Media Gerakkan Kebaikan via Jurnalisme Filantropi

By Revolusioner 10 Agu 2026, 14:29:43 WIB Filantropi
Media Gerakkan Kebaikan via Jurnalisme Filantropi

Keterangan Gambar : Foto: Dok. Suaraaisyiyah.id


Dalam rangkaian resepsi milad ke-24 Lazismu, Majalah Suara Muhammadiyah berkolaborasi dengan Lazismu meluncurkan buku berjudul Jurnalisme Filantropi, Media dan Visi Kesejahteraan. Peluncuran berlangsung di Gedung Perpustakaan Nasional, Jakarta, belum lama ini.

Buku setebal 345 halaman tersebut dibahas oleh sejumlah tokoh, yakni penulis buku Roni Tobroni, Pemimpin Redaksi Republika Andi Muhyidin, Direktur Penanggulangan Kemiskinan dan Kesejahteraan Sosial Bappenas RI Tirta Sutedjo, serta Peneliti Filantropi Islam Amelia Fauzia. Masing-masing membedah isi buku berdasarkan perspektif dan keahliannya.

Roni Tobroni mengatakan buku tersebut lahir dari dua kegelisahan intelektual, yakni perkembangan jurnalisme yang terus menghadapi disrupsi serta praktik kedermawanan yang menjadi karakter kuat masyarakat Indonesia, tetapi belum terhubung secara optimal dengan dunia jurnalisme.

Baca Lainnya :

“Buku ini digagas untuk menjembatani dua kegelisahan itu. Tetapi diksi jurnalisme filantropi menjadi sebuah kajian keilmuan baru yang interdisiplin dan melahirkan cara pandang, pendekatan, dan konsep baru dalam bidang jurnalisme,” ujar dia.

Dia menjelaskan, jurnalisme filantropi tidak hanya bertugas menyampaikan informasi. Konsep tersebut juga tidak sebatas memberitakan kegiatan sosial maupun penderitaan masyarakat, tetapi turut mengawal persoalan sosial, menggerakkan semangat kedermawanan, serta mendorong masyarakat untuk bersama-sama mencari solusi.

“Oleh karena itu, ukuran keberhasilan jurnalisme filantropi bukan pada banyaknya berita, bukan pada seberapa viral, tetapi pada seberapa besar dampak yang dihadirkan bagi kehidupan sosial masyarakat,” ujar dia.

Pemimpin Redaksi Republika Andi Muhyidin mengatakan buku tersebut berupaya menjadi penghubung antara masyarakat yang membutuhkan bantuan dengan pihak yang ingin memberikan bantuan. Menurut dia, jurnalisme filantropi dapat memainkan peran sebagai jembatan di antara kedua pihak tersebut.

“Karya Mas Roni ini akan sangat membantu. Buku ini berhasil merangkum, menceritakan tahap demi tahap dan juga bagaimana kemudian jurnalisme filantropi itu diterapkan,” papar dia.

Andi menjelaskan, jurnalisme filantropi mencakup proses pemberitaan yang disertai empati hingga mendorong aksi nyata. Menurut dia, sejumlah media besar saat ini mulai bergerak ke arah tersebut, meskipun masih diperlukan diskusi lebih lanjut mengenai penerapannya.

“Jurnalisme filantropi itu berarti memberitakan, lalu menampilkan empati dan melakukan aksi. Kondisi itu yang sedang dilakukan oleh media-media besar. Mereka sedang bergerak ke arah sana, tapi kita juga perlu berdiskusi lebih lanjut soal ini,” ungkap dia.

Selain menjalankan fungsi pemberitaan, jurnalisme juga dinilai memiliki peran dalam membangun kepercayaan publik. Direktur Penanggulangan Kemiskinan dan Kesejahteraan Sosial Bappenas RI Tirta Sutedjo menilai konsep jurnalisme filantropi dapat menjadi pendekatan menarik untuk memperkuat kepercayaan masyarakat.

Menurut dia, konsep tersebut dapat mengangkat isu sosial dan kesejahteraan masyarakat sekaligus menghadirkan solusi terhadap persoalan yang diberitakan.

“Kita memiliki agenda besar tahun 2045, tepatnya 100 tahun Indonesia Merdeka. Harapannya, kita sudah menjadi negara maju. Artinya tidak ada kemiskinan lagi dan seluruh masyarakat Indonesia sudah sejahtera,” ungkap dia.

Tirta mengatakan jurnalisme filantropi perlu mengambil peran yang lebih besar, salah satunya dalam menghapus pelabelan negatif terhadap kelompok rentan yang masih banyak ditemukan di Indonesia.

“Ini menjadi tugas kita bersama. Baik pemerintah, masyarakat, jurnalis, dan media perlu bergandeng tangan sehingga agenda bersama ke depan bisa berjalan dengan baik dan lancar,” tutur dia.

Sementara itu, Peneliti Filantropi Islam Amelia Fauzia mengatakan praktik filantropi telah mengakar kuat di Indonesia. Menurut dia, terdapat hubungan timbal balik antara filantropi yang melahirkan jurnalisme maupun jurnalisme yang turut mendorong berkembangnya filantropi.

“Ada Republika yang melahirkan Dompet Dhuafa. Ada Muhammadiyah yang melahirkan koran ataupun Suara Muhammadiyah. Ini sebagian contoh saja. Mungkin di luar Indonesia lebih banyak lagi,” papar dia.

Amelia menilai jurnalisme filantropi perlu dilengkapi dengan kode etik agar memiliki standar yang jelas dalam memberitakan, mengawal, maupun mengadvokasi berbagai persoalan sosial dan kemasyarakatan.

“Bagaimana seorang jurnalis menjaga independensi jurnalistik. Paling tidak tetap saja jurnalisme filantropi harus ada kode etiknya. Bagaimana menyeimbangkan fungsi advokasi dengan prinsip-prinsip verifikasi, independensi, dan integritas,” tandas dia.

Direktur Utama PT Syarikat Cahaya Media, Deni Asy’ari, dalam sambutannya mengatakan keberadaan pers tidak hanya berfungsi untuk menyampaikan berita dan informasi. Menurut dia, pers juga memiliki tanggung jawab untuk mencerahkan, memperkaya wawasan, dan memberdayakan masyarakat.

“Kita berharap buku yang ditulis Kang Roni Tabroni ini, peran pers ke depan tidak sekadar mengungkap fakta, tetapi mulai membangun empati, memberi inspirasi, dan mengkoordinasi potensi, dan mengkonsolidasi sumber daya, termasuk di lingkungan Lazismu,” jelas dia.

Deni optimistis integrasi antara kekuatan jurnalisme dan gerakan filantropi dapat menghasilkan dampak yang besar. Menurut dia, kolaborasi tersebut dapat memperkuat upaya mengonsolidasikan potensi ekonomi, zakat, infak, dan sedekah.

“Kami berharap buku ini memberi pengaruh bahwa dunia pers tidak melulu soal berita, tapi ke depan, dunia pers bisa menginspirasi, membangun empati, dan mengkonsolidasikan potensi-potensi besar secara ekonomi dan juga memberikan solusi untuk membangun negeri ini,” tandas dia.

Peluncuran buku Jurnalisme Filantropi, Media dan Visi Kesejahteraan menjadi momentum untuk memperkenalkan gagasan mengenai peran media dan jurnalisme dalam memperkuat gerakan filantropi sekaligus mendorong terwujudnya kesejahteraan masyarakat.

Kontributor: Fadhlan

Editor: MAS

Sumber: www.suaraaisyiyah.id 




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment