Bertabur Tebaran Cahaya Lebaran
Oleh: Dilfa Rahman Fadhilah

By Revolusioner 30 Mar 2026, 11:35:54 WIB Cerpen
Bertabur Tebaran Cahaya Lebaran

Keterangan Gambar : Foto: Asistensi AI


Langit mulai berwarna jingga saat mobil tua yang ditumpangi lima orang pemudik itu berhenti total di tengah hamparan sawah yang luas. Mereka awalnya hanya mengeluh macet panjang yang tak kunjung bergerak, tapi tak ada yang menyangka perjalanan pulang kampung menjelang Idul Fitri berubah jadi mimpi buruk.

Raka, si pengemudi, mematikan mesin sambil menghela napas panjang. “BBM kita tinggal sedikit,” katanya pelan. Di luar, kendaraan lain juga tampak diam tak bergerak, seperti terjebak dalam waktu.

Sari mencoba menghibur suasana. “Santai aja, paling juga bentar lagi lancar.” Tapi satu jam berlalu, lalu dua jam, dan jalan tetap tak bergerak.

Baca Lainnya :

Mereka akhirnya mendapat kabar dari radio mobil bahwa pemberlakuan one way lokal presisi di Tol Trans Jawa baru saja ditutup dini hari itu. Arus lalu lintas memang sudah kembali normal dua arah, tapi efek kemacetannya masih terasa panjang hingga ke jalur alternatif yang mereka lewati.

“Katanya sih arus mudik dan balik lancar, tapi kita malah kejebak begini,” celetuk Dimas sambil tertawa pahit. Raka hanya menggeleng, “Lancar buat yang beruntung.”

Jam terus berjalan. Matahari tenggelam, dan bensin mereka benar-benar habis. Mobil itu akhirnya tak bisa bergerak sama sekali. Mereka pun terpaksa berjalan kaki menyusuri pematang sawah dengan bantuan senter seadanya.

Di kejauhan, terlihat sebuah rumah sederhana dengan lampu temaram. Mereka saling pandang, lalu sepakat untuk meminta bantuan.

Pemilik rumah, seorang bapak tua bernama Pak Wiryo, menyambut mereka dengan wajah ramah namun terlihat lelah. “Silakan masuk, Nak. Maaf kalau seadanya,” ucapnya.

Di dalam rumah, suasana terasa sunyi dan agak mencekam. Dinding kayu yang mulai lapuk, lampu redup, dan aroma dapur yang kosong membuat mereka saling melirik. Mereka mulai sadar, rumah ini bukan sekadar sederhana—tapi kekurangan.

Ternyata, keluarga Pak Wiryo sedang mengalami musim paceklik. Sawah mereka gagal panen akibat cuaca buruk. “Sudah beberapa bulan kami harus berhemat makan,” kata istrinya lirih.

Meski begitu, mereka tetap mencoba menjamu tamu. Hal ini justru membuat para pemudik merasa tidak enak. Sari bahkan berbisik, “Kita yang numpang, tapi mereka yang kelaparan...”

Di tengah suasana haru, Dimas tiba-tiba mencoba mencairkan keadaan. Ia salah paham dengan bahasa daerah Pak Wiryo dan malah menjawab dengan logat aneh yang membuat semua orang tertawa. Bahkan Pak Wiryo ikut tertawa terbahak untuk pertama kalinya malam itu.

Raka lalu punya ide. Mereka membuka bagasi mobil yang tadi sempat mereka bawa jalan kaki—ternyata masih ada stok makanan ringan, mie instan, dan minuman yang cukup banyak untuk bekal perjalanan.

Malam itu berubah jadi momen tak terduga. Mereka memasak bersama di dapur sederhana, berbagi makanan, dan bercanda seperti keluarga sendiri. Suasana mencekam perlahan berubah hangat.

Keesokan paginya, dengan bantuan warga sekitar, mereka berhasil mendapatkan bahan bakar dan kembali melanjutkan perjalanan. Namun sebelum pergi, mereka sepakat menyisihkan uang dan logistik untuk keluarga Pak Wiryo.

Perjalanan yang awalnya terasa sial justru menjadi momen Lebaran paling berkesan. Mereka tidak hanya pulang kampung, tapi juga menemukan makna sebenarnya dari Idul Fitri berbagi, peduli, dan kebahagiaan yang lahir dari kebersamaan.




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment