Oli Filantropi Bengkel Surgawi
Oleh: Daffa Atha

By Revolusioner 05 Mar 2026, 14:24:16 WIB Cerpen
Oli Filantropi Bengkel Surgawi

Keterangan Gambar : Foto: Asistensi ChatGPT


Nama pemuda itu Iruz. Usianya dua puluh sekian, wajahnya selalu terlihat seperti orang yang baru saja menemukan alasan untuk tersenyum. Ia dikenal di kalangan teman-temannya sebagai aktivis filantropi meskipun bagi ibunya di kampung, pekerjaan itu lebih sering dijelaskan sederhana: “Iruz mah kerja bantu orang.”

Pagi itu halaman sebuah bengkel kecil sudah seperti pasar dadakan. Puluhan sepeda motor berjejer rapi, sebagian membawa boks besar di belakang tanda bahwa pemiliknya adalah pengemudi ojek online. Spanduk besar di depan bengkel bertuliskan: Servis dan Ganti Oli Gratis, Mudik Aman Bersama Z-Auto.

Iruz berdiri di dekat meja pendaftaran sambil memegang daftar nama yang panjangnya hampir seperti daftar belanja Ramadan ibunya.

Baca Lainnya :

“Mas, ini gratis beneran?” tanya seorang bapak pengemudi ojek yang wajahnya tampak ragu.

Iruz tersenyum lebar. “Gratis, Pak. Yang bayar lembaga zakat.”

“Lembaga zakat?”

“Iya. Jadi bapak tinggal duduk, minum teh, motornya yang kerja, eh maksud saya yang diperbaiki.”

Bapak itu tertawa kecil. Motor tuanya kemudian didorong ke dalam bengkel, tempat beberapa montir sibuk bekerja.

Bengkel itu sebenarnya milik para montir binaan program pemberdayaan. Mereka dulunya juga hidup pas-pasan. Ada yang pernah jadi buruh bangunan, ada yang dulu cuma tambal ban pinggir jalan. Sekarang mereka memakai seragam biru dengan logo bengkel yang tampak cukup gagah.

Salah satu montir bernama Raka sedang sibuk membuka baut mesin ketika Iruz mendekat.

“Ramai ya, Ka,” kata Iruz.

“Ramai banget. Ini baru jam sembilan, oli sudah habis setengah,” jawab Raka sambil mengelap tangan dengan lap hitam yang warnanya sudah tidak jelas lagi.

“Artinya berkah,” kata Iruz santai.

Raka mengangguk. “Dulu saya kira zakat itu cuma beras sama amplop.”

“Sekarang juga oli,” sahut Iruz.

Mereka tertawa.

Tak lama kemudian seorang pria bernama Narto datang dengan motor yang suaranya seperti batuk kronis.

“Mas, ini masih bisa diselamatkan nggak?” tanya Narto sambil mematikan mesin yang sudah jelas minta istirahat.

Raka memeriksa sebentar lalu berkata, “Bisa, Pak. Tapi motornya kayaknya juga pengen mudik.”

Narto tertawa lepas. “Saya juga pengen mudik, Mas. Ke Kebumen. Kalau motor ini mogok di jalan, saya bisa pulang naik angin.”

Iruz mencatat nama Narto di daftar. Ia lalu berkata pelan, “Semoga nanti perjalanan bapak lancar. Ketemu orang tua di kampung itu nikmatnya beda.”

Narto mengangguk. Matanya sedikit berkaca-kaca, meski ia cepat menutupinya dengan tawa.

“Kalau sampai kampung, saya cerita ke ibu saya,” kata Narto, “bahwa ada orang-orang baik yang bikin motor saya bisa pulang.”

Iruz menggaruk kepala. Ia selalu merasa canggung kalau disebut orang baik.

Menjelang siang, antrean makin panjang. Ada yang datang dari jauh hanya karena mendengar kabar di grup WhatsApp pengemudi ojek.

Seorang pengendara muda bertanya, “Mas, ini kenapa bisa gratis sih?”

Iruz menjawab sambil membagikan nomor antrean, “Karena ada orang-orang yang menunaikan zakat. Lalu zakat itu dipakai untuk membantu yang membutuhkan.”

“Termasuk ganti oli?”

“Termasuk ganti oli.”

Pemuda itu mengangguk-angguk, seperti baru menemukan definisi zakat yang tidak ada di buku pelajaran sekolah.

Saat istirahat siang, Iruz duduk di bangku kayu sambil memandangi deretan motor yang sudah selesai diservis. Para pemiliknya terlihat senang, seperti anak-anak yang baru mengambil rapor dengan nilai bagus.

Di sudut bengkel, Raka masih sibuk bekerja.

Iruz mendekat. “Ka, capek?”

“Capek sih. Tapi senang,” jawab Raka.

“Kenapa?”

Raka menutup kap mesin sebuah motor lalu berkata pelan, “Dulu saya yang dibantu. Sekarang saya yang membantu.”

Iruz diam sejenak. Kalimat itu sederhana, tapi rasanya seperti kalimat panjang yang sulit dijelaskan.

Menjelang sore, antrean mulai berkurang. Di papan catatan, jumlah motor yang sudah diservis hari itu hampir seratus.

Iruz menatap angka itu dengan perasaan aneh. Ia bukan montir, bukan juga orang kaya. Ia hanya pemuda yang kebetulan suka membantu orang.

Namun hari itu ia merasa seperti sedang melakukan sesuatu yang penting—meski bentuknya cuma oli, baut, dan kunci inggris.

Seorang bapak yang motornya sudah selesai diperbaiki menghampirinya.

“Terima kasih ya, Mas,” katanya.

Iruz tersenyum. “Hati-hati di jalan, Pak.”

Bapak itu mengangguk lalu menyalakan motor. Suara mesinnya kini halus, seperti orang yang baru sembuh dari flu.

Motor itu melaju perlahan meninggalkan bengkel.

Iruz memandanginya sampai hilang di ujung jalan.

Dalam hati ia berpikir, mungkin beginilah cara kecil dunia bekerja: ada orang yang memberi, ada yang menerima, lalu suatu hari nanti perannya bisa saja bertukar.

Dan di antara semua itu, selalu ada jalan pulang. Berkah oli filantropi dari "bengkel surga" yang selalu menebarkan kebaikan.




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment