- Menjawab Tantangan Transformasi Mustahik ke Muzaki
- Nama yang Tak Tercatat
- Ini Beasiswa S2 dan S3 LPDP
- Wakaf, Energi Masjid Pakai Panel Surya
- Kemenag Perketat Audit Zakat
- Dibuka, Seleksi Guru Madrasah Award 2026
- MUI Dakwah Pembangunan Sosial di Suriah
- MUI Serukan Islam Wasathiyah di Turki
- Baznas Tambah 300 Beasiswa Timur Tengah
- Dubes RI Mesir Apresiasi Beasiswa Baznas
MUI Serukan Islam Wasathiyah di Turki

Keterangan Gambar : Foto: Dok. Mui.or.id
Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH M. Cholil Nafis, memaparkan pengalaman dan keberhasilan Indonesia dalam menjaga persatuan nasional melalui penerapan prinsip Islam Wasathiyah atau moderat di forum internasional.
Pemaparan tersebut disampaikan saat dia menjadi pembicara dalam Konferensi Internasional yang digelar International Union of Muslim Scholars di Istanbul, Turki, Kamis (29/10/2026) waktu setempat.
Dalam pertemuan yang menghadirkan ulama dan cendekiawan Muslim dari berbagai negara itu, Kiai Cholil membawakan makalah berbahasa Arab berjudul “Membangun Persatuan Umat yang Wasathi”.
Baca Lainnya :
- Menag Kampanye Kemanusiaan di Italia0
- Muhammadiyah-Qatar Bermitra Strategis0
- Kuwait dan Muhammadiyah Bangun RS 0
- Pemuda Masjid Dunia Perkuat Kemitraan 0
- Ini Beasiswa Rp130 Juta Mahasiswa Sudan 0
Dia menekankan bahwa pengalaman Indonesia dalam memadukan pemahaman agama yang moderat dengan falsafah Pancasila telah terbukti mampu memelihara keharmonisan di tengah keberagaman suku, budaya, mazhab, dan agama.
Kiai Cholil juga menyampaikan bahwa di tengah kondisi dunia yang semakin terpecah, umat Islam perlu memperkuat nilai-nilai universal ajaran Islam. Nilai tersebut mencakup keadilan, kasih sayang, keseimbangan, penghormatan terhadap martabat manusia, dan perdamaian. Selain itu, ruang ijtihad perlu terus dibuka agar umat mampu menjawab berbagai perubahan zaman.
“Prinsipnya jelas: teguh dalam nilai, adaptif dalam solusi, dan inklusif dalam kerja sama," ujar Kiai Cholil dalam keterangannya, Jumat (30/10/2026).
Menurut Kiai Cholil, konsep Islam Wasathiyah tidak hanya relevan bagi Indonesia maupun kehidupan internal umat Islam. Lebih dari itu, pendekatan tersebut menawarkan landasan etis untuk menghadapi berbagai persoalan global, mulai dari polarisasi sosial-politik, konflik horizontal, intoleransi, ketimpangan sosial, hingga disrupsi teknologi.
Dia turut menyoroti pentingnya peran MUI dalam mendorong moderasi beragama di Indonesia. Praktik tersebut menjadi bukti bahwa persatuan nasional dapat dibangun tanpa mengesampingkan keberagaman.
Kiai Cholil menegaskan bahwa kemajemukan suatu bangsa semestinya tidak dipandang sebagai pemicu perpecahan. Sebaliknya, keberagaman perlu dijadikan landasan untuk memperluas dialog dan membangun kolaborasi demi kepentingan kemanusiaan secara universal.
"Pengalaman Indonesia melalui Islam Wasathiyah dan peran Majelis Ulama Indonesia menunjukkan pentingnya membangun persatuan tanpa menyeragamkan pemikiran, serta mengelola keragaman tanpa mengorbankan prinsip," tutur dia.
Pengasuh Pondok Pesantren Cendekia Amanah, Depok, Jawa Barat, tersebut mengajak masyarakat internasional untuk mengadopsi nilai-nilai Islam Wasathiyah sebagai upaya bersama dalam membangun tatanan dunia yang lebih adil, damai, dan bermartabat.
Dia menegaskan bahwa perdamaian dunia dapat diwujudkan melalui pemahaman bahwa persatuan tidak berarti harus seragam, pembaruan tidak mesti menghapus prinsip agama, dan perbedaan pendapat tidak seharusnya berakhir dengan konflik yang merusak.
Kontributor: Raeihan
Editor: MAS
Sumber: www.mui.or.id











.png)
.png)