- Oli Filantropi Bengkel Surgawi
- Zakatnomics Mudik: Dari Santunan ke Pemberdayaan Produktif
- Banten Jadi Pusat Layanan Umrah Terpadu
- Senyum yang Berhembus Menyeberangi Laut
- Kampung Zakat Dekat IKN Jadi Percontohan
- Ramadan dan Fikih Solidaritas untuk Palestina
- DD Wisuda Sekolah Lansia Perdana di Kaltara
- Kardus-Kardus Asa
- Tokopedia dan LAZISNU Salurkan Paket Buka Puasa
- Zakat: Pengertian, Hukum, Jenis, Syarat, dan Ketentuan
Oli Filantropi Bengkel Surgawi
Oleh: Daffa Atha

Keterangan Gambar : Foto: Asistensi ChatGPT
Nama pemuda itu Iruz. Usianya dua puluh sekian, wajahnya selalu terlihat seperti orang yang baru saja menemukan alasan untuk tersenyum. Ia dikenal di kalangan teman-temannya sebagai aktivis filantropi meskipun bagi ibunya di kampung, pekerjaan itu lebih sering dijelaskan sederhana: “Iruz mah kerja bantu orang.”
Pagi itu halaman sebuah bengkel
kecil sudah seperti pasar dadakan. Puluhan sepeda motor berjejer rapi, sebagian
membawa boks besar di belakang tanda bahwa pemiliknya adalah pengemudi ojek
online. Spanduk besar di depan bengkel bertuliskan: Servis dan Ganti Oli Gratis,
Mudik Aman Bersama Z-Auto.
Iruz berdiri di dekat meja
pendaftaran sambil memegang daftar nama yang panjangnya hampir seperti daftar
belanja Ramadan ibunya.
Baca Lainnya :
- Senyum yang Berhembus Menyeberangi Laut0
- Kardus-Kardus Asa 0
- Sungai Rahmat Suscia Rahmani0
- Zakat Penghabisan di Bulan Kemerdekaan0
- Jalan Pulang Seorang Ayah0
“Mas, ini gratis beneran?” tanya
seorang bapak pengemudi ojek yang wajahnya tampak ragu.
Iruz tersenyum lebar. “Gratis,
Pak. Yang bayar lembaga zakat.”
“Lembaga zakat?”
“Iya. Jadi bapak tinggal duduk,
minum teh, motornya yang kerja, eh maksud saya yang diperbaiki.”
Bapak itu tertawa kecil. Motor
tuanya kemudian didorong ke dalam bengkel, tempat beberapa montir sibuk
bekerja.
Bengkel itu sebenarnya milik para montir binaan program pemberdayaan. Mereka dulunya juga hidup pas-pasan. Ada yang pernah jadi buruh bangunan, ada yang dulu cuma tambal ban pinggir jalan. Sekarang mereka memakai seragam biru dengan logo bengkel yang tampak cukup gagah.
Salah satu montir bernama Raka
sedang sibuk membuka baut mesin ketika Iruz mendekat.
“Ramai ya, Ka,” kata Iruz.
“Ramai banget. Ini baru jam
sembilan, oli sudah habis setengah,” jawab Raka sambil mengelap tangan dengan
lap hitam yang warnanya sudah tidak jelas lagi.
“Artinya berkah,” kata Iruz
santai.
Raka mengangguk. “Dulu saya kira
zakat itu cuma beras sama amplop.”
“Sekarang juga oli,” sahut Iruz.
Mereka tertawa.
Tak lama kemudian seorang pria bernama Narto datang dengan motor yang suaranya seperti batuk kronis.
“Mas, ini masih bisa diselamatkan
nggak?” tanya Narto sambil mematikan mesin yang sudah jelas minta istirahat.
Raka memeriksa sebentar lalu
berkata, “Bisa, Pak. Tapi motornya kayaknya juga pengen mudik.”
Narto tertawa lepas. “Saya juga
pengen mudik, Mas. Ke Kebumen. Kalau motor ini mogok di jalan, saya bisa pulang
naik angin.”
Iruz mencatat nama Narto di
daftar. Ia lalu berkata pelan, “Semoga nanti perjalanan bapak lancar. Ketemu
orang tua di kampung itu nikmatnya beda.”
Narto mengangguk. Matanya sedikit
berkaca-kaca, meski ia cepat menutupinya dengan tawa.
“Kalau sampai kampung, saya
cerita ke ibu saya,” kata Narto, “bahwa ada orang-orang baik yang bikin motor
saya bisa pulang.”
Iruz menggaruk kepala. Ia selalu
merasa canggung kalau disebut orang baik.
Menjelang siang, antrean makin panjang. Ada yang datang dari jauh hanya karena mendengar kabar di grup WhatsApp pengemudi ojek.
Seorang pengendara muda bertanya,
“Mas, ini kenapa bisa gratis sih?”
Iruz menjawab sambil membagikan
nomor antrean, “Karena ada orang-orang yang menunaikan zakat. Lalu zakat itu
dipakai untuk membantu yang membutuhkan.”
“Termasuk ganti oli?”
“Termasuk ganti oli.”
Pemuda itu mengangguk-angguk,
seperti baru menemukan definisi zakat yang tidak ada di buku pelajaran sekolah.
Saat istirahat siang, Iruz duduk di bangku kayu sambil memandangi deretan motor yang sudah selesai diservis. Para pemiliknya terlihat senang, seperti anak-anak yang baru mengambil rapor dengan nilai bagus.
Di sudut bengkel, Raka masih
sibuk bekerja.
Iruz mendekat. “Ka, capek?”
“Capek sih. Tapi senang,” jawab
Raka.
“Kenapa?”
Raka menutup kap mesin sebuah
motor lalu berkata pelan, “Dulu saya yang dibantu. Sekarang saya yang
membantu.”
Iruz diam sejenak. Kalimat itu
sederhana, tapi rasanya seperti kalimat panjang yang sulit dijelaskan.
Menjelang sore, antrean mulai berkurang. Di papan catatan, jumlah motor yang sudah diservis hari itu hampir seratus.
Iruz menatap angka itu dengan
perasaan aneh. Ia bukan montir, bukan juga orang kaya. Ia hanya pemuda yang
kebetulan suka membantu orang.
Namun hari itu ia merasa seperti
sedang melakukan sesuatu yang penting—meski bentuknya cuma oli, baut, dan kunci
inggris.
Seorang bapak yang motornya sudah
selesai diperbaiki menghampirinya.
“Terima kasih ya, Mas,” katanya.
Iruz tersenyum. “Hati-hati di
jalan, Pak.”
Bapak itu mengangguk lalu
menyalakan motor. Suara mesinnya kini halus, seperti orang yang baru sembuh
dari flu.
Motor itu melaju perlahan
meninggalkan bengkel.
Iruz memandanginya sampai hilang
di ujung jalan.
Dalam hati ia berpikir, mungkin
beginilah cara kecil dunia bekerja: ada orang yang memberi, ada yang menerima,
lalu suatu hari nanti perannya bisa saja bertukar.
Dan di antara semua itu, selalu
ada jalan pulang. Berkah oli filantropi dari "bengkel surga" yang selalu menebarkan kebaikan.








.jpg)
.png)
.png)