Anak-Anak Darfur di Titik Kritis

By Revolusioner 25 Jun 2026, 09:45:18 WIB Internasional
Anak-Anak Darfur di Titik Kritis

Keterangan Gambar : Foto: Dok. Unicef.org


Dua puluh tahun lalu, Darfur mengguncang perhatian dunia. Satu generasi anak-anak menjadi korban sekaligus penyintas dari berbagai kekejaman yang mengerikan. Gambaran desa-desa yang terbakar, kematian, dan pengungsian massal memicu kemarahan serta aksi global. Seperti yang kerap terjadi dalam setiap krisis, anak-anak menjadi kelompok yang paling terdampak.

Kini, saat perang di Sudan memasuki tahun keempat, sejarah kembali terulang dengan cara paling kelam bagi anak-anak di Darfur. Sekali lagi, jutaan anak harus hidup di tengah kekerasan ekstrem, kelaparan, dan pengungsian. Namun kali ini, krisis yang terjadi lebih dalam, sementara perhatian dunia belum sebanding dengan besarnya penderitaan anak-anak.

Saat ini, sekitar 33 juta orang di Sudan membutuhkan bantuan kemanusiaan, dan lebih dari separuhnya adalah anak-anak. Diperkirakan 15 juta orang telah tercerabut dari tempat tinggalnya, termasuk sekitar 5 juta anak. Di lima negara bagian Darfur, lebih dari 5 juta anak menghadapi kondisi kekurangan yang sangat parah.

Baca Lainnya :

Sebagaimana dilakukan dua dekade lalu, UNICEF kini kembali meluncurkan Child Alert baru untuk memperingatkan dunia tentang situasi anak-anak di Darfur yang telah mencapai tahap bencana kemanusiaan. Anak-anak kini berada pada titik kritis.

Di seluruh wilayah tersebut, masa kanak-kanak kembali diwarnai ketakutan dan kehilangan. Rumah-rumah dibakar. Sekolah dan fasilitas kesehatan rusak atau hancur. Keluarga-keluarga dipaksa mengungsi, bahkan berulang kali, dan sering kali tanpa membawa apa pun. Anak-anak menanggung beban paling berat dari perang tersebut.

Di Darfur, anak-anak terbunuh dan mengalami luka berat, terusir dari rumah mereka, serta terdorong ke dalam kondisi kelaparan ekstrem, penyakit, dan trauma. Dampak paling parah terjadi di Al Fasher. Sejak April 2024, lebih dari 1.500 pelanggaran berat terhadap anak-anak telah diverifikasi di Al Fasher, termasuk pembunuhan dan pelukaan terhadap lebih dari 1.300 anak. Banyak di antaranya disebabkan oleh senjata peledak dan drone, selain kekerasan seksual, penculikan, serta perekrutan dan penggunaan anak oleh kelompok bersenjata.

Meskipun pengepungan Al Fasher telah berakhir, dampaknya masih terus terasa. Konsekuensi dari pengepungan tersebut tetap membentuk kehidupan sehari-hari anak-anak, baik mereka yang melarikan diri maupun mereka yang terpaksa bertahan.

Namun, kekerasan tidak hanya terjadi di satu kota atau wilayah. Di seluruh Sudan, situasi semakin memburuk. Hanya dalam 90 hari pertama tahun ini, sedikitnya 245 anak dilaporkan tewas atau terluka. Angka tersebut baru mencakup kasus yang dapat didokumentasikan, sementara jumlah sebenarnya kemungkinan jauh lebih tinggi. Di balik setiap angka terdapat seorang anak yang hidup dan masa depannya telah berubah selamanya.

Kelaparan kini menjadi ancaman lain di garis depan krisis. Kondisi kelaparan telah dikonfirmasi terjadi di Al Fasher pada November 2025, sementara tingkat malnutrisi anak di sejumlah wilayah Darfur telah mencapai tahap bencana. Di beberapa lokasi, angka Global Acute Malnutrition melampaui 50 persen. Di seluruh Darfur, konflik telah menghancurkan mata pencaharian dan sistem pangan.

Layanan kesehatan juga diserang, dijarah, atau terpaksa ditutup. Imunisasi rutin terganggu. Wabah penyakit terus menjadi ancaman, terutama bagi anak-anak yang sudah lemah akibat kelaparan.

Pendidikan juga mengalami kehancuran besar. Dari hampir 4 juta anak usia sekolah di Darfur, lebih dari 3 juta kini tidak bersekolah. Sekolah-sekolah hancur, ditutup, atau dialihfungsikan menjadi tempat penampungan.

Krisis tersebut tidak berhenti di perbatasan Sudan. Anak-anak melarikan diri ke negara-negara tetangga dalam kondisi kelelahan, trauma, dan kekurangan gizi. Komunitas tuan rumah telah menunjukkan kemurahan hati, tetapi layanan yang tersedia kewalahan dan sangat kekurangan pendanaan.

Di tengah tantangan luar biasa, UNICEF dan para mitra tetap bertahan dan menyalurkan bantuan. Mereka merawat anak-anak yang mengalami malnutrisi akut berat, menyediakan air bersih, mendukung layanan kesehatan keliling dan vaksinasi, serta memberikan dukungan psikososial dan pembelajaran di ruang ramah anak. Namun, aksi kemanusiaan kini berada pada batas kemampuannya.

Yang dibutuhkan saat ini bukanlah hal yang abstrak. Dibutuhkan akses dan kehadiran kemanusiaan yang dapat diprediksi serta berkelanjutan di seluruh Darfur. Bukan sekadar pembukaan akses sementara, tetapi kemampuan untuk tetap hadir dan menyalurkan bantuan secara konsisten serta aman. Pergerakan bantuan harus dimungkinkan, bukan dihambat.

Warga sipil harus dilindungi, dengan anak-anak ditempatkan secara tegas sebagai pusat dari seluruh upaya tersebut. Sekolah, klinik, sistem air bersih, dan konvoi kemanusiaan harus dijauhkan dari serangan.

Selain itu, dibutuhkan pendanaan yang mendesak, fleksibel, dan sebanding dengan skala serta urgensi krisis tersebut. Saat ini, seruan kemanusiaan UNICEF untuk Sudan tahun 2026 baru terpenuhi 16 persen, sehingga layanan penyelamatan jiwa bagi jutaan anak berada dalam risiko.

Anak-anak di Darfur tidak membutuhkan simpati. Mereka membutuhkan dunia untuk bertindak sekarang. Satu generasi penuh sedang dipertaruhkan.

Kontributor: Azzam Al Hanif
Editor: MAS
Sumber: www.unicef.org




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment