Beasiswa NU-BAZNAS Bangun Jejaring Global

By Revolusioner 17 Jul 2026, 08:38:22 WIB Z-Academy
Beasiswa NU-BAZNAS Bangun Jejaring Global

Keterangan Gambar : Foto: Dok. Mozaik.inilah.com


Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) memperkuat diplomasi Islam Indonesia melalui jalur pendidikan internasional. Selain membuka akses pendidikan gratis, program Beasiswa Peradaban yang digagas bersama Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) menjadi langkah strategis untuk membangun jejaring global sekaligus memperkenalkan wajah Islam moderat khas Indonesia kepada generasi muda dari berbagai negara.

Sebanyak enam mahasiswa internasional asal Afghanistan, Aljazair, Nigeria, Tanzania, Pakistan, dan Bangladesh mengikuti orientasi penerima Beasiswa Peradaban di Gedung PBNU, Jakarta, pada Rabu (15/7/2026). Mereka akan melanjutkan pendidikan di Universitas KH Abdul Chalim (UAC) Mojokerto dengan dukungan beasiswa penuh.

Program yang dikelola melalui NU Scholarship (NUS) tersebut menjadi bagian dari upaya PBNU menjadikan pendidikan sebagai instrumen diplomasi peradaban. Melalui pengalaman belajar langsung di Indonesia, para mahasiswa diharapkan mengenal nilai-nilai Islam Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja), budaya Nusantara, serta kehidupan sosial-keagamaan masyarakat Indonesia untuk kemudian membagikan pengalaman tersebut di negara asal masing-masing.

Baca Lainnya :

Sekretaris Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU, Ufi Ulfiah, mengatakan Beasiswa Peradaban bukan sekadar program pendidikan, melainkan wadah pertukaran nilai, budaya, dan pengalaman antara Indonesia dengan masyarakat internasional.

Menurut dia, para penerima beasiswa memiliki kesempatan untuk memahami Indonesia secara lebih mendalam, khususnya mengenai praktik Islam moderat yang berkembang dalam tradisi Nahdlatul Ulama.

"Kami berharap kesempatan ini dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya, bukan hanya untuk memperoleh ilmu pengetahuan, melainkan juga untuk mengenal Indonesia, memahami tradisi keislaman NU, serta kelak memperkenalkan pengalaman tersebut kepada masyarakat di negara masing-masing," kata dia.

Kehadiran mahasiswa dari berbagai negara tersebut menjadi bagian dari strategi memperkuat soft power Indonesia di dunia Islam. Melalui pendidikan, hubungan jangka panjang diharapkan dapat terbangun melalui para alumni yang memiliki pengalaman langsung hidup di tengah masyarakat Indonesia.

Sementara itu, Kepala Divisi Pendidikan dan Dakwah BAZNAS, Farid Septian, menyatakan dukungan terhadap Program Beasiswa Peradaban sebagai bentuk optimalisasi pemanfaatan zakat di bidang pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia.

Menurut dia, pengelolaan zakat tidak hanya berorientasi pada bantuan konsumtif, tetapi juga dapat menjadi investasi strategis dalam mencetak pemimpin masa depan. "BAZNAS memiliki visi mengelola zakat agar memberikan manfaat bagi masyarakat yang membutuhkan. Pendidikan merupakan salah satu investasi terbaik untuk melahirkan pemimpin masa depan. Oleh karena itu, kami mendukung berbagai program beasiswa, termasuk Beasiswa Peradaban dan program beasiswa bagi masyarakat Gaza melalui kerja sama dengan berbagai kementerian," kata dia.

Farid menjelaskan Universitas KH Abdul Chalim Mojokerto dipilih sebagai lokasi pendidikan karena memiliki kapasitas akademik yang kuat sekaligus lingkungan pesantren yang mendukung pengembangan tradisi Islam Aswaja ala Nahdlatul Ulama.

"Selain pendidikan, kami juga memiliki program filantropi dan riset yang dapat menjadi ruang kolaborasi bagi para mahasiswa selama menempuh studi di Indonesia," jelas dia.

Direktur NU Scholarship, Muhammad Syauqillah, menjelaskan program beasiswa yang dikembangkan NU Scholarship memiliki cakupan luas, mulai dari penguatan kader internal hingga membuka akses pendidikan bagi masyarakat internasional.

Program tersebut meliputi beasiswa bagi aktivis NU, program persiapan studi luar negeri jenjang magister dan doktor, Beasiswa Maroko, Beasiswa Peradaban, program persiapan sarjana unggulan, hingga pelatihan kerja luar negeri.

"Beasiswa Peradaban merupakan salah satu program strategis NU Scholarship. Kami ingin memperluas akses pendidikan, tidak hanya bagi kader NU, tetapi juga masyarakat yang lebih luas, termasuk mahasiswa internasional yang ingin mengenal Indonesia dan tradisi Islam moderat yang berkembang di sini," ujar dia.

Menurut dia, keberadaan mahasiswa internasional di Indonesia bukan hanya berkaitan dengan aktivitas akademik, tetapi juga menjadi sarana membangun hubungan antarbangsa melalui interaksi sosial, budaya, dan keagamaan.

Enam penerima Beasiswa Peradaban tahun ini berasal dari berbagai negara, yakni Ahmad Fraidon Qaderi dari Afghanistan, Zakaria Nait Mohand dari Aljazair, Abdulhameed Mubarak Adinoyi dari Nigeria, Issa Asili Omary dari Tanzania, Ibad Ali Jan dari Pakistan, dan Nafisa Sikder dari Bangladesh.

Seluruh mahasiswa tersebut akan menempuh pendidikan jenjang sarjana maupun magister di Universitas KH Abdul Chalim dengan seluruh biaya pendidikan ditanggung melalui program beasiswa.

Kehadiran enam mahasiswa internasional itu menjadi simbol penguatan diplomasi pendidikan Indonesia di tengah meningkatnya kebutuhan dunia terhadap model keberagamaan yang damai dan inklusif. Melalui Program Beasiswa Peradaban, PBNU bersama BAZNAS tidak hanya membuka akses pendidikan bagi mahasiswa asing, tetapi juga membangun jejaring global yang diharapkan semakin memperkuat citra Indonesia sebagai salah satu pusat pengembangan Islam moderat di tingkat dunia.

Kontributor: Raeihan

Editor: MAS

Sumber: www.mozaik.inilah.com




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment