- Bulog Siapkan Beras Darurat Gempa NTT
- Baznas Tebar 1.900 Porsi Makanan di NTT
- Ubah Fundraising dari Transaksional ke Spiritual
- Lazismu Sulsel Siapkan Amil Hadapi Tantangan Filantropi
- Ummah Nigeria Luncurkan EasyZakat
- PBB: Kematian Relawan Tertinggi di Gaza
- Dibenahi, 1.170 Lahan Wakaf Madrasah
- Bolehkah Zakat untuk Korban Bencana?
- Dana Baznas Malang Tembus Rp11,5 M
- Ikhlas dalam Islam: Makna, Keutamaan, dan Cara Menerapkannya
Lazismu Sulsel Siapkan Amil Hadapi Tantangan Filantropi

Keterangan Gambar : Foto: Dok. Lazismu.org
Pengelolaan zakat di era saat ini menuntut kapasitas amil yang tidak hanya kuat dalam aspek kelembagaan, tetapi juga mampu membaca persoalan sosial dan menerjemahkan dana filantropi menjadi program yang berdampak. Hal tersebut menjadi salah satu perhatian dalam kegiatan Amil Camp yang digelar Lazismu Sulawesi Selatan di Pesantren Riyadussalihin, Tompobulu, Kabupaten Bantaeng, Sulsel, Jumat (22/8/2026).
Kegiatan tersebut mempertemukan para amil dalam ruang pembelajaran yang dirancang untuk memperkuat pemahaman keislaman, kerja tim, sekaligus orientasi pelayanan kepada masyarakat. Sekitar 30 persen rangkaian kegiatan diisi dengan materi, sementara sebagian besar agenda dikemas dalam aktivitas kelompok dan permainan.
Pola tersebut digunakan untuk membangun suasana pembelajaran yang lebih partisipatif. Selain memperoleh penguatan materi, para peserta juga diajak mengembangkan kekompakan dan kemampuan berkolaborasi yang dibutuhkan dalam menjalankan kerja-kerja filantropi.
Baca Lainnya :
- RZ Tebar 8.000 Liter Air di Cilegon 0
- FOZ Meriahkan Momen Agustusan 0
- DT Ekspose Dana Ziswaf 20260
- RZ Buka Dapur Umum Nagekeo0
- DT Berbagi Trik Hadapi Ujian Hidup0
Ketua Lazismu Sulawesi Selatan, Prof. Dr. H. Mahmuddin, M.Ag., menekankan pentingnya memperluas cara pandang terhadap tugas seorang amil. Pengelolaan zakat, menurut dia, tidak semestinya berhenti pada penghimpunan dana dan pemberian bantuan.
Dana yang dikelola melalui lembaga zakat perlu diarahkan agar mampu menjawab kebutuhan masyarakat secara lebih produktif. Dengan pendekatan tersebut, zakat diharapkan dapat menjadi instrumen yang membantu penerima manfaat membangun kemandirian dan menghadapi persoalan sosial dalam jangka panjang.
Perspektif tersebut turut terlihat dalam aksi penanaman pohon yang dilakukan peserta sebagai bagian dari gerakan Green Al-Maun. Kegiatan ini memperluas makna aksi sosial dengan memasukkan isu lingkungan sebagai bagian dari tanggung jawab kemasyarakatan.
Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Bantaeng, Drs. Samsu Samad, M.M., mengaitkan kepedulian ekologis dengan peran manusia sebagai khalifah di muka bumi. “Menjadi khalifah di muka bumi berarti juga menjaga lingkungan. Kepedulian ekologis adalah bagian dari kesalehan sosial,” kata Samsu.
Pesan tersebut menunjukkan bahwa gerakan filantropi dapat dikembangkan melalui berbagai bentuk intervensi sosial. Bantuan kepada masyarakat yang membutuhkan dapat berjalan beriringan dengan upaya menjaga lingkungan dan membangun kesadaran sosial.
Dari sisi pemerintah daerah, Lazismu juga dipandang memiliki peluang besar untuk mengambil bagian dalam agenda pengentasan kemiskinan. Bupati Bantaeng yang diwakili Sekretaris Daerah Kabupaten Bantaeng, Muh. Tafsir, M.AP., menilai persoalan kemiskinan membutuhkan keterlibatan banyak pihak.
“Lazismu bukan hanya dakwah, tetapi juga pemberdayaan masyarakat. Pengentasan kemiskinan membutuhkan pendekatan multisektoral, kolaborasi, integritas, dan tata kelola yang baik,” ujar dia.
Karena itu, penguatan kapasitas amil menjadi bagian penting dari pembangunan ekosistem filantropi. Amil dituntut memiliki kemampuan mengelola amanah sekaligus memahami kebutuhan penerima manfaat agar program yang dirancang tidak berhenti pada bantuan konsumtif.
Melalui Amil Camp, Lazismu Sulawesi Selatan berupaya mempertemukan penguatan nilai keislaman dengan praktik kerja sosial. Semangat Al-Maun kemudian diarahkan menjadi aksi yang lebih luas, mulai dari pemberdayaan masyarakat hingga kepedulian terhadap lingkungan.
Langkah tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa pengelolaan zakat membutuhkan sumber daya manusia yang mampu menghubungkan amanah para muzaki dengan kebutuhan nyata masyarakat. Dengan amil yang semakin kompeten dan berorientasi pada dampak, dana filantropi diharapkan dapat memberikan manfaat yang lebih berkelanjutan.
Kontributor: Laila
Editor: MAS
Sumber: www.lazismu.org











.png)
.png)