Kardus-Kardus Asa
Oleh: Daffa Atha

By Revolusioner 03 Mar 2026, 09:21:27 WIB Cerpen
Kardus-Kardus Asa

Keterangan Gambar : Foto: Asistensi ChatGPT


Di sebuah sudut kantor lembaga filantropi yang pendinginnya kadang lebih dingin dari mantan, Budi berdiri dengan wajah serius seperti hendak mencalonkan diri jadi ketua RT sedunia. Padahal, yang ia pimpin pagi itu bukan rapat akbar, melainkan tumpukan kardus berisi pakaian baru yang harum kainnya masih menyisakan bau pabrik, bau harapan, kata Budi, sambil sok puitis.

Budi ini aktivis organisasi sosial. Rambutnya selalu agak berantakan seperti grafik donasi yang naik-turun, dan tas ranselnya penuh catatan, spidol, serta satu sisir yang jarang dipakai. Ramadan tahun itu, ia ikut dalam program bertajuk Ramadan untuk Palestina. Tugasnya sederhana tapi agung: membantu mendistribusikan 2.400 paket pakaian untuk para pengungsi di Gaza.

“Dua ribu empat ratus itu bukan angka,” kata Budi kepada relawan lain yang sedang menghitung kardus sambil mengernyit. “Itu doa yang dijahit satu-satu.”

Baca Lainnya :

Relawan itu mengangguk, meski ia sebenarnya sedang menghitung apakah angka di kardus sesuai dengan nota.

Pakaian-pakaian itu akan dikirim ke dua titik di pusat Kota Gaza: Al Zahraa Camp dan Palestine Camp. Nama-nama itu terdengar seperti dua sahabat lama yang tabah. Di sanalah, para pengungsi anak-anak dengan mata cekung tapi tetap ingin bermain, dan para lansia yang punggungnya membungkuk oleh usia serta sejarah menunggu sesuatu yang mungkin terdengar sepele bagi orang yang lemari bajunya penuh: pakaian baru.

Budi membayangkan seorang anak kecil di Gaza membuka paket itu. Mungkin ia akan mencium kainnya. Mungkin ia akan tersenyum tipis, senyum yang jarang-jarang muncul sejak rumahnya tinggal cerita. Dan di situlah, Budi merasa, hidupnya yang sering terasa seperti mie instan tanpa bumbu, mendadak punya rasa.

Program ini bukan kerja Budi sendirian. Ia sering menyebutnya “orkestra kebaikan”. Ada kolaborasi dengan Majelis Ulama Indonesia, MIRA, LAZ Muhajirin, dan mitra-mitra strategis lainnya. Semua bergerak seperti roda jam dinding kadang bunyinya berderit, tapi tetap berjalan.

Dalam sebuah keterangan tertulis yang dibacakan dengan suara khidmat, Saodah dari LAZNAS menegaskan bahwa bantuan ini adalah bentuk konkret menjaga martabat saudara-saudara di Gaza. Budi mendengarnya sambil mengangguk-angguk, merasa kalimat “menjaga martabat” itu seperti payung di tengah badai.

Distribusi dilakukan dengan menggandeng mitra lokal di Gaza. Situasinya tidak mudah, konflik membuat segalanya serba terbatas. Tapi seperti kata Budi pada dirinya sendiri, “Kalau niatnya lurus, jalan itu kadang muncul belakangan, seperti rezeki setelah tanggal tua.”

Prioritas diberikan pada kelompok rentan: anak-anak dan lansia. Budi membayangkan seorang nenek menerima pakaian hangat, mengelus kainnya pelan, lalu berdoa dalam bahasa yang mungkin tak ia pahami, tapi Tuhan tentu paham. Di situ, Budi merasa kecil sekaligus lega. Kecil karena sadar ia hanya perantara; lega karena perantara pun ternyata bisa berarti.

“Palestina tidak sendirian,” ucap Budi suatu malam, sendirian di beranda kosnya, sambil menatap langit yang entah mengapa terasa lebih jauh dari biasanya. “Selama masih ada orang yang mau berbagi, selalu ada celah cahaya.”

Ia tahu, 2.400 paket pakaian tidak serta-merta menghentikan konflik. Tidak membuat bangunan runtuh berdiri lagi dalam semalam. Tapi ia juga tahu, kemanusiaan seringkali bertahan bukan karena keajaiban besar, melainkan karena hal-hal kecil yang terus diulang: memberi, peduli, mendoakan.

Dan Ramadan, bagi Budi, adalah pengingat bahwa puasa bukan hanya soal menahan lapar. Tapi juga menahan diri untuk tidak apatis.

Di akhir pekan itu, ketika laporan distribusi masuk dan angka-angka dinyatakan tuntas, Budi menutup laptopnya pelan. Ia tersenyum, bukan karena merasa hebat, tapi karena merasa terhubung dari Pasartanahtinggi sampai Gaza, dari satu lembar pakaian ke selembar harapan.

Barangkali, pikirnya, dunia memang tidak selalu adil. Tapi selama masih ada orang-orang yang mau menyisihkan sedikit untuk yang jauh, keadilan tidak pernah benar-benar pergi. Ia hanya menunggu untuk dijahit kembali seperti pakaian-pakaian itu, oleh tangan-tangan yang percaya bahwa berbagi adalah cara paling sederhana untuk tetap menjadi manusia.




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment