Kepak Perahu Bersayap Malaikat
Oleh: Daffa Atha

By Revolusioner 10 Mar 2026, 09:18:19 WIB Cerpen
Kepak Perahu Bersayap Malaikat

Keterangan Gambar : Foto: Asistensi ChatGPT


Hujan turun seperti seseorang yang sedang kesal pada dunia. Sejak Sabtu siang, langit Jakarta seperti membuka keran air raksasa yang lupa ditutup. Jalanan berubah menjadi kolam, selokan naik pangkat menjadi sungai, dan beberapa rumah warga di Kembangan terpaksa belajar berenang tanpa kursus.

Di tengah keadaan itu, sebuah mobil rescue berhenti di depan kompleks Keuangan RI di Jalan Kembangan. Dari dalamnya turun empat orang anggota tim tanggap bencana. Salah satunya adalah seorang pemuda bernama Atha.

Atha ini, kalau dilihat sepintas, tidak terlalu berbeda dengan relawan lain. Pakaiannya sederhana, rambutnya rapi, wajahnya selalu tampak seperti orang yang baru saja meminta maaf kepada dunia. Tapi orang-orang yang mengenalnya tahu bahwa ia berasal dari keluarga yang kata orang cukup berada.

Baca Lainnya :

Hanya saja Atha selalu menolak kata “kaya” itu seperti menolak tawaran minum kopi yang terlalu manis.

“Tha, kamu kan anak orang kaya,” kata temannya suatu hari.

Atha langsung menggeleng cepat.

“Jangan bilang begitu. Saya ini cuma… kebetulan orang tua saya rajin bekerja.”

“Ya itu namanya kaya.”

“Bukan. Itu namanya orang tua yang rajin bekerja.”

Sejak saat itu, teman-temannya berhenti memperdebatkan definisi kekayaan dengan Atha. Karena Atha punya satu prinsip yang ia pegang kuat-kuat seperti orang memegang payung saat badai: jangan sombong, jangan pamer, dan jangan percaya kalau dipuji.

Maka ketika hari itu ia ikut tim BAZNAS Tanggap Bencana mengevakuasi warga yang terjebak banjir, Atha tampak paling sibuk. Bukan karena dia paling kuat, tapi karena dia paling tidak enak kalau melihat orang lain kesusahan.

“Perahunya siap?” tanya salah satu relawan.

“Siap,” jawab Atha sambil mendorong perahu karet LCR yang dilengkapi motor tempel.

Air banjir sudah mencapai dada orang dewasa di beberapa titik. Rumah-rumah terlihat seperti pulau kecil yang dikelilingi laut cokelat. Di salah satu rumah, seorang ibu melambaikan tangan dari jendela lantai satu.

“Tolong! Ada anak kecil di sini!”

Atha langsung mendayung perahu mendekat.

“Bu, tenang ya. Kita evakuasi sekarang,” katanya dengan suara yang terlalu sopan untuk situasi darurat.

Anak kecil itu digendong ke dalam perahu. Lalu seorang kakek yang jalannya sudah pelan-pelan juga ikut naik. Setelah itu seorang ibu membawa tas plastik berisi entah apa, mungkin dokumen, mungkin juga biskuit.

“Mas, hati-hati ya. Itu tas penting,” kata ibu itu.

Atha mengangguk serius seolah tas itu berisi peta rahasia negara.

Beberapa jam kemudian, tim berhasil mengevakuasi sekitar tiga puluh orang dari rumah mereka. Warga dibawa ke tempat yang lebih aman.

Seorang bapak yang baru saja turun dari perahu menepuk bahu Atha.

“Terima kasih, Nak. Kamu ini pasti anak orang kaya yang baik hati.”

Atha langsung kaget seperti orang yang tidak sengaja meminum teh terlalu panas.

“Bapak jangan bilang begitu,” katanya buru-buru.

“Lho kenapa?”

“Saya bukan orang kaya.”

“Tapi kamu pakai sepatu bagus.”

“Ini sepatu lama.”

“Jam tanganmu kelihatan mahal.”

“Itu hadiah.”

Bapak itu tertawa.

“Kamu ini lucu juga, Nak.”

Atha tersenyum malu-malu.

Tak jauh dari situ, seorang relawan lain sedang berbicara melalui telepon dengan pimpinan tim. Ia menyampaikan laporan bahwa evakuasi berjalan lancar.

“Keselamatan warga jadi prioritas,” kata pimpinan mereka dalam pesan yang disampaikan kembali oleh relawan itu.

Atha mendengarnya sambil mengikat tali perahu.

Ia melihat para warga yang kini duduk di tempat aman. Ada yang memeluk anaknya, ada yang sibuk mengeringkan pakaian, ada yang hanya diam memandangi langit yang masih murung.

Atha menarik napas panjang.

Baginya, membantu orang bukanlah sesuatu yang luar biasa. Itu hanya hal yang seharusnya dilakukan manusia kepada manusia lain.

Seorang relawan mendekatinya.

“Tha, kamu ini sebenarnya hebat juga.”

Atha langsung menggeleng.

“Jangan bilang begitu.”

“Kenapa lagi?”

“Nanti saya jadi sombong.”

Relawan itu tertawa.

“Tenang saja. Kalau kamu bisa sombong, mungkin banjir ini sudah kering dari tadi.”

Atha ikut tertawa kecil.

Di kejauhan, hujan mulai mereda. Air masih menggenang, tetapi langit tampaknya sedang mempertimbangkan untuk berhenti marah.

Atha duduk di pinggir perahu karetnya.

Ia tidak merasa menjadi pahlawan. Ia hanya merasa menjadi orang biasa yang kebetulan datang membawa perahu di saat yang tepat.

Dan mungkin, pikirnya, dunia memang tidak membutuhkan terlalu banyak orang hebat.

Cukup orang-orang yang tidak tega melihat orang lain tenggelam. Mereka yang menjelma menjadi malaikat-malaikat dengan sayap yang berkepak di dinding-dinding perahu karet.




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment