- Senyum yang Berhembus Menyeberangi Laut
- Kampung Zakat Dekat IKN Jadi Percontohan
- Ramadan dan Fikih Solidaritas untuk Palestina
- DD Wisuda Sekolah Lansia Perdana di Kaltara
- Kardus-Kardus Asa
- Tokopedia dan LAZISNU Salurkan Paket Buka Puasa
- Zakat: Pengertian, Hukum, Jenis, Syarat, dan Ketentuan
- Sungai Rahmat Suscia Rahmani
- Zakat Fitrah di Tengah Banjir Rob: Dari Teks Fikih ke Aksi Nyata
- BAZNAS Salurkan Beras ke Korban Rob Bekasi
Senyum yang Berhembus Menyeberangi Laut
Oleh: Daffa Atha

Keterangan Gambar : Foto: Asistensi ChatGPT
Ramadan itu, langit di atas Gaza
tampak seperti kain tua yang belum selesai dijahit. Angin berembus membawa
debu, juga sisa-sisa azan yang menggantung di antara bangunan yang setengah
tinggal kenangan. Di sana, Diza berdiri dengan rompi krem bertuliskan Lembaga Amil Zakat yang sedikit kebesaran seolah niat baik memang selalu
membutuhkan ruang lebih luas.
Namanya Diza. Aktivis filantropi
yang terlalu mudah percaya bahwa senyum bisa menjadi bahasa internasional.
Hijabnya terpasang rapi membingkai wajahnya yang teduh, busana muslimahnya
sederhana, warnanya tak mencolok barangkali agar tidak mengalahkan sorot mata
warga yang jauh lebih kuat daripada sorot kamera mana pun.
Ia ditugaskan mendampingi
distribusi 100.000 liter air bersih di kawasan Al Jalaa. Seratus ribu liter. Di
atas kertas, itu angka. Di lapangan, itu napas.
Baca Lainnya :
- Kardus-Kardus Asa 0
- Sungai Rahmat Suscia Rahmani0
- Zakat Penghabisan di Bulan Kemerdekaan0
- Jalan Pulang Seorang Ayah0
- Di Balik Ayat yang Tak Selesai0
Di depan truk tangki, antrean
sudah memanjang seperti doa yang tak ingin diakhiri. Seorang anak laki-laki
memanggul jerigen biru yang tampak lebih berat daripada pelajaran
matematikanya.
Diza mendekat sambil tersenyum.
“Assalamu’alaikum,” sapanya
pelan, dengan logat Arab yang ia latih semalaman.
Anak itu menoleh, matanya
berbinar. “Wa’alaikumussalam. Anti min Aindunisia?” (Kamu dari Indonesia?)
Diza mengangguk. “Na’am, min
Aindunisia.” Lalu cepat-cepat menambahkan dalam bahasa Inggris seadanya, “We
bring water… from Indonesian people.”
Anak itu tersenyum lebar.
“Syukran, Indonesia.”
Diza merasa kosakata Arabnya
mendadak lulus ujian kehidupan.
Tak jauh dari sana, seorang ibu
muda dengan bayi di gendongan memegang ember retak. Diza membantu menahan
selang agar air tak tumpah.
“Ramadan kareem,” ucap Diza
hati-hati.
“Allah akram,” jawab sang ibu,
lalu berkata pelan dalam bahasa Arab yang diterjemahkan relawan lokal, “Kami
tidak pernah menyangka ada saudara sejauh itu memikirkan kami.”
Diza tersenyum. “Kami mungkin
jauh di peta, tapi dekat di doa.”
Di Jakarta, dalam keterangan
tertulisnya, Ketua BAZNAS RI, Noor Achmad, menyampaikan, “Alhamdulillah telah
dilaksanakan penyaluran air bersih, ini merupakan kebutuhan vital yang tidak
bisa ditunda pemenuhannya, terlebih dalam kondisi darurat akibat konflik
berkepanjangan dan di bulan suci Ramadan ini.”
Kalimat itu kini menjelma nyata
di hadapan Diza: anak-anak, remaja, hingga lansia berdiri sabar menanti
giliran. Sebagian membawa jerigen, sebagian lagi botol plastik bekas minuman
bersoda yang mungkin terakhir kali mereka minum sebelum air bersih menjadi
kemewahan.
Seorang kakek berjenggot putih
berdiri dengan tongkat sederhana. Diza menghampiri.
“Hal tureed musa’adah?” tanyanya
terbata (Apakah Anda butuh bantuan?)
Kakek itu tersenyum lembut. “Ana
jayyidah,” katanya pelan. “Saya baik-baik saja.” Lalu ia menunjuk truk tangki.
“Al-maa’ hayah.” Air adalah kehidupan.
Diza mengangguk. Dalam hati ia
menambahkan: dan solidaritas adalah jembatannya.
Menjelang berbuka, langit Gaza
berubah warna, jingga yang sendu. Distribusi hari itu hampir selesai. Total
100.000 liter air telah dibagikan untuk sekitar 2.500 jiwa. Angka yang di
laporan akan tampak rapi, tapi di lapangan terasa seperti mukjizat kecil yang
digotong bersama.
Seorang remaja perempuan
mendekat, membawa dua botol besar. Ia berkata dalam bahasa Inggris yang
malu-malu, “Thank you, Indonesia… for clean water.”
Diza menahan haru. “Please pray
for us too,” jawabnya pelan.
Remaja itu tersenyum. “We pray
for all Muslims.”
Di momen itu, Diza merasa
perbatasan hanyalah garis imajiner yang tidak berlaku bagi air dan doa.
Program ini bukan akhir. BAZNAS
RI akan terus memantau situasi di Gaza, memastikan kebutuhan dasar, pangan,
air, layanan kesehatan tetap dapat diakses warga. Tapi bagi Diza, hari itu
sudah cukup untuk memahami satu hal: kemanusiaan selalu menemukan jalannya,
bahkan di antara reruntuhan.
Malamnya, di penginapan
sederhana, ia menulis laporan sambil sesekali mengingat percakapan-percakapan
kecil yang lebih hangat daripada teh yang diseduhnya.
Di Gaza, ia belajar bahwa bahasa
bisa terbata, logat bisa salah, tapi ketulusan selalu fasih.
Dan ketika azan Isya
berkumandang, Diza tersenyum lagi—senyum yang tak lagi hanya miliknya,
melainkan milik anak-anak dengan jerigen biru, ibu dengan ember retak, dan
kakek yang percaya bahwa air adalah kehidupan.
Ramadan di Gaza mungkin sunyi dari lampu hias. Tapi ia terang oleh solidaritas yang menyeberangi samudra.

1.png)






.jpg)
.png)
.png)