Jejak Tangis Dalam Debu
Oleh: Hana Salwa Nurrasyid

By Revolusioner 07 Apr 2026, 14:33:57 WIB Cerpen
Jejak Tangis Dalam Debu

Keterangan Gambar : Foto: Asistensi AI


Debu. Itu yang pertama kali dirasakan Zahra saat membuka mata di tenda berpalang biru itu. Debu di langit-langit terpal, debu di lantai tanah, debu dalam ingatannya yang mengaburkan wajah suami dan kedua anak lelakinya. Debu yang menyelimuti segala sesuatu yang pernah ia miliki, termasuk jiwanya sendiri.

Namun, di sampingnya, terkunci dalam keheningan yang lebih pekat dari debu, ada Rana. Putri bungsunya yang berusia tujuh tahun itu hanya duduk, kertas dan pensil warna usang—pemberian dari pos kesehatan—tergeletak di pangkuannya. Ia menggambar. Selalu menggambar. Gambar rumah dengan jendela-jendela besar, gambar pohon aprikot yang dulu tumbuh di halaman, gambar empat sosok tanpa wajah yang melambai.

“Ayo, sayang. Hari ini kita harus ke tenda pendaftaran lagi,” ucap Zahra, suaranya serak oleh debu dan air mata yang tak lagi keluar. Rana hanya mengangguk, matanya yang besar dan gelap menatap ibunya seolah memahami seluruh kesedihan yang tak terucap.

Baca Lainnya :

Perjalanan menuju tenda besar bertanda “Aid Global” seperti perjalanan menyusuri neraka birokrasi. Antrean panjang manusia dengan mata kosong, masing-masing memegang berkas-berkas tipis yang menjadi penentu hidup-mati. Di sini, penderitaan diukur dengan formulir, disahkan dengan stempel, dan divalidasi dengan wawancara.

“Nama?” “Zahra Alavi.” “Jumlah anggota keluarga yang tersisa?” “Dua. Saya dan anak saya.” “Dokumen pendukung kehilangan?” Zahra menatap petugas wanita di balik meja plastik itu. Soraya, begitu nama di dadanya. Wajahnya masih menyisakan kesan akar Iran, meski logatnya sudah tercampur aksen Barat. “Dokumennya habis terbakar. Bersama rumah saya. Bersama… mereka.” Soraya menghela napas halus, hampir tak terdengar. “Saya mengerti, Ibu Zahra. Tapi tanpa dokumen, klaim untuk paket makanan tambahan dan akses terapi khusus untuk anak Anda sulit diproses. Coba ingat-ingat lagi, mungkin ada surat dari tetangga? Laporan dari posko sebelumnya?”

Rasa mual mendesak di kerongkongan Zahra. Ia harus membuktikan bahwa suaminya tewas. Bahwa kedua anak lelakinya yang berusia sepuluh dan dua belas tahun telah menjadi angka dalam statistik. Bahwa lukanya nyata. Di depan Rana yang mendengar semua ini, diam namun menyerap segalanya seperti spons.

“Saya tidak membawa surat kematian mereka dalam tas pengungsian, Nyonya,” bisik Zahra, getir. “Apakah Anda ingin saya menggambarnya? Atau mungkin Anda perlu saya menceritakan bagaimana bunyi bom itu, atau bau yang tersisa?”

Soraya menatapnya, dan untuk sepersekian detik, Zahra melihat selapis dinding di mata petugas itu retak. Tapi kemudian Soraya menunduk, mencoret sesuatu di formulir. “Isi bagian B dan D. Kembali besok.”


Malam di tenda terasa lebih panjang dari siang. Zahra memeluk Rana yang sudah tertidur lelap, napasnya pendek dan gelisah. Di samping bantal, ada gambar baru Rana: seorang wanita tinggi dengan rambut panjang berdiri di depan pintu yang terbuka, sementara seorang anak kecil memegangi ujung bajanya. Di sudut kertas, dengan huruf-huruf cobaannya, tertulis: “Ibu dan Aku”.

Air mata akhirnya menetes. Diam-diam, tanpa suara. Zahra mengeluarkan kaleng bekas kacang dari dalam plastiknya. Di dalamnya, tertanam sebuah biji kurma yang ia selamatkan dari reruntuhan rumahnya. Ia menyiramnya dengan sedikit air jatahnya. “Tumbuhlah,” bisiknya pada biji itu, pada dirinya sendiri. “Kita harus tumbuh.”

Hari-hari berlalu seperti roda penggiling yang menggilas harga dirinya sedikit demi sedikit. Setiap pengulangan cerita untuk petugas yang berbeda, setiap antrean untuk selimut yang tipis, setiap tatapan kasihan dari relawan asing, meninggalkan luka baru di atas luka lama. Zahra merasa dirinya menyusut, menjadi sekadar nomor dalam databasa, sebuah kasus yang perlu diselesaikan.

Hingga suatu pagi, bencana itu datang. Kartu identitas pengungsi mereka—kartu plastik kuning yang menjadi kunci untuk makan dan berteduh—hilang. Mungkin terjatuh, mungkin dicuri. Zahra menggali setiap sudut tenda, matanya semakin panik. Tanpa kartu itu, mereka tidak akan mendapat jatah makan. Tanpa kartu itu, mereka bisa diusir dari sepetak tanah tenda yang menjadi satu-satunya tempat berlindung.

“Ini tidak bisa!” teriak Zahra pada petugas keamanan di pintu gerbang distribusi. Suaranya, yang biasanya datar, sekarang pecah oleh keputusasaan. “Saya sudah mengisi semua formulir! Saya sudah menceritakan kisah saya sepuluh kali! Apa lagi yang kalian mau dari saya? Apakah kalian perlu saya menjual jiwa yang tersisa ini?”

Kerumunan mulai memandang. Soraya, yang sedang memeriksa daftar di dekat situ, mendekat. “Ibu Zahra, tenanglah. Mari kita bicara di tenda saya.” “Bicara?” Zahra tertawa, suaranya nyaris histeris. “Kita hanya pernah ‘bicara’ melalui formulir! Anda tidak melihat saya. Anda melihat kolom yang harus diisi! Anak saya tidak bicara sejak keluarganya hilang, dan sistem Anda meminta saya ‘membuktikan’ bahwa dia perlu terapi? Apa yang harus saya buktikan? Kebisuan adalah buktinya! Debu di rambut kami adalah buktinya!”

Soraya membawa Zahra ke ruang konsultasi kecil. Rana mengikuti dari belakang, menggenggam gambar-gambarnya. Begitu pintu tertutup, Zahra runtuh. Semua amarahnya menguap, tinggal kelelahan yang tak terperi. “Mereka… mereka hilang begitu saja,” isaknya, akhirnya menyerah pada kesedihan yang selama ini ditahan. “Saya tidak bisa menyelamatkan mereka. Sekarang, saya bahkan tidak bisa menyelamatkan kartu plastik untuk anak saya yang satu ini.”

Soraya duduk diam membiarkan Zahra menangis. Lalu, matanya jatuh pada gambar-gambar yang dipegang Rana. Ia mengambil satu. Gambar itu menunjukkan dua sosok kecil di bawah pohon yang rindang, dengan matahari bersinar di atasnya. “Ini… masa depan?” tanya Soraya pada Rana.

Rana menatapnya, lalu perlahan mengangguk. Ia mengambil pensil dan di balik gambar itu, ia menulis satu kata: “NANTI”.

Kata itu, sederhana namun penuh keyakinan, menghentikan tangis Zahra. Ia memandang putrinya, makhluk kecil yang kehilangan suara namun masih memiliki imajinasi untuk sebuah “nanti”.

Soraya menarik napas dalam. “Sistem kami… memang kaku. Kami dijejali protokol, kuota, dan audit. Terkadang, kami lupa bahwa di balik setiap nomor kasus, ada seorang manusia yang bernapas.” Ia merogoh laci, mengeluarkan formulir baru. Tapi kali ini, ia tidak menyerahkannya pada Zahra. “Ceritakan pada saya. Bukan untuk formulir. Ceritakan tentang mereka. Suami Anda. Anak-anak Anda.”

Dan Zahra bercerita. Tentang suaminya yang penyair amatir, tentang kedua anak lelakinya yang suka berlari di kebun, tentang bagaimana ia dulu mengajar sejarah—tentang kekaisaran yang jatuh dan bangsa yang bangkit—kepada murid-muridnya. Ia bercerita tentang malam itu, bukan dengan detail grafis, tetapi dengan rasa kehilangan yang membeku di dadanya.

Soraya mendengarkan. Tanpa mencatat. Hanya mendengarkan. “Kartu identitasnya akan saya urus. Saya akan jamin personal. Dan untuk Rana… ada program terapi seni yang dimulai minggu depan. Saya akan memasukkan namanya.”

Beberapa minggu kemudian, keadaan belum “baik”. Mereka masih di kamp. Masih menghirup debu. Masih berjuang bangun setiap pagi.

Tapi ada perubahan kecil. Zahra kini membantu Soraya sebagai penerjemah sukarela untuk pengungsi lain yang tidak bisa berbahasa asing. Ia menemukan kembali secuil tujuan, sebuah jejak dirinya yang dulu—seorang guru, seorang penolong.

Rana mulai menghadiri terapi seni. Ia belum bicara, tetapi gambarnya mulai berubah. Mulai ada bunga di sekitar rumah. Mulai ada burung di langit. Dan di sudut setiap gambar, selalu ada seorang wanita dan anak kecil, berdiri bersama.

Suatu sore, Zahra melihat ke dalam kaleng bekas kacangnya. Biji kurma itu telah mengeluarkan tunas kecil, hijau dan rapuh, menembus tanah gersang di dalam kaleng.

Rana menarik lengan ibunya, menunjuk ke tunas itu, lalu ke gambar terbarunya: sebuah pohon kurma yang tinggi, dengan buah-buah emas bergantungan. Di bawahnya, tertulis dengan tulisan kanak-kanaknya: “Ibu, Aku, dan Pohon Kita.”

Zahra memeluk putrinya, mencium kepala yang berdebu itu. Di kejauhan, sirene mobil bantuan berbunyi, mengingatkan mereka pada realitas yang pahit. Tapi di dalam tenda mereka yang sempit, ada sebuah biji yang tumbuh, ada gambar-gambar yang bermekaran, dan ada dua manusia yang—meski tersesat dalam debu—mulai meninggalkan jejak mereka sendiri menuju sebuah “nanti”.

Mereka belum pulih. Mungkin tidak akan pernah sepenuhnya pulih. Tapi mereka telah menemukan cara untuk tidak tenggelam: dengan saling menggenggam, dengan menciptakan keindahan dari kehancuran, dan dengan percaya bahwa bahkan di tanah yang paling tandus sekalipun, kehidupan bisa bersikeras untuk tumbuh. Jejak mereka masih samar, tertiup angin, tapi jejak itu ada. Dan untuk saat ini, itu cukup.




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment