Senyum yang Berhembus Menyeberangi Laut
Oleh: Daffa Atha

By Revolusioner 04 Mar 2026, 08:55:46 WIB Cerpen
Senyum yang Berhembus Menyeberangi Laut

Keterangan Gambar : Foto: Asistensi ChatGPT


Ramadan itu, langit di atas Gaza tampak seperti kain tua yang belum selesai dijahit. Angin berembus membawa debu, juga sisa-sisa azan yang menggantung di antara bangunan yang setengah tinggal kenangan. Di sana, Diza berdiri dengan rompi krem bertuliskan Lembaga Amil Zakat yang sedikit kebesaran seolah niat baik memang selalu membutuhkan ruang lebih luas.

Namanya Diza. Aktivis filantropi yang terlalu mudah percaya bahwa senyum bisa menjadi bahasa internasional. Hijabnya terpasang rapi membingkai wajahnya yang teduh, busana muslimahnya sederhana, warnanya tak mencolok barangkali agar tidak mengalahkan sorot mata warga yang jauh lebih kuat daripada sorot kamera mana pun.

Ia ditugaskan mendampingi distribusi 100.000 liter air bersih di kawasan Al Jalaa. Seratus ribu liter. Di atas kertas, itu angka. Di lapangan, itu napas.

Baca Lainnya :

Di depan truk tangki, antrean sudah memanjang seperti doa yang tak ingin diakhiri. Seorang anak laki-laki memanggul jerigen biru yang tampak lebih berat daripada pelajaran matematikanya.

Diza mendekat sambil tersenyum.

“Assalamu’alaikum,” sapanya pelan, dengan logat Arab yang ia latih semalaman.

Anak itu menoleh, matanya berbinar. “Wa’alaikumussalam. Anti min Aindunisia?” (Kamu dari Indonesia?)

Diza mengangguk. “Na’am, min Aindunisia.” Lalu cepat-cepat menambahkan dalam bahasa Inggris seadanya, “We bring water… from Indonesian people.”

Anak itu tersenyum lebar. “Syukran, Indonesia.”

Diza merasa kosakata Arabnya mendadak lulus ujian kehidupan.

Tak jauh dari sana, seorang ibu muda dengan bayi di gendongan memegang ember retak. Diza membantu menahan selang agar air tak tumpah.

“Ramadan kareem,” ucap Diza hati-hati.

“Allah akram,” jawab sang ibu, lalu berkata pelan dalam bahasa Arab yang diterjemahkan relawan lokal, “Kami tidak pernah menyangka ada saudara sejauh itu memikirkan kami.”

Diza tersenyum. “Kami mungkin jauh di peta, tapi dekat di doa.”

Di Jakarta, dalam keterangan tertulisnya, Ketua BAZNAS RI, Noor Achmad, menyampaikan, “Alhamdulillah telah dilaksanakan penyaluran air bersih, ini merupakan kebutuhan vital yang tidak bisa ditunda pemenuhannya, terlebih dalam kondisi darurat akibat konflik berkepanjangan dan di bulan suci Ramadan ini.”

Kalimat itu kini menjelma nyata di hadapan Diza: anak-anak, remaja, hingga lansia berdiri sabar menanti giliran. Sebagian membawa jerigen, sebagian lagi botol plastik bekas minuman bersoda yang mungkin terakhir kali mereka minum sebelum air bersih menjadi kemewahan.

Seorang kakek berjenggot putih berdiri dengan tongkat sederhana. Diza menghampiri.

“Hal tureed musa’adah?” tanyanya terbata (Apakah Anda butuh bantuan?)

Kakek itu tersenyum lembut. “Ana jayyidah,” katanya pelan. “Saya baik-baik saja.” Lalu ia menunjuk truk tangki. “Al-maa’ hayah.” Air adalah kehidupan.

Diza mengangguk. Dalam hati ia menambahkan: dan solidaritas adalah jembatannya.

Menjelang berbuka, langit Gaza berubah warna, jingga yang sendu. Distribusi hari itu hampir selesai. Total 100.000 liter air telah dibagikan untuk sekitar 2.500 jiwa. Angka yang di laporan akan tampak rapi, tapi di lapangan terasa seperti mukjizat kecil yang digotong bersama.

Seorang remaja perempuan mendekat, membawa dua botol besar. Ia berkata dalam bahasa Inggris yang malu-malu, “Thank you, Indonesia… for clean water.”

Diza menahan haru. “Please pray for us too,” jawabnya pelan.

Remaja itu tersenyum. “We pray for all Muslims.”

Di momen itu, Diza merasa perbatasan hanyalah garis imajiner yang tidak berlaku bagi air dan doa.

Program ini bukan akhir. BAZNAS RI akan terus memantau situasi di Gaza, memastikan kebutuhan dasar, pangan, air, layanan kesehatan tetap dapat diakses warga. Tapi bagi Diza, hari itu sudah cukup untuk memahami satu hal: kemanusiaan selalu menemukan jalannya, bahkan di antara reruntuhan.

Malamnya, di penginapan sederhana, ia menulis laporan sambil sesekali mengingat percakapan-percakapan kecil yang lebih hangat daripada teh yang diseduhnya.

Di Gaza, ia belajar bahwa bahasa bisa terbata, logat bisa salah, tapi ketulusan selalu fasih.

Dan ketika azan Isya berkumandang, Diza tersenyum lagi—senyum yang tak lagi hanya miliknya, melainkan milik anak-anak dengan jerigen biru, ibu dengan ember retak, dan kakek yang percaya bahwa air adalah kehidupan.

Ramadan di Gaza mungkin sunyi dari lampu hias. Tapi ia terang oleh solidaritas yang menyeberangi samudra.




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment