UMY Ingatkan Dunia Derita Gaza

By Revolusioner 30 Jun 2026, 08:35:43 WIB Palestina
UMY Ingatkan Dunia Derita Gaza

Keterangan Gambar : Foto: Dok. Viva.co.id


Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) kembali menunjukkan komitmennya terhadap perjuangan kemanusiaan Palestina dengan mengadakan talkshow dan pameran foto bertajuk “Palestine Through the Lens” di Amphiteater Gedung Pascasarjana pada Senin (29/06/2026). Kegiatan ini menghadirkan akademisi, jurnalis internasional, fotografer perang, dan aktivis kemanusiaan sebagai ruang refleksi sekaligus pengingat bahwa suara rakyat Palestina tidak boleh dibungkam.

Acara tersebut merupakan hasil kolaborasi Program Doktor dan Magister Hubungan Internasional, Program Studi Ilmu Komunikasi, serta Komunitas Fotka. Dalam sambutannya, Wakil Dekan II Bidang Sumber Daya dan AIK Fisipol UMY, Dr. Sugeng Riyanto, menegaskan bahwa konflik Palestina-Israel yang telah berlangsung hampir delapan dekade merupakan tragedi kemanusiaan yang tidak boleh dilupakan.

“Semua bentuk kejahatan kemanusiaan seolah telah terjadi di Palestina, mulai dari penyiksaan, penculikan, pembunuhan hingga genosida. Karena itu perjuangan membela Palestina harus terus disuarakan,” ujar dia.

Baca Lainnya :

Sugeng tambah dia, berdirinya Muhammadiyah Palestine Study Center di UMY menjadi bukti konkret komitmen Muhammadiyah dalam mendukung kemerdekaan Palestina melalui pendidikan, diplomasi, dan aksi kemanusiaan. Menurut dia, dukungan Indonesia terhadap Palestina tidak boleh bergantung pada dinamika politik semata, tetapi harus terus dipelihara melalui ruang-ruang edukatif yang mampu membangun kesadaran publik.

Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi UMY, Dr. Filosa Gita Sukmono, menegaskan bahwa kegiatan tersebut bukan hanya forum diskusi, melainkan juga media untuk membangun sensitivitas masyarakat terhadap tragedi kemanusiaan yang masih berlangsung.

“Kami ingin masyarakat melihat Palestina dari sudut pandang yang lebih manusiawi. Jangan sampai isu ini hilang dari perhatian dunia. Foto-foto yang ditampilkan diharapkan mampu menggugah hati agar masyarakat ikut menyuarakan kemerdekaan Palestina,” jelas dia.

Dalam sesi talkshow, fotografer Palestina Mohammed Asad mengungkap dia mengenai beratnya perjuangan para jurnalis di Gaza yang tetap mendokumentasikan konflik meskipun menghadapi kehancuran kantor media, pemutusan akses internet, hingga ancaman keselamatan jiwa. Menurut dia, menjaga agar suara Palestina tetap terdengar merupakan panggilan moral yang tidak bisa ditawar.

Tantangan tersebut semakin berat dengan adanya bias teknologi kecerdasan buatan yang disoroti jurnalis Australia Zoe Reynold. Sistem AI disebut kedapatan menolak menghasilkan visual terkait tragedi kemanusiaan di Palestina.

Aktivis kemanusiaan Chiki Fawzi juga membagikan pengalamannya dalam misi solidaritas internasional. Dia menuturkan bahwa meskipun misi kemanusiaan melalui jalur laut yang diikutinya gagal mencapai Gaza akibat intersepsi militer Israel, semangat solidaritas masyarakat sipil dunia tetap menjadi faktor penting untuk menjaga perhatian internasional terhadap Palestina. “Kegagalan fisik tidak berarti kegagalan moral. Solidaritas adalah energi yang harus terus dijaga,” tegas dia.

Sementara itu, dosen Hubungan Internasional UMY, Dr. Ahmad Sahide, menilai bahwa tekanan masyarakat sipil internasional semakin penting dalam memengaruhi kebijakan negara-negara besar terhadap konflik Palestina. Dia mengajak masyarakat Indonesia untuk terus mempertahankan dukungan moral dan kemanusiaan melalui aksi damai, edukasi, serta diplomasi publik.

Menurut dia, dukungan yang konsisten dari masyarakat sipil dapat menjadi kekuatan yang menekan dominasi politik global yang selama ini kerap mengabaikan penderitaan rakyat Palestina.

Melalui kegiatan tersebut, UMY berharap solidaritas terhadap Palestina tidak berhenti pada empati sesaat, tetapi berkembang menjadi kesadaran kolektif yang hidup melalui pendidikan, karya, dan aksi nyata. Pameran foto yang menampilkan potret kehidupan di Gaza menjadi saksi atas penderitaan sekaligus keteguhan rakyat Palestina. Setiap foto yang dipajang bukan sekadar dokumentasi, melainkan juga seruan moral agar dunia tidak menutup mata terhadap tragedi kemanusiaan yang terjadi.

“Palestine Through the Lens” menjadi bukti bahwa kampus tidak hanya berfungsi sebagai ruang akademik, tetapi juga sebagai ruang perjuangan moral. Dengan menghadirkan akademisi, jurnalis, fotografer, dan aktivis, UMY berupaya menjaga agar isu Palestina tetap berada di garis depan perhatian publik. Solidaritas yang dibangun melalui kegiatan ini diharapkan mampu menyalakan kembali kesadaran bahwa perjuangan rakyat Palestina merupakan perjuangan kemanusiaan universal.

Kontributor: Raeihan
Editor: MAS
Sumber: www.viva.co.id





Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment