- UU Wakaf, 5 Poin Penguat Ekonomi
- Amil Lazismu Dilatih Jurnalisme Filantropi
- Ini Beasiswa Rp130 Juta Mahasiswa Sudan
- YMC-IZI Banten Bentuk Unit Layanan Zakat
- JNE-IZI Berdayakan UMKM Palembang
- Lapak Berkah Dorong Sanusi Jadi Muzaki
- Hari Santri, PBNU Kampanye Save Palestina
- Mujahadah Palestina di Hari Santri
- MUI Sosialisasi Empat Fatwa Baru
- Baznas Renov 700 Madrasah
Mujahadah Palestina di Hari Santri

Keterangan Gambar : Foto: Dok. Nu.or.id
Sejarah tidak pernah benar-benar
berhenti pada satu titik. Ia terus bergerak, mengalir bersama waktu, dan
menemukan bentuknya yang baru di setiap generasi. Begitulah yang tampak pada
Gedung Hoofdbestuur Nahdlatoel Oelama (HBNO) di Jalan Bubutan VI/2, Surabaya.
Gedung tua itu bukan sekadar bangunan. Ia adalah saksi bisu perjalanan panjang
Nahdlatul Ulama dan perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Di depan gedung yang kini menjadi
Kantor Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Surabaya itu, berdiri
monumen Resolusi Jihad. Sebuah pengingat bahwa pada Oktober 1945, dari tempat
ini, para ulama merumuskan seruan suci untuk mempertahankan kemerdekaan. Darah
para santri mengalir dalam perjuangan itu. Doa dan zikir mereka menyertai
setiap langkah perlawanan.
Kini, delapan dekade kemudian,
gedung yang sama kembali menjadi saksi. Bukan untuk perang melawan penjajah,
tetapi untuk menyuarakan kepedulian terhadap saudara-saudara di Palestina. Pada
Kamis malam, 22 Oktober 2026, Gedung HBNO menjadi tempat penyelenggaraan
resepsi Hari Santri yang dipadukan dengan Mujahadah Kemanusiaan untuk
Palestina. Sebuah perpaduan yang tidak dibuat-buat, karena memang akar
sejarahnya sama: perjuangan melawan kezaliman dan pembelaan terhadap kaum
tertindas.
Baca Lainnya :
- Kiai Syukron Jadi Teladan Dakwah Umat0
- Kajian IZI Perkuat Ibadah Pasien0
- Tuntunan Hidup Bersih dalam Islam0
- Cara Mendidik Anak Agar Jadi Saleh0
- Panduan Bayar Zakat Akhir Tahun0
Ketua PCNU Kota Surabaya, H.
Masduki Thoha, memastikan bahwa persiapan telah dilakukan sejak jauh hari.
"Insyaallah, Gedung HBNO sudah siap digelar Resepsi Hari Santri dan
Mujahadah untuk Palestina," tegasnya. Pemilihan lokasi bukan tanpa alasan.
Nilai historis gedung tersebut menjadi alasan utama PBNU kembali memilih tempat
itu sebagai lokasi rangkaian peringatan Hari Santri.
Namun, ada yang lebih dalam dari
sekadar alasan historis. Ada kesinambungan makna antara Resolusi Jihad 1945 dan
Mujahadah Kemanusiaan untuk Palestina 2026. Keduanya adalah bentuk kepedulian
terhadap nasib bangsa yang tertindas. Keduanya adalah wujud nyata dari ajaran
Islam yang rahmatan lil alamin—Islam yang hadir untuk membebaskan, bukan untuk
menindas.
Ketua Umum PBNU, KH Abdul Hakim
Mahfudz atau yang akrab disapa Gus Kikin, mengingatkan bahwa kepedulian
Nahdlatul Ulama terhadap Palestina memiliki akar sejarah panjang. Hadratussyekh
KH Hasyim Asy'ari, pendiri NU, telah menyuarakan dukungan terhadap rakyat
Palestina bahkan sebelum Indonesia meraih kemerdekaan. Komitmen itu terus
dipertahankan hingga hari ini, salah satunya melalui pembacaan Qunut Nazilah di
Pesantren Tebuireng.
"Ini perjalanan dan hubungan
yang sangat panjang antara Indonesia dengan Palestina," kata Gus Kikin.
Sebuah pernyataan yang sederhana, tetapi mengandung makna yang dalam. Bahwa
solidaritas bukanlah sikap yang muncul tiba-tiba, melainkan buah dari kesadaran
sejarah yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Hari Santri yang diperingati
setiap 22 Oktober bukanlah sekadar momentum seremonial. Ia adalah pengingat
bahwa santri memiliki tanggung jawab sosial yang tidak bisa dilepaskan dari
realitas bangsa dan dunia. Resolusi Jihad 1945 mengajarkan bahwa santri tidak
boleh diam ketika kezaliman merajalela. Kini, ketika rakyat Palestina masih
berjuang untuk kemerdekaannya, semangat itu kembali digaungkan melalui
mujahadah.
PBNU memasukkan solidaritas
kemanusiaan bagi rakyat Palestina sebagai salah satu agenda dalam rangkaian
Hari Santri 2026. Seluruh tingkatan kepengurusan NU diinstruksikan menggelar
Mujahadah Kemanusiaan untuk Palestina melalui beragam kegiatan keagamaan—majelis
istighotsah, pembacaan shalawat, zikir berjamaah, serta berbagai majelis doa
lainnya. Ini bukan sekadar ritual tanpa makna. Ini adalah bentuk perlawanan
spiritual, sebuah cara untuk menunjukkan bahwa doa dan tindakan harus berjalan
seiring.
Dalam tradisi NU, mujahadah
bukanlah kata yang ringan. Ia mengandung makna kesungguhan, perjuangan, dan
pengorbanan. Ketika kata itu disandingkan dengan "kemanusiaan untuk
Palestina", maka yang dimaksud bukanlah sekadar doa tanpa tindakan. Mujahadah
adalah ikhtiar lahir dan batin—mengangkat tangan untuk berdoa, sekaligus
menghulurkan tangan untuk membantu.
Zakat, infak, dan sedekah yang
disalurkan melalui lembaga-lembaga kemanusiaan adalah bagian dari mujahadah
itu. Sebab, doa orang yang berpuasa dan berzikir tidak akan pernah lepas dari
tanggung jawab sosialnya. Islam mengajarkan bahwa iman yang benar adalah iman
yang melahirkan kepedulian. Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa tidak
peduli dengan urusan kaum muslimin, maka ia bukan termasuk golongan
mereka."
Gedung HBNO yang berdiri kokoh di
Bubutan menjadi simbol bahwa sejarah tidak pernah mati. Ia terus hidup dalam
setiap generasi yang mau belajar dari masa lalu untuk menghadapi masa depan.
Resolusi Jihad 1945 mengajarkan bahwa kemerdekaan harus diperjuangkan.
Mujahadah Palestina 2026 mengajarkan bahwa kemerdekaan bangsa lain juga harus
didukung.
Maka, di malam itu, ketika suara
istighotsah dan shalawat bergema di Gedung HBNO, ada getaran yang sama dengan
getaran yang dirasakan para santri delapan dekade silam. Getaran itu bernama
kepedulian. Getaran itu bernama keberanian untuk membela kebenaran. Getaran itu
bernama iman.
Hari Santri bukan hanya milik
santri. Ia milik semua yang percaya bahwa agama harus menjadi kekuatan
pembebas, bukan sekadar ritual yang kosong. Dan di Gedung HBNO, di bawah
monumen Resolusi Jihad, doa untuk Palestina dipanjatkan. Sebuah doa yang lahir
dari kesadaran sejarah, yang diiringi dengan tindakan nyata. Karena pada
akhirnya, mujahadah yang sejati adalah ketika hati, lisan, dan tangan bergerak
bersama untuk membela kemanusiaan.
Penulis: Raeihan
Editor: MAS
Sumber: www.nu.or.id











.png)
.png)