut.

Ibunya menghampiri.

“Sudah malam. Tidur dulu.”

“Aku mau tunggu Bapak.”

“Bapak mungkin pulang larut.”

“Aku tetap mau tunggu.”

Ibunya duduk di sampingnya.

“Kenapa?”

Anak itu menunduk.

“Takut Bapak pulang, tapi aku nggak tahu.”

Dada sang ibu terasa sesak.

Ia menarik anak itu ke dalam pelukannya.

“Kalau Bapak pulang, Ibu akan bangunkan kamu.”

“Janji?”

“Janji.”

Anak itu akhirnya mengangguk.

Ia masuk ke kamar.

Tetapi sebelum pintu ditutup, ia kembali menoleh.

“Bu...”

“Iya?”

“Bapak pasti pulang, kan?”

Sang ibu terdiam.

Lalu tersenyum.

“Insyaallah.”

Pintu kamar tertutup.

Dan setelah itu, air mata sang ibu jatuh tanpa suara.

Di luar rumah, kabut asap semakin pekat.

BNPB bersama TNI, Polri, BMKG, dan pemerintah daerah terus memaksimalkan pembasahan darat serta penyemaian awan. Namun, upaya tersebut tidak selalu berjalan mudah.

Kabut asap mengganggu pandangan.

Arah angin dapat berubah sewaktu-waktu.

Sumber air di kawasan gambut juga terbatas.

Seorang petugas menatap langit yang gelap.

“Kita lanjut besok?”

Rekannya menggeleng.

“Selama masih ada titik api, kita lanjut.”

Mereka kembali berjalan.

Menyusuri tanah yang basah.

Melewati pepohonan yang menghitam.

Mencari bara yang bersembunyi di balik asap.

Tidak ada yang tahu kapan semuanya benar-benar selesai.

Menjelang tengah malam, ponsel seorang ibu bergetar.

Satu pesan masuk.

Ia membukanya dengan tangan gemetar.

“Masih bertugas. Jangan khawatir. Jaga anak-anak.”

Ia membaca pesan itu berkali-kali.

Kemudian meletakkan ponsel di dada.

Untuk pertama kalinya malam itu, ia menangis.

Bukan karena sedih.

Bukan pula karena lega.

Melainkan karena menyadari betapa sederhana keinginannya.

Ia hanya ingin orang yang dicintainya pulang.

Di kamar sebelah, anaknya tertidur sambil memeluk bantal.

Ia belum tahu bahwa di luar sana, masih ada orang-orang yang berjaga di antara api dan asap.

Masih ada petugas yang menyiram tanah.

Masih ada pesawat yang membawa air.

Masih ada awan yang diharapkan menurunkan hujan.

Dan masih ada 96,07 hektare yang belum sepenuhnya padam.

Pagi akan datang lagi.

Mungkin matahari masih tertutup asap.

Mungkin tanah masih menyimpan bara.

Mungkin para petugas masih harus kembali ke tempat yang sama.

Namun, selama api belum benar-benar padam, perjuangan juga belum selesai.

Sebab kebakaran hutan dan lahan bukan hanya tentang berapa hektare yang terbakar.

Ada udara yang harus kembali bersih.

Ada hutan yang harus kembali hijau.

Ada anak-anak yang ingin bermain di luar rumah tanpa masker.

Dan ada keluarga-keluarga yang hanya menginginkan satu hal:

orang yang mereka cintai pulang dengan selamat.

Di balik kepulan asap, mereka masih menunggu.

Dan di tengah api yang belum sepenuhnya padam, harapan pun masih dijaga. (*)




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment