LP2M MUI Dorong Mualaf Jadi Muzaki

By Revolusioner 21 Sep 2026, 10:32:37 WIB Muzaki
LP2M MUI Dorong Mualaf Jadi Muzaki

Keterangan Gambar : Foto: Dok. Mui.or.id


Lembaga Pembinaan dan Pemberdayaan Mualaf (LP2M) Majelis Ulama Indonesia (MUI) mendorong para mualaf agar tidak hanya memperoleh penguatan keimanan, tetapi juga mampu mencapai kemandirian ekonomi.

Upaya tersebut ditujukan agar mualaf yang masih berada dalam posisi mustahik dapat berkembang menjadi muzaki sekaligus mampu membantu mualaf lain yang membutuhkan.

Ketua LP2M MUI, KH Jamaluddin Faisal Hasyim, menyampaikan gagasan tersebut saat membuka Bootcamp Muharrik Mualaf 2026. Kiai Jamaluddin mengatakan, pemberdayaan ekonomi menjadi salah satu fokus yang ingin dikembangkan LP2M MUI.

Baca Lainnya :

Menurut dia, pendampingan terhadap mualaf selama ini lebih banyak berfokus pada aspek keagamaan, psikologis, dan hukum. Sementara itu, pemberdayaan ekonomi dinilai belum memperoleh perhatian yang cukup.

Dia mempertanyakan pihak yang akan memikirkan pembangunan ekonomi mualaf apabila pendampingan hanya diarahkan pada penguatan keimanan. Menurut dia, penguatan keimanan dapat dilakukan oleh lembaga mualaf lain, pesantren, masjid, maupun yayasan.

"Lalu, siapa yang memikirkan pembangunan ekonomi mereka?" ujar Kiai Jamaluddin dalam pembukaan Bootcamp Muharrik Mualaf 2026 di Aula MUI, Jakarta, Jumat (18/9/2026).

Bootcamp Muharrik Mualaf 2026 mengangkat tema "Dari Mualaf Menjadi Muharrik, Berdaya untuk Kemaslahatan". Setelah pembukaan, kegiatan berlangsung selama tiga hari, 18–20 September 2026, di Villa Bukit Pinus, Caringin, Bogor, Jawa Barat.

Kiai Jamaluddin menjelaskan, sebagian mualaf menghadapi berbagai persoalan setelah memeluk Islam, mulai dari kehilangan dukungan keluarga hingga keterbatasan modal.

Menurut dia, kondisi tersebut perlu dijawab melalui pendampingan yang mencakup aspek keagamaan sekaligus kemandirian ekonomi. "Karena kebanyakan mualaf ini terbuang dari keluarganya," tutur dia.

Dia mengatakan, sebagian peserta yang hadir merasakan kehilangan dukungan keluarga, tidak memiliki modal, bahkan dicoret dari warisan keluarga. Kondisi tersebut, kata dia, membuat sebagian mualaf berada dalam keadaan sebatang kara. "Lalu, siapa yang peduli?" ujar dia.

Karena itu, Kiai Jamaluddin menjelaskan LP2M MUI ingin mendorong mualaf agar tidak terus berada dalam posisi sebagai penerima bantuan. Mereka diharapkan mampu memiliki usaha, meningkatkan kemampuan ekonomi, serta membantu mualaf lain yang membutuhkan.

"Diharapkan dari hari ini menjadi mustahik. Kalau misalnya masih mustahik, dia akan menjadi muzaki. Dia akan menjadi bapak atau ibu bagi para mualaf yang lain yang terdampar, terbuang," ujar dia.

Untuk mendukung upaya tersebut, LP2M MUI membuka peluang kerja sama dengan Lembaga Amil Zakat (LAZ). Kiai Jamaluddin mengatakan, LAZ dapat memberikan dukungan permodalan kepada mualaf yang telah memiliki atau ingin mengembangkan usaha.

Pihaknya mengarahkan LAZ untuk menjadikan para mualaf sebagai anak asuh yang mendapatkan modal usaha dari hasil penghimpunan dana LAZ. "Kalau MUI tidak bisa memberikan langsung, dari LAZ-LAZ inilah kita arahkan karena ini adalah mandat dari MUI," ujar dia.

Kiai Jamaluddin menilai, kerja sama tersebut dapat menjadi salah satu cara untuk membuka akses ekonomi bagi para mualaf. Menurut dia, dukungan juga dapat diwujudkan melalui berbagai peluang usaha yang tersedia di dalam jejaring lembaga dan organisasi.

Dia mencontohkan sejumlah peluang yang dapat diberikan kepada mualaf, seperti pengelolaan kantin, pekerjaan administrasi, hingga percetakan. Menurut dia, pembukaan akses tersebut dapat memberikan kesempatan kepada mualaf untuk berkembang secara ekonomi.

Dia meyakini adanya affirmative action dapat membuat para mualaf semakin berdaya. "Ini harapan kita. Mimpi, namanya mimpi. Tapi sesuatu dimulai dari mimpi. Maka dari mimpi ini mudah-mudahan terwujud menjadi kenyataan," tutur dia menambahkan.

Pemberdayaan ekonomi juga disiapkan sebagai tindak lanjut setelah Bootcamp Muharrik Mualaf 2026. LP2M MUI mendorong peserta mengembangkan gagasan usaha melalui pengajuan proposal.

Dia mengatakan, setelah kegiatan tersebut diharapkan ada proposal usaha yang diajukan para mualaf. Pembekalan mengenai pengembangan usaha diberikan selama pelatihan. Setelah pelatihan selesai, dalam waktu satu hingga dua pekan, para peserta akan kembali dikumpulkan untuk membahas peluang usaha yang dapat dikembangkan.

Selain pengembangan usaha, LP2M MUI juga berupaya membangun jejaring agar para mualaf dapat saling terhubung dan memperoleh akses pendampingan. Jejaring tersebut akan melibatkan berbagai unsur, termasuk MUI di daerah dan penyuluh agama.

"Kita harapkan setelah ini kita tidak selesai, tetapi kita akan menjadi komunitas. Komunitas yang punya grup, saling bertukar, saling berinformasi, termasuk membuka peluang-peluang kerja sama," ujar dia.

Kontributor: Syarif
Editor: MAS
Sumber: www.mui.or.id




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment