Seteguk Kopi Filantropi
Oleh: Daffa Atha

By Revolusioner 26 Mar 2026, 14:59:37 WIB Cerpen
Seteguk Kopi Filantropi

Keterangan Gambar : Foto: Asistensi AI


Di dunia yang gemar memisahkan orang-orang tanpa aba-aba, pertemuan kembali sering kali terasa seperti lelucon yang ditunda. Dan lelucon, sebagaimana kita tahu, akan selalu menemukan cara untuk meledak di saat yang tidak terduga.

Aku tidak pernah menyangka akan bertemu Raka lagi. Bukan karena aku tidak ingin, tapi karena dunia terasa terlalu luas untuk mempertemukan dua orang yang pernah saling tahu bau keringat masing-masing sejak SD.

Raka itu dulu sahabatku. Kami tumbuh dari masa di mana pulang sekolah berarti adu lari, bukan adu nasib. Kami pernah sepakat untuk menjadi apa saja astronaut, presiden, atau minimal penjaga warung mi instan asal tetap bersama. Kesepakatan itu, seperti kebanyakan janji masa kecil, menguap tanpa pamit.

Baca Lainnya :

Ia pindah saat kami kelas dua SMP. Katanya ikut orang tuanya. Katanya akan sering pulang. Katanya banyak sekali. Tapi “katanya” adalah kata paling rapuh yang pernah diciptakan manusia.

Sejak itu, hidup berjalan seperti biasa yang artinya tidak benar-benar biasa, hanya terbiasa saja.

Bertahun-tahun kemudian, aku memutuskan menjadi relawan di sebuah organisasi filantropi. Bukan karena tiba-tiba aku jadi orang baik, tapi karena aku sedang butuh merasa berguna. Dunia dewasa kadang membuat kita merasa seperti kertas bekas: pernah penting, sekarang hanya dilipat-lipat tanpa tujuan.

Hari itu, aku datang ke lokasi kegiatan kemanusiaan dengan rompi kebesaran yang warnanya terlalu cerah untuk suasana hatiku. Di dada kiri, ada logo organisasi. Di dada kanan, namaku yang dicetak miring seolah-olah bahkan namaku pun tidak ingin berdiri tegak.

“Mas, bagian logistik ya? Angkut ini ke sana, ya.”

Aku mengangguk. Di dunia relawan, kita sering tidak benar-benar tahu apa yang kita kerjakan. Kita hanya bergerak agar tidak terlihat bingung.

Aku memanggul satu kardus berisi sembako, melangkah hati-hati melewati genangan air dan manusia yang sama-sama berusaha terlihat kuat. Di tengah langkah itu, seseorang menepuk pundakku.

“Eh, hati-hati, itu berat.”

Suara itu seperti sesuatu yang pernah aku simpan, lalu lupa di mana menaruhnya.

Aku menoleh.

Dan dunia, yang biasanya luas itu, tiba-tiba menyempit.

“...Raka?”

Ia menatapku sebentar, lalu matanya membesar seperti menemukan jawaban dari soal lama yang dulu ia tinggalkan kosong.

“Lah, kamu... hidup?”

Aku tertawa. “Iya. Masih. Kamu juga, ya?”

Kami saling menatap beberapa detik yang terasa seperti membuka kembali album foto yang berdebu. Tidak ada musik latar. Tidak ada pelukan dramatis. Hanya dua orang yang sama-sama kikuk menghadapi masa lalu yang tiba-tiba hadir tanpa izin.

“Ngapain kamu di sini?” tanyaku.

“Relawan. Divisi medis.” Ia menunjuk rompinya. Baru kusadari, rompinya sama, hanya beda tulisan kecil di bawah logo.

Aku mengangguk pelan. “Aku logistik. Jadi... kita satu organisasi.”

“Beda nasib, tapi satu rompi,” katanya, lalu tertawa kecil.

Dan entah kenapa, tawa itu masih terdengar sama.

Kami tidak langsung membicarakan masa lalu. Dunia di sekitar kami terlalu sibuk untuk memberi ruang pada nostalgia. Ada orang-orang yang butuh bantuan, ada anak-anak yang menangis, ada ibu-ibu yang mencoba tegar sambil memegang kantong bantuan seolah itu pegangan hidup terakhir.

Di sela-sela kesibukan itu, kami saling mencuri waktu.

“Masih suka ngopi dan makan mi instan mentah?” tanyanya tiba-tiba.

“Masih. Kamu masih suka ngutang di warung?”

“Sekarang aku yang punya utang. Bedanya, lebih mahal.”

Kami tertawa. Dan untuk pertama kalinya hari itu, aku merasa ringan.

Ada sesuatu yang aneh dari pertemuan kembali. Kita tidak benar-benar melanjutkan dari titik terakhir, tapi juga tidak memulai dari nol. Kita berdiri di antara seperti dua orang yang sama-sama tahu jalan pulang, tapi lupa di mana terakhir kali berpisah.

Menjelang sore, kegiatan mulai mereda. Langit berubah warna, seperti lukisan yang kelelahan.

Kami duduk di pinggir lapangan, masing-masing memegang botol air mineral yang rasanya lebih seperti hadiah daripada kebutuhan.

“Gila, ya,” kataku. “Dari sekian banyak tempat di dunia, kita ketemu di sini.”

Raka mengangguk. “Dulu kita janji mau jadi apa saja, asal bareng.”

Aku tersenyum. “Sekarang kita jadi apa saja, dan ternyata tetap bisa ketemu.”

Ia diam sebentar, lalu berkata pelan, “Mungkin kita nggak pernah benar-benar berpisah. Cuma... muter jalannya aja beda.”

Aku tidak menjawab. Karena untuk beberapa hal, jawaban justru akan merusak maknanya.

Angin sore berembus pelan. Orang-orang mulai berkemas. Dunia kembali berjalan seperti biasa atau setidaknya, seperti yang kita sebut biasa.

“Besok kamu ke sini lagi?” tanyanya.

“Iya.”

“Yaudah. Jangan hilang lagi, ya.”

Aku menatapnya, lalu tersenyum tipis. “Kamu juga. Dunia ini udah cukup luas. Jangan kita tambah repot.”

Kami berdiri, merapikan rompi yang sama-sama lusuh, lalu berjalan ke arah yang berbeda sementara untuk kali ini.

Karena tidak semua perpisahan berarti selesai. Dan tidak semua pertemuan berarti kebetulan.

Kadang, hidup hanya sedang menyiapkan punchline yang tepat. 




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment