- BAZNAS Kirim Kurban Palestina ke Suriah
- YBM PLN IZI Riau Gelar Khitan Massal
- Rumah Zakat Bantu Lansia Balikpapan
- Muharam Simpan Sejarah Agung Kenabian
- PBNU Didorong Bentuk Baitul Mal
- Ratusan Peserta Berebut Beasiswa Pilot
- MBG dan Filantropi Gotong Royong: Solusi Pembiayaan Tanpa APBN
- BWI Genjot Wakaf Produktif
- IFRC Kirim Donasi Ebola ke Kongo
- Yatim Mandiri Gelar Inspiring Muharram
Muharram Momentum Hijrah Diri

Keterangan Gambar : Foto: Dok.Dompetdhuafa.org
Dalam tradisi Jawa, Suro merupakan sebutan untuk bulan Muharram, yaitu bulan pertama dalam kalender Hijriah. Bulan Suro kerap dipandang sebagai bulan yang sakral. Bahkan, sebagian masyarakat meyakini bahwa menggelar acara besar pada bulan tersebut dapat membawa nasib kurang baik.
Namun, bagaimana sebenarnya pandangan Islam terhadap bulan Suro?
Suro dan Muharram, Apakah Sama?
Baca Lainnya :
- Urgensi Dam Haji ke RI: Analisis Fikih, Sosial dan Pemerataan Gizi0
- Syarat Kurban Sah Idul Adha0
- Ini Tips Atur Siklus Haid Saat Haji0
- Ini Hoaks Zakat yang Ramai Dibongkar0
- Sedekah Kreatif yang Bisa Dilakukan Siapa Saja0
Secara historis, tradisi Malam Satu Suro lahir dari pertemuan antara budaya Jawa dan ajaran Islam yang berkembang sejak masa Kesultanan Mataram. Pada masa Sultan Agung, kalender Jawa diselaraskan dengan kalender Hijriah yang digunakan dalam ajaran Islam. Karena itu, bulan Suro dalam tradisi Jawa bertepatan dengan bulan Muharram dalam Islam.
Sejak saat itu, muncul berbagai tradisi yang memadukan nilai budaya dan keagamaan. Selain dianggap sakral, sebagian masyarakat meyakini bahwa bulan Suro menjadi waktu ketika alam semesta berada dalam kondisi tidak seimbang. Karena itu, Malam Satu Suro kerap diperingati melalui berbagai tradisi spiritual sebagai bentuk refleksi diri dan doa untuk kebaikan pada masa mendatang.
Dalam perspektif hukum Islam, bulan Muharram memang memiliki keutamaan khusus. Dalam QS At-Taubah ayat 36, disebutkan bahwa Muharram termasuk salah satu dari empat bulan suci dalam Islam yang diharamkan untuk berperang. Karena itu, umat Islam dianjurkan memperbanyak ibadah dan amal kebaikan.
Selain itu, hadis Nabi Muhammad Saw menganjurkan umat Islam untuk berpuasa pada hari Asyura atau 10 Muharram sebagai bentuk ibadah dan penghapus dosa setahun sebelumnya. Dengan demikian, memperingati Muharram melalui doa dan ibadah memiliki dasar yang kuat dalam syariah.
Karena itu, Muharram bukanlah bulan yang identik dengan kesialan. Sebaliknya, bulan tersebut memiliki kedudukan istimewa dalam Islam.
Makna Hijrah yang Sering Dilupakan
Salah satu alasan pentingnya bulan Muharram adalah karena bulan tersebut mengingatkan umat Islam pada peristiwa hijrah Rasulullah Saw bersama para sahabat. Hijrah bukan sekadar perpindahan tempat, melainkan perubahan besar menuju kehidupan yang lebih baik.
Artinya, hijrah menandai perpindahan dan perubahan dari kondisi yang buruk menuju arah yang lebih baik. Muharram hadir setiap tahun dengan pesan yang sama, yakni manusia selalu memiliki kesempatan untuk berubah.
Kesalahan masa lalu tidak harus menjadi identitas masa depan. Kegagalan tidak harus menjadi akhir perjalanan. Kehidupan yang lebih baik juga tidak harus menunggu waktu yang dianggap paling beruntung.
Karena itu, saat Muharram tiba, pertanyaan yang lebih penting bukan lagi, “Apa yang sebaiknya tidak dilakukan di bulan Suro?” melainkan, “Kebiasaan buruk apa yang harus ditinggalkan mulai bulan ini?” dan “Kebaikan apa yang dapat dilakukan pada bulan ini?”
Sebab sejatinya, Muharram adalah bulan untuk berhijrah, yakni berpindah dari diri yang lama menuju pribadi yang lebih baik.
Muharram, Bulan untuk Memperbanyak Kebaikan
Menjalankan Puasa Tasu’a dan Asyura
Umat Islam dianjurkan menjalankan puasa pada 9 Muharram atau Tasu’a dan 10 Muharram atau Asyura. Puasa Tasu’a dan Asyura merupakan puasa sunah yang sangat dianjurkan untuk dilaksanakan pada bulan Muharram.
Memperbanyak Zikir dan Istigfar
Muharram menjadi waktu yang tepat untuk semakin sering mengingat Allah melalui zikir dan istigfar. Amalan tersebut dapat menenangkan hati sekaligus menjadi sarana memohon ampun atas kesalahan yang telah lalu.
Membaca dan Mentadabburi Al-Qur’an
Awal tahun Hijriah dapat menjadi momentum untuk semakin dekat dengan Al-Qur’an. Tidak hanya membaca, umat Islam juga dianjurkan memahami dan mengamalkan pesan-pesan yang terkandung di dalamnya.
Memperbanyak Sedekah
Sedekah menjadi salah satu amalan yang dianjurkan untuk membantu sesama sekaligus menghadirkan keberkahan. Bentuknya dapat berupa bantuan materi, makanan, maupun perhatian kepada mereka yang membutuhkan.
Memuliakan Anak Yatim
Muharram juga menjadi momen yang baik untuk berbagi kebahagiaan dengan anak-anak yatim. Kepedulian dapat diwujudkan melalui santunan, dukungan pendidikan, bantuan psikologis, dan berbagai bentuk bantuan lainnya.
Sahabat, Anda juga dapat memberikan bantuan terbaik melalui berbagai program Dompet Dhuafa. Kepedulian untuk menghadirkan harapan bagi anak-anak yatim dapat disalurkan melalui digital.dompetdhuafa.org/donasi/bestianyatim.
Bulan Muharram bukan sekadar penanda pergantian tahun dalam kalender Islam. Di balik momentum tersebut terdapat kesempatan berharga untuk memperbarui niat, meningkatkan ibadah, serta memperbanyak amal saleh.
Sebab, yang menentukan baik atau buruknya hidup bukanlah waktu atau bulan, melainkan bagaimana seseorang mengisi waktu tersebut dengan kegiatan yang bermanfaat.
Kontributor: Azzam Al Hanif
Editor: MAS
Sumber: www.dompetdhuafa.org











.png)
.png)