- BAZNAS Mataram Pugar 56 Rumah Mustahik
- Islamic Relief Bantu Korban Banjir Bangladesh
- Belajar Pangkas Gratis di MUI Tangerang
- Mengenal Tradisi Waris Sebelum Kematian
- Filantropi Islam Indonesia Harus Mendunia
- Fikroh, Manhaj, dan Harakah Nahdhiyyah dalam Perspektif KH Maruf Amin
- RZ Perkuat Ketahanan Pangan Mustahik
- Jurnalisme Filantropi: Revitalisasi Peran Media untuk Visi Kesejahteraan Umat
- Ini Beasiswa Tendik untuk Studi di Inggris
- Muhammadiyah Terima Wakaf Pesantren
Filantropi Islam Indonesia Harus Mendunia

Keterangan Gambar : Foto: Dok. Muhammadiyah.or.id
Filantropi
Islam Indonesia dinilai perlu bergerak melampaui fungsi penghimpunan dan
penyaluran dana menuju ekosistem yang lebih inovatif, terdokumentasi, serta
memiliki daya saing di tingkat global.
Pernyataan
tersebut disampaikan Bendahara Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Hilman
Latief, saat menyampaikan Amanat Milad pada Resepsi Milad ke-24 Lazismu di Aula
Lantai 4 Perpustakaan Nasional, Gambir, Jakarta Pusat, baru-baru ini.
Hilman
menyampaikan bahwa Milad Lazismu tidak hanya menjadi agenda seremonial tahunan,
tetapi juga menjadi kesempatan untuk mengevaluasi arah pengembangan filantropi
Islam di Indonesia. Dia berharap Lazismu terus bertumbuh, semakin membawa
keberkahan, serta mampu memperluas manfaat bagi masyarakat melalui pengelolaan
zakat yang profesional dan mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman.
Baca Lainnya :
- ISMI Kembangkan Ekosistem Ekonomi Masjid0
- Bapanas Siapkan Rp17 T Bantuan Beras 0
- Bank Jatim Tebar Kacamata ke Pelajar0
- DD dan Gramedia Salur Donasi ke Keluarga Dhuafa0
- Donasi Rp2,5 M untuk Korban Penyekapan0
Menurut
Hilman, Indonesia mempunyai ekosistem zakat dan filantropi yang kompleks
sekaligus menyeluruh. Ekosistem tersebut didukung oleh berbagai lembaga,
seperti perbankan syariah, asuransi syariah, lembaga zakat, hingga beragam
program pemberdayaan yang saling terintegrasi. Meski demikian, potensi besar
tersebut dinilai belum banyak dikenal di tingkat internasional.
Menurut dia, tantangan terbesar bukan terletak pada minimnya praktik baik, melainkan pada kurangnya publikasi, dokumentasi, serta kemampuan membangun narasi mengenai kontribusi filantropi Indonesia kepada dunia. "Kita memiliki banyak praktik baik, tetapi belum cukup kuat dalam memperkenalkannya kepada dunia. Literasi, data, dan eksposur harus terus diperkuat," ujar dia.
Dalam
amanatnya, Hilman juga membagikan pengalamannya saat menghadiri forum
penghargaan filantropi internasional. Dia melihat berbagai organisasi
kemanusiaan mampu menghadirkan dampak besar melalui tata kelola yang
profesional, inovatif, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat.
Menurut
dia, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa kekuatan filantropi tidak hanya
diukur dari besarnya dana yang berhasil dihimpun, tetapi juga dari kualitas
tata kelola, inovasi, serta kemampuan menghadirkan solusi terhadap berbagai
persoalan kemanusiaan.
Oleh
karena itu, Hilman mendorong penguatan platform data filantropi di Indonesia
agar berbagai capaian lembaga zakat dan filantropi dapat terdokumentasi dengan
baik. Selain itu, dia menilai jurnalisme filantropi juga perlu diperkuat
sehingga berbagai praktik baik yang telah dilakukan dapat diketahui masyarakat
secara lebih luas, termasuk oleh komunitas internasional.
"Isu
sanitasi, air bersih, ketahanan pangan, dan berbagai program pemberdayaan sudah
banyak dilakukan. Tantangannya adalah bagaimana semua itu didokumentasikan dan
dinarasikan dengan baik sehingga dampaknya dapat dilihat oleh masyarakat,
bahkan dunia internasional," kata dia.
Hilman
juga menyoroti perubahan arah filantropi global yang mulai bergeser menuju
pembiayaan inovasi dan pengembangan teknologi. Berdasarkan pengalamannya
berdiskusi dengan sejumlah mitra internasional, dia melihat berbagai lembaga
filantropi di sejumlah negara mulai berinvestasi dalam pemanfaatan kecerdasan
buatan atau artificial intelligence (AI) guna mendukung layanan kesehatan dan
berbagai sektor lainnya.
Menurut
dia, perkembangan tersebut menjadi pengingat bahwa filantropi Islam Indonesia
perlu mulai memikirkan pembiayaan bagi inovasi dan solusi masa depan, serta
tidak hanya berfokus pada layanan sosial yang bersifat konvensional.
Pada
akhir amanatnya, Hilman mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk menyusun
strategi bersama dalam memperkuat ekosistem filantropi Islam Indonesia. Dengan
tata kelola yang baik, kolaborasi yang erat, dan inovasi yang berkelanjutan,
dia optimistis filantropi Islam Indonesia mampu tampil lebih unggul serta
memberikan kontribusi yang semakin besar, baik di tingkat nasional maupun
global.
Kontributor:
Asep
Editor:
MAS
Sumber: www.muhammadiyah.or.id











.png)
.png)