- Ummah Nigeria Luncurkan EasyZakat
- PBB: Kematian Relawan Tertinggi di Gaza
- Dibenahi, 1.170 Lahan Wakaf Madrasah
- Bolehkah Zakat untuk Korban Bencana?
- Dana Baznas Malang Tembus Rp11,5 M
- Ikhlas dalam Islam: Makna, Keutamaan, dan Cara Menerapkannya
- Kantor Solidaritas Palestina Resmi Dibuka
- Pemkab Batang Siapkan Beasiswa ke China
- RZ Tebar 8.000 Liter Air di Cilegon
- Baznas Bangun Masjid Darurat di NTT
PBB: Kematian Relawan Tertinggi di Gaza

Keterangan Gambar : Foto: Dok. Hidayatullah.com
Jalur Gaza, Palestina menjadi tempat paling mematikan di dunia bagi pekerja kemanusiaan selama tiga tahun berturut-turut, menurut kantor kemanusiaan PBB pada Rabu (19/8/2026).
Lebih dari dua pertiga kematian syahid pekerja kemanusiaan di wilayah seluas 365 kilometer persegi disebabkan oleh serangan udara penjajah Israel.
Sudan berada di peringkat kedua, dengan 71 pekerja kemanusiaan tewas sepanjang tahun 2025, menurut Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) dalam pernyataan untuk memperingati Hari Kemanusiaan Sedunia.
Baca Lainnya :
- Kantor Solidaritas Palestina Resmi Dibuka0
- SMKN Empat Lawang Safari Dakwah Peduli Palestina0
- Kedubes Palestina Rayakan HUT RI0
- Palestina, Muhammadiyah Siapkan Program Pemberdayaan 0
- Pemprov Jakarta Bantu Gaza0
Pernyataan OCHA menyebut selama tahun 2025 di seluruh dunia, 907 pekerja kemanusiaan tewas, terluka, atau diculik. Angka ini menjadi rekor tertinggi terkait kekerasan terhadap mereka yang bekerja mengirimkan bantuan, menurut Pusat Data Keamanan Pekerja Kemanusiaan milik Humanitarian Outcomes.
Meskipun jumlah kematian tahunan sedikit menurun menjadi 350 jiwa, kantor kemanusiaan PBB menyatakan bahwa tingkat kekerasan secara keseluruhan tidak menunjukkan tanda-tanda mereda. Selain itu, 322 pekerja bantuan terluka dan 235 lainnya diculik.
“Lebih dari 1.000 pekerja bantuan telah tewas hanya dalam kurun waktu tiga tahun, dan hal itu sama sekali tidak dapat diterima,” ujar Tom Fletcher, Wakil Sekretaris Jenderal PBB untuk Urusan Kemanusiaan dan Koordinator Bantuan Darurat.
PBB memperingatkan bahwa maraknya penggunaan drone bersenjata yang murah dan mudah dimodifikasi telah membuat warga sipil dan personel kemanusiaan menghadapi bahaya yang kian meningkat, terutama di wilayah perkotaan.
Drone bersenjata menjadi penyebab 80 persen kematian warga sipil di Sudan selama empat bulan pertama tahun 2026, dengan serangan yang menyasar berbagai lokasi termasuk pasar dan fasilitas kesehatan, menurut kantor kemanusiaan PBB.
“Pesawat nirawak bersenjata telah menjadi wajah baru dari ancaman lama: penghancuran kehidupan sipil secara sengaja ataupun akibat tindakan yang ceroboh,” ujar Fletcher. “Teknologi mungkin berubah, namun hukum perang tidak.”
Kontributor: Raeihan
Editor: MAS
Sumber: www.hidayatullah.com










.png)
.png)