- CSR, 40 Mahasiswa Raih Beasiswa IBLF
- Jangan Jadikan Zakat Bancakan Politik
- Zakat Berdayakan Nelayan Komodo
- RZ Latih Pemuda Peduli Lingkungan
- Potensi Zakat Batang Hari Rp 16 M
- Media Gerakkan Kebaikan via Jurnalisme Filantropi
- Lilawangsa Run Himpun Donasi Rumah Ibadah
- Elon Musk Siap Donasikan Seluruh Kekayaan
- Baznas Bantu Pemberdayaan Pesantren Rp871 Juta
- Baitul Mal Aceh Tengah Bantu Alkes Warga Dhuafa
Zakat Berdayakan Nelayan Komodo

Keterangan Gambar : Foto: Dok. Kemenag.go.id
Pengelolaan zakat dan dana filantropi Islam kini bukan lagi sekadar memberi ikan untuk mengobati kemiskinan sesaat, melainkan memberi kail dan ekosistemnya untuk membangun kemandirian ekonomi. Praktik baik ini ditunjukkan Kelompok Nelayan Wae Jawa Mandiri di Warloka Pesisir, Kecamatan Komodo, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Melalui pendampingan dari lembaga amil zakat (LAZ), pengelolaan dana zakat produktif di kawasan pesisir ini mampu mengintegrasikan bantuan modal usaha, penguatan kelembagaan, hingga pembangunan modal sosial-keagamaan. Pengalaman nelayan Wae Jawa Mandiri bisa dijadikan model inspiratif bagi daerah lain.
Praktik baik ini diapresiasi Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Kementerian Agama, Prof. Waryono, saat berkunjung ke lokasi. Bagi Kemenag, model pemberdayaan berbasis ekosistem berkelanjutan seperti yang diterapkan pada Wae Jawa Mandiri adalah jawaban atas tantangan transformasi ekonomi penerima manfaat zakat (mustahik).
Baca Lainnya :
- RZ Dorong Sudiyono Jadi Muzaki0
- Lazismu Perluas Manfaat untuk Mustahik 0
- UMKM Depok Dapat Gerobak Lazisnu 0
- Belajar Pangkas Gratis di MUI Tangerang 0
- RZ Perkuat Ketahanan Pangan Mustahik0
Program yang menjangkau 97 kepala keluarga dengan 307 jiwa (117 laki-laki, 172 perempuan, dan 18 lansia) tersebut menunjukkan bahwa pemberdayaan ekonomi nelayan turut menyentuh kelompok rentan dan keluarga secara menyeluruh.
“Ke depan, pengembangan perlu diarahkan dari fase bantuan menuju fase produktivitas dan kemandirian ekonomi,” ujar Prof. Waryono, di Manggarai Barat, NTT, Sabtu (8/8/2026).
Kementerian Agama memandang pemberdayaan sebagai proses jangka panjang: bantuan sarana produksi harus menghasilkan aktivitas usaha, aktivitas usaha harus menghasilkan omzet, dan omzet pada akhirnya harus meningkatkan pendapatan serta kemandirian keluarga.
Di Warloka Pesisir, pendekatan holistik ini diwujudkan secara nyata. Dari total dana program sebesar Rp6 miliar, realisasi pembiayaan telah mencapai Rp5,6 miliar (91 persen). Alokasi tersebut mewujud pada dukungan 18 unit perahu nelayan, satu kapal bagan sebagai alat tangkap bagi sekitar 80 persen penerima manfaat, pembangunan rumah produksi dan sekretariat yang telah rampung 100 persen, hingga instalasi air bersih bagi masyarakat di empat wilayah RT.
Namun, nilai utama dari praktik baik ini tidak semata diukur dari tingginya daya serap anggaran, melainkan pada keberhasilan menciptakan rantai nilai (value chain). Penerima manfaat tidak hanya didorong menjual hasil laut mentah, tetapi juga memproses nilai tambah melalui uji coba pemasaran udang mantis, teripang, hingga pengembangan usaha terintegrasi dari penangkapan, pelelangan, kemitraan penampung (offtaker), pengolahan, hingga pemasaran.
Asdin, pendamping program dari LAZ, menekankan pentingnya penguatan masyarakat melalui kelembagaan dan aset produktif. Program tidak hanya memberikan bantuan perahu, tetapi juga mendorong kelompok membangun koperasi, rumah produksi, jaringan pemasaran, dan kapasitas pengurus.
Kelompok Nelayan Wae Jawa Mandiri kini telah memiliki Koperasi Pemasaran Syariah Nelayan Wae Jawa Mandiri, dengan legalitas badan hukum koperasi, SK desa, dokumen notaris, dan izin usaha. Penguatan kelembagaan ini menjadi fondasi agar aset pemberdayaan dapat dikelola secara bersama dan tidak berhenti sebagai bantuan individual. “Substansi utama program saat ini adalah membangun ekosistem ekonomi nelayan dari hulu ke hilir,” papar dia.
Kunci keberhasilan model Wae Jawa Mandiri juga terletak pada investasi sumber daya manusia dan penguatan spiritual. Sisi peningkatan kapasitas dibuktikan dengan keterlibatan 85 peserta dalam Training Manual Program, 44 orang dalam Training Bisnis Proses, dan 4 pengurus dalam Training Alur dan Tata Kelola.
Sementara itu, dimensi sosial-keagamaan tetap dihidupkan melalui halaqah Al-Qur'an ibu-ibu (14 peserta), halaqah anak-anak (15 peserta), kajian Maulid Nabi (12 peserta), serta kegiatan keagamaan masyarakat yang melibatkan 23 orang. Praktik ini membuktikan bahwa pemberdayaan zakat produktif tidak sekadar mengurus omzet, tetapi juga merawat solidaritas dan modal sosial masyarakat.
Bagi Kementerian Agama, kisah sukses Wae Jawa Mandiri adalah bukti nyata bahwa zakat, infak, sedekah, dan filantropi dapat menjadi instrumen efektif transformasi sosial jika dikelola secara terstruktur.
Meski begitu, proses pendampingan tetap berjalan berkelanjutan untuk mengoptimalkan produktivitas 18 perahu, memperluas jaringan offtaker, menguatkan tata kelola koperasi syariah, serta mendorong hilirisasi produk olahan. Model ini membuktikan bahwa dari tepian pesisir Manggarai Barat, zakat mampu mengubah narasi bertahan hidup menjadi narasi pertumbuhan dan kemandirian masa depan.
Kontributor: Raeihan
Editor: MAS
Sumber: www.kemenag.go.id










.png)
.png)