- Masjid di Bandung Didorong ke Pasar Modal
- MNC University Luncurkan Beasiswa Kita
- Staf Presiden Kunjungi Kampung Zakat
- BAS Aceh Timur Berzakat Rp400 Juta
- Data Desil Bantu Pemetaan Mustahik
- SMKN Empat Lawang Safari Dakwah Peduli Palestina
- Menag: Skema Wakaf Saham Sedang Diperbaiki
- Baznas Boalemo Salurkan Zakat Rp412,51 Juta
- Rumah Sehat BAZNAS Hadir di Jepara
- UIN Sumut Lahirkan Doktor Zakat Kontemporer
Masjid di Bandung Didorong ke Pasar Modal

Keterangan Gambar : Foto: Dok. Rri.co.id
Pemerintah Kota Bandung membuka peluang baru dalam pengelolaan dana umat melalui skema wakaf produktif yang terhubung dengan pasar modal Indonesia.
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menyampaikan rencana tersebut dengan mempertimbangkan potensi besar pengelolaan dana berbasis wakaf di dua masjid besar di Kota Bandung. Dua rumah ibadah yang dimaksud adalah Masjid Agung atau Masjid Raya Bandung yang berada di kawasan Alun-Alun Kota Bandung, serta Masjid Agung Al-Ukhuwwah.
Keduanya dinilai memiliki potensi besar untuk dikelola secara lebih profesional melalui pendekatan investasi yang terstruktur. “Dua Masjid Agung di Bandung, satu Masjid Agung Al-Ukhuwwah, satu lagi Masjid Agung Alun-Alun Bandung, begitu. Tapi kita belajar dulu, harusnya bisa sih,” ungkap Farhan kepada wartawan di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) Jakarta, baru-baru ini.
Baca Lainnya :
- Baznas Boalemo Salurkan Zakat Rp412,51 Juta 0
- Rumah Sehat BAZNAS Hadir di Jepara0
- Kapolda Sulteng Dorong Sinergi Amil Zakat0
- UPZ Jabar Bidik Potensi Zakat Rp30 T 0
- HUT RI, Baznas Pacitan Tebar Zakat ke Tukang Becak 0
Sementara itu, Wali Kota Bandung Farhan juga menegaskan, Masjid Agung Bandung bukan sekadar bangunan bersejarah, tetapi merupakan warisan para pendiri Kota Bandung sekaligus aset umat yang memiliki peran penting dalam kehidupan keagamaan masyarakat.
Dia mengatakan, masjid yang telah berdiri hampir dua abad tersebut kini berstatus 100 persen wakaf. Karena itu, keberlangsungan dan kemakmuran Masjid Agung Bandung harus menjadi tanggung jawab bersama umat.
"Masjid ini bukan milik pemerintah tetapi milik umat 100 persen. Keberlangsungan masjid ini tidak boleh tergantung lagi kepada pemerintah. Masjid ini harus hidup oleh umat Islam seluruh Kota Bandung," ujar dia saat menghadiri Tabligh Akbar yang dirangkaikan dengan Tasyakur Bini'mah dalam rangka menyambut HUT ke-81 RI di Masjid Agung Bandung, Jabar, Sabtu (15/8/2026).
Menurut dia, pemerintah tetap dapat memberikan dukungan melalui stimulan maupun kolaborasi. Namun, peran utama dalam memakmurkan masjid harus berasal dari masyarakat.
Dia menekankan, memakmurkan masjid tidak selalu berkaitan dengan dukungan finansial. Kehadiran jemaah, aktivitas keagamaan, serta berbagai kegiatan sosial yang memberikan manfaat bagi masyarakat juga menjadi bagian penting dalam memakmurkan masjid.
"Memakmurkan masjid bukan hanya soal uang. Kehadiran umat, kegiatan keagamaan dan kegiatan sosial yang memberikan manfaat bagi masyarakat juga merupakan bagian dari upaya memakmurkan masjid," kata dia.
Dia mengungkapkan, Pemerintah Kota Bandung bersama Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) tengah menjajaki peluang penghimpunan dana masyarakat melalui instrumen pasar modal syariah.
Gagasan tersebut, kata dia, terinspirasi dari pengelolaan pembiayaan yang dilakukan Masjid Istiqlal. "Kami bersama Baznas kemarin datang ke Bursa Efek Indonesia mencari kemungkinan untuk melaksanakan sebuah upaya seperti yang dilakukan Masjid Istiqlal yaitu mencari dana masyarakat melalui Bursa Efek agar produk-produk investasi keuangan syariah dapat disalurkan kepada masjid-masjid yang sudah 100 persen wakaf," ucap dia.
Menurut dia, skema tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif pembiayaan untuk mendukung keberlangsungan masjid yang berstatus wakaf, tanpa menjadikan pemerintah sebagai sumber pembiayaan utama.
Dia juga melihat perkembangan positif dari berbagai kegiatan keagamaan yang rutin digelar di Masjid Agung Bandung. Dia menyebut jumlah jemaah yang hadir terus mengalami peningkatan dibandingkan kegiatan-kegiatan sebelumnya.
Kondisi tersebut dinilai menjadi gambaran kuatnya kehidupan keagamaan masyarakat Kota Bandung. "Artinya memang semakin lama semakin jelas bahwa Kota Bandung adalah salah satu kota yang memiliki kegiatan-kegiatan religi keislaman yang sangat kuat dan harus dibangun terus," jelas dia.
Dia berharap Masjid Agung Bandung dapat terus menjadi ruang berkumpul masyarakat. Tidak hanya sebagai tempat ibadah, masjid juga diharapkan mampu menjadi pusat penyebaran kebaikan dan kegiatan sosial di tengah kawasan yang menjadi pusat perdagangan, pemerintahan, perekonomian, serta berbagai aktivitas masyarakat Kota Bandung.
"Masjid Agung Bandung dapat terus menjadi ruang berkumpul masyarakat bukan hanya untuk kegiatan ibadah tetapi juga menyebarkan kebaikan," tandas dia.
Kontributor: Raeihan
Editor: MAS
Sumber: www.rri.co.id, www.antaranews.com










.png)
.png)