- Amalan Sunah di Sepuluh Malam Terakhir Ramadan
- BAZNAS dan Blibli Hadirkan Program Paket Ramadan Bahagia
- Kepak Perahu Bersayap Malaikat
- Zakat dan Tanggung Jawab Sosial di Tengah Bencana
- BAZNAS Evakuasi Warga Terdampak Banjir di Kembangan
- UIN Jakarta Salurkan Donasi Rp117 Juta bagi Korban Bencana
- Ivan Gunawan Ajak Masyarakat Berzakat lewat BAZNAS
- Oli Filantropi Bengkel Surgawi
- Zakatnomics Mudik: Dari Santunan ke Pemberdayaan Produktif
- Banten Jadi Pusat Layanan Umrah Terpadu
Kepak Perahu Bersayap Malaikat
Oleh: Daffa Atha

Keterangan Gambar : Foto: Asistensi ChatGPT
Hujan turun seperti seseorang yang sedang kesal pada dunia. Sejak Sabtu siang, langit Jakarta seperti membuka keran air raksasa yang lupa ditutup. Jalanan berubah menjadi kolam, selokan naik pangkat menjadi sungai, dan beberapa rumah warga di Kembangan terpaksa belajar berenang tanpa kursus.
Di tengah keadaan itu, sebuah
mobil rescue berhenti di depan kompleks Keuangan RI di Jalan Kembangan. Dari
dalamnya turun empat orang anggota tim tanggap bencana. Salah satunya adalah
seorang pemuda bernama Atha.
Atha ini, kalau dilihat sepintas,
tidak terlalu berbeda dengan relawan lain. Pakaiannya sederhana, rambutnya
rapi, wajahnya selalu tampak seperti orang yang baru saja meminta maaf kepada
dunia. Tapi orang-orang yang mengenalnya tahu bahwa ia berasal dari keluarga
yang kata orang cukup berada.
Baca Lainnya :
- Oli Filantropi Bengkel Surgawi0
- Senyum yang Berhembus Menyeberangi Laut0
- Kardus-Kardus Asa 0
- Sungai Rahmat Suscia Rahmani0
- Zakat Penghabisan di Bulan Kemerdekaan0
Hanya saja Atha selalu menolak
kata “kaya” itu seperti menolak tawaran minum kopi yang terlalu manis.
“Tha, kamu kan anak orang kaya,”
kata temannya suatu hari.
Atha langsung menggeleng cepat.
“Jangan bilang begitu. Saya ini
cuma… kebetulan orang tua saya rajin bekerja.”
“Ya itu namanya kaya.”
“Bukan. Itu namanya orang tua
yang rajin bekerja.”
Sejak saat itu, teman-temannya
berhenti memperdebatkan definisi kekayaan dengan Atha. Karena Atha punya satu
prinsip yang ia pegang kuat-kuat seperti orang memegang payung saat badai:
jangan sombong, jangan pamer, dan jangan percaya kalau dipuji.
Maka ketika hari itu ia ikut tim
BAZNAS Tanggap Bencana mengevakuasi warga yang terjebak banjir, Atha tampak
paling sibuk. Bukan karena dia paling kuat, tapi karena dia paling tidak enak
kalau melihat orang lain kesusahan.
“Perahunya siap?” tanya salah
satu relawan.
“Siap,” jawab Atha sambil
mendorong perahu karet LCR yang dilengkapi motor tempel.
Air banjir sudah mencapai dada
orang dewasa di beberapa titik. Rumah-rumah terlihat seperti pulau kecil yang
dikelilingi laut cokelat. Di salah satu rumah, seorang ibu melambaikan tangan
dari jendela lantai satu.
“Tolong! Ada anak kecil di sini!”
Atha langsung mendayung perahu
mendekat.
“Bu, tenang ya. Kita evakuasi
sekarang,” katanya dengan suara yang terlalu sopan untuk situasi darurat.
Anak kecil itu digendong ke dalam
perahu. Lalu seorang kakek yang jalannya sudah pelan-pelan juga ikut naik.
Setelah itu seorang ibu membawa tas plastik berisi entah apa, mungkin dokumen,
mungkin juga biskuit.
“Mas, hati-hati ya. Itu tas
penting,” kata ibu itu.
Atha mengangguk serius seolah tas
itu berisi peta rahasia negara.
Beberapa jam kemudian, tim
berhasil mengevakuasi sekitar tiga puluh orang dari rumah mereka. Warga dibawa
ke tempat yang lebih aman.
Seorang bapak yang baru saja
turun dari perahu menepuk bahu Atha.
“Terima kasih, Nak. Kamu ini
pasti anak orang kaya yang baik hati.”
Atha langsung kaget seperti orang
yang tidak sengaja meminum teh terlalu panas.
“Bapak jangan bilang begitu,”
katanya buru-buru.
“Lho kenapa?”
“Saya bukan orang kaya.”
“Tapi kamu pakai sepatu bagus.”
“Ini sepatu lama.”
“Jam tanganmu kelihatan mahal.”
“Itu hadiah.”
Bapak itu tertawa.
“Kamu ini lucu juga, Nak.”
Atha tersenyum malu-malu.
Tak jauh dari situ, seorang
relawan lain sedang berbicara melalui telepon dengan pimpinan tim. Ia
menyampaikan laporan bahwa evakuasi berjalan lancar.
“Keselamatan warga jadi
prioritas,” kata pimpinan mereka dalam pesan yang disampaikan kembali oleh
relawan itu.
Atha mendengarnya sambil mengikat
tali perahu.
Ia melihat para warga yang kini
duduk di tempat aman. Ada yang memeluk anaknya, ada yang sibuk mengeringkan
pakaian, ada yang hanya diam memandangi langit yang masih murung.
Atha menarik napas panjang.
Baginya, membantu orang bukanlah
sesuatu yang luar biasa. Itu hanya hal yang seharusnya dilakukan manusia kepada
manusia lain.
Seorang relawan mendekatinya.
“Tha, kamu ini sebenarnya hebat
juga.”
Atha langsung menggeleng.
“Jangan bilang begitu.”
“Kenapa lagi?”
“Nanti saya jadi sombong.”
Relawan itu tertawa.
“Tenang saja. Kalau kamu bisa
sombong, mungkin banjir ini sudah kering dari tadi.”
Atha ikut tertawa kecil.
Di kejauhan, hujan mulai mereda.
Air masih menggenang, tetapi langit tampaknya sedang mempertimbangkan untuk
berhenti marah.
Atha duduk di pinggir perahu
karetnya.
Ia tidak merasa menjadi pahlawan.
Ia hanya merasa menjadi orang biasa yang kebetulan datang membawa perahu di
saat yang tepat.
Dan mungkin, pikirnya, dunia
memang tidak membutuhkan terlalu banyak orang hebat.
Cukup orang-orang yang tidak tega melihat orang lain tenggelam. Mereka yang menjelma menjadi malaikat-malaikat dengan sayap yang berkepak di dinding-dinding perahu karet.








.jpg)
.png)
.png)