- IZI Jateng Latih Santri ESQ
- Banpres Rp200 M untuk Karhutla Sumsel
- Magang Nasional Batch 3 Dibuka
- Danantara Salur Rp1,66 T untuk Filantropi
- Pemuda Masjid Dunia Perkuat Kemitraan
- MUI: Pengawas Syariah Wajib Sertifikasi
- Fun Run Muhammadiyah Bantu Flores
- Dana Umat dan Taruhan Keadilan Iklim
- Napas untuk Hari Esok
- Zafis Bukan Ziswaf: Mengubah Mindset, Membidik Rp1.200 T
IZI Jateng Latih Santri ESQ

Keterangan Gambar : Foto: Dok. Izi.or.id
Rumah Beasiswa Mahasiswa UIN Walisongo IZI Jawa Tengah mengadakan Kajian Tematik bertajuk “Menata Hati, Mengelola Emosi: Membangun Kecerdasan Emosional Berlandaskan Iman” atau Emotional Spiritual Quotient (ESQ) pada Sabtu (24/10/2026). Kegiatan yang menghadirkan dosen Ilmu Komunikasi UNISSULA, Iky Putri Aristhya, S.I.Kom., M.I.Kom., ini diikuti para penerima manfaat program sebagai bagian dari pembinaan dan pengembangan diri.
Kajian tersebut dirancang untuk mendukung pertumbuhan santri dalam aspek akademik, spiritual, dan emosional. Peserta juga diajak memahami diri sendiri serta membangun hubungan yang sehat dengan orang lain sebagai bekal menghadapi berbagai tantangan dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam pemaparan materi, Iky Putri menjelaskan bahwa kecerdasan seseorang tidak hanya diukur dari kemampuan akademik, tetapi juga dari kecakapan mengenali dan mengendalikan emosi. Kecerdasan emosional mencakup kemampuan memahami perasaan yang muncul, menyesuaikannya dengan situasi yang dihadapi, serta menyampaikan perasaan secara efektif.
Baca Lainnya :
- Lazismu-Jasindo Edukasi Keuangan Santri0
- RZ Bentuk Destana Pascabanjir Sumut0
- YMC-IZI Banten Bentuk Unit Layanan Zakat0
- Rumah Zakat Bentuk Destana Huta Godang0
- Rumah Syaamil Gandeng DT Peduli Bantu NTT0
Para peserta diajak menyadari bahwa emosi merupakan bagian alami dari kehidupan manusia. Meski demikian, kemampuan mengenali perasaan perlu dikembangkan agar seseorang tidak gegabah dalam mengambil keputusan atau bertindak ketika emosinya sedang tidak stabil.
Sebagai contoh, ketika seseorang merasa marah, dia perlu memahami penyebab kemarahan tersebut sebelum menentukan tindakan. Dengan mengenali sumber emosi, seseorang dapat memilih respons yang lebih bijaksana daripada langsung melampiaskan perasaan kepada orang lain.
Materi kajian juga menyoroti pentingnya mengambil jeda sebelum memberikan respons terhadap situasi yang memicu emosi. Waktu tersebut dapat dimanfaatkan untuk memahami keadaan, mempertimbangkan berbagai pilihan, dan menentukan cara berkomunikasi yang sesuai.
Mengelola emosi, dalam pembahasan tersebut, bukan berarti menekan atau mengabaikan perasaan. Sebaliknya, seseorang perlu mengenali emosi yang muncul dan menyalurkannya secara tepat. Prinsip ini turut dikaitkan dengan nilai kesabaran dalam Islam, yakni kemampuan mengendalikan diri dan memilih tindakan yang baik ketika menghadapi beragam keadaan.
Salah satu penerima manfaat, Abdul Karim Sanusi, mengungkapkan bahwa kajian tersebut memberikan wawasan baru dalam memahami perasaan dan emosi yang dialaminya. Dia merasa lebih memahami cara mengenali emosi sehingga dapat mempertimbangkan tindakan dan menentukan pola komunikasi yang tepat saat menghadapi suatu persoalan.
Pemahaman tersebut diharapkan dapat membantu Abdul Karim membangun komunikasi yang lebih baik dalam kehidupan sehari-hari, baik ketika berinteraksi dengan sesama santri maupun dengan orang lain di lingkungan masyarakat.
Kegiatan berlangsung dengan pemaparan materi yang dilanjutkan sesi diskusi interaktif. Melalui tanya jawab, para santri berkesempatan memperdalam pemahaman tentang pengelolaan emosi dan penerapannya dalam menghadapi berbagai situasi.
Diskusi tersebut juga menjadi sarana refleksi bagi peserta untuk memahami bahwa mengenali perasaan diri sendiri merupakan langkah penting dalam membangun komunikasi yang sehat serta menjaga hubungan yang harmonis dengan orang lain.
Melalui Kajian Tematik ini, Rumah Beasiswa Mahasiswa UIN Walisongo IZI Jawa Tengah berharap para penerima manfaat semakin terampil mengenali dan mengelola emosi, mengambil keputusan secara bijaksana, serta menjalin komunikasi yang efektif dengan berlandaskan nilai-nilai Islam.
Dengan pembinaan tersebut, para santri diharapkan tumbuh menjadi pribadi yang tidak hanya memiliki prestasi akademik dan spiritual, tetapi juga matang secara emosional sehingga mampu menjalani kehidupan bermasyarakat dengan lebih baik.












.png)
.png)