- Ada Beasiswa BI di ISEF 2026
- Babel Tebar Beasiswa di Kampus Baru
- Muzaki Aceh Berzakat vis Lazismu
- RZ Digitalisasi Bank Sampah Binaan
- Baznas dan Kadin Latih Pekerja Mustahik
- Ada Beasiswa S2 Ilmu Komputer di UGM
- Menag: Sadar Eksyar Baru 75 Persen
- Banjir, RZ Tebar Rendang di Padang
- Babel Salur Bantuan Pendidikan Rp98 Juta
- Baznas Bidik Zakat 2027 Rp70 Triliun
Lagi, PBNU Dorong Zakat Kurangi Pajak

Keterangan Gambar : Foto: Dok. Suarasurabaya.net
Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mendorong reformasi regulasi pembayaran zakat agar kewajiban zakat yang ditunaikan umat Islam dapat menjadi pengurang langsung kewajiban pajak (tax credit), bukan hanya sekadar pengurang penghasilan kena pajak (tax deduction).
Gagasan tersebut menjadi salah satu pembahasan strategis dalam Muktamar ke-35 NU melalui Sidang Bahtsul Masail Maudhu'iyah.
KH Cholil Nafis selaku pimpinan sidang menyatakan bahwa perubahan regulasi diperlukan untuk menciptakan keadilan bagi masyarakat Muslim yang telah memenuhi kewajiban zakat sekaligus membayar pajak.
Baca Lainnya :
- Donasi Dunia Mengalir ke Nepal0
- DD Siapkan Peta Jalan Kemandirian Bangsa0
- Baznas Perkuat Strategi Kejar Target Zakat0
- BNPB Tebar Ribuan Ton Logistik di NTT 0
- TNI AL Kirim 150 Ton Bantuan NTT0
"Ini demi keadilan sehingga umat Islam tidak bayar dua kali, bayar zakat bayar pajak yang dua-duanya adalah lembaga resmi pemerintah," kata Cholil melalui konferensi virtual yang ditayangkan di Kantor PBNU, Jakarta, Kamis (3/8/2026).
Selain persoalan zakat dan pajak, forum juga mendorong pemerintah agar tidak memberikan beban berlebihan kepada masyarakat melalui penumpukan retribusi dan pajak.
Kelompok masyarakat kurang mampu maupun penerima subsidi juga dinilai perlu mendapatkan pengecualian dari kewajiban pajak.
Dalam sidang tersebut, PBNU turut membahas pemaknaan ulama dalam konteks Nahdlatul Ulama. Forum menegaskan bahwa ulama yang dimaksud adalah Ulama'u al-Syar'i, yakni sosok yang memiliki kedalaman ilmu agama sekaligus memahami kondisi sosial masyarakat.
Cholil menjelaskan, karakter ulama NU tercermin dalam prinsip al-'akif 'ala dinihi wal-'arif bi hali qawmihi, yakni memiliki keteguhan dalam menjalankan agama sekaligus memahami keadaan masyarakat.
"Tidak boleh di sini seorang ulama NU itu hanya diam dan mengajar, tapi dia harus lebih dari itu memberikan manfaat lebih besar kepada yang lain untuk memecahkan masalah-masalah keumatan," ujar dia.
Sementara itu, pembahasan ketiga berkaitan dengan penerapan I'adatu al-Nadzar, yakni mekanisme peninjauan kembali terhadap keputusan hukum NU yang telah ditetapkan sebelumnya.
Mekanisme tersebut dinilai penting untuk merespons perubahan zaman, perubahan *illat* atau alasan hukum, maupun kemungkinan adanya kekeliruan dalam perumusan hukum sebelumnya.
Namun, penerapan I'adatu al-Nadzar dibatasi pada tingkat nasional dan berada di bawah kewenangan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Proses peninjauan dilakukan melalui mekanisme seleksi oleh jajaran Syuriyah.
Meski demikian, metode pengambilan hukum NU tetap berpegang pada tradisi yang selama ini digunakan, yakni pendekatan qawli, istislahi, dan manhaji.
Kontributor: Raeihan
Editor: MAS
Sumber: www.suarasurabaya.net












.png)
.png)