- Turki Bantu Lebanon $25,5 Juta
- Beasiswa Baznas, 530 Calon Diverifikasi
- Gub Mahyeldi Gencarkan Gerakan Wakaf
- Pelukis Nasirun Wariskan Zakat Kebudayaan
- RZ Bantu Korban Kapal Sentosa
- Komite Baru Siap Bangun Gaza
- Ini Beasiswa Kedokteran Kemkes di Jepang
- IPB Kembangkan Wakaf Produktif Pertanian
- UMKM Mustahik Lingga Menuju Muzaki
- Menag: Zakat 2025 Capai Rp44,6 T
Pelukis Nasirun Wariskan Zakat Kebudayaan

Keterangan Gambar : Foto: Dok. Disway.id
Pelukis maestro asal Yogyakarta, Nasirun meninggalkan warisan "zakat (sedekah) kebudayaan". Dunia seni rupa Indonesia kehilangan salah satu figur paling otentik. Dia, berpulang ke Rahmatullah pada Sabtu, 1 Agustus 2026, di usia 60 tahun.
Kepergian seniman kelahiran Cilacap itu meninggalkan duka mendalam sekaligus warisan kultural yang luar biasa luas. Terutama lewat cara hidupnya yang melawan arus zaman.
Di era digital ketika setiap orang menggenggam gawai dan terhubung secara instan, Nasirun memilih jalan hidup sebaliknya: dia hidup sepenuhnya tanpa telepon genggam (HP). Dalam perbincangannya di siniar Beginu, Nasirun pernah blak-blakan menceritakan alasan di balik keputusannya menolak gawai sejak tahun 2000.
Baca Lainnya :
- Bupati Solsel Perkuat Gerakan Sadar Zakat0
- Zakat PHR Bantu 181 Pelajar0
- Danantara Ajak BUMN Berzakat via BAZNAS0
- Jabar Juara ZIS Anugerah Syariah0
- Kitabisa-Bakti Barito Investasi Sosial Rp13 M0
Saat itu, karyanya tengah diincar banyak galeri besar dan proposal pameran datang bertubi-tubi. Dering telepon yang tiada henti membuatnya merasa dikejar-kejar penagih utang dan kehilangan fokus kreatif. Berdiskusi dengan sang mentor, almarhum Fajar Sidik, Nasirun akhirnya memilih melepaskan diri dari komunikasi digital demi menjaga kemurnian rasa dan konsentrasi berkaryanya.
Konsekuensinya, siapa pun yang ingin meminang karyanya atau sekadar berdiskusi tidak bisa mengirim pesan singkat. Mereka harus datang langsung ke studionya di kawasan Wates, Bantul, tempat yang kini dikenal luas sebagai "gudang peradaban" atau museum hidup.
Karakter dan keunikan Nasirun paling kuat terpancar dari filosofi hidup yang dia pegang teguh. Mengenang perjalanan hidupnya, ada satu penggalan obrolan yang paling merekam ketulusan sang maestro:
"Kalau istilahnya Pak Edi, tiada hari tanpa malam, karena malam gelap gulita tentu hanya dengan teplok. Mereka berdiskusi dan paginya kayak menyongsong fajar pagi hari itu dia berkarya. Jikalau aku dapat rezeki, ya ada hak mereka untuk melacak kearifan. Saya dulu berkelakar dengan istilah zakat kebudayaan." Nasirun tidak melihat apa yang disebutnya sebagai "zakat kebudayaan" itu sebagai pencapaian milik pribadi semata.
Dia mendedikasikan sebagian rezekinya untuk mengoleksi, merawat, dan menyelamatkan karya-karya serta arsip maestro pendahulunya. Seperti Fajar Sidik, Danarto, hingga Sunarto PR yang kerap luput dari perhatian publik dan hidup dalam keterbatasan.
Bagi Nasirun, studionya adalah ruang simpan kultural yang terbuka lebar bagi siapa saja, mulai dari seniman muda hingga penikmat seni, layaknya tradisi ngaji sorogan untuk menyerap ilmu dari para pendahulu.
Di balik karya-karyanya yang sarat distorsi ekspresif, pewayangan, dan mitologi Jawa, Nasirun adalah seorang pekerja seni yang sangat disiplin. Setiap hari, dia tidak pernah absen mencoret-coret di atas kertas kecil sebagai bagian dari laku spiritual dan katarsis batinnya.
Kini, sang maestro telah merampungkan goresan terakhirnya. Rencananya, jenazah almarhum akan dikebumikan di Taman Makam Seniman dan Budayawan Giri Sapto, Imogiri, Bantul.
Nasirun telah pergi dengan caranya sendiri. Meninggalkan teladan langka tentang seorang perupa yang memilih hidup di dunia nyata, merawat ingatan para pendahulu, dan menolak tunduk pada layar digital. Selamat jalan, Nasirun. Karya, koleksi, dan napas kebudayaan yang kauhidupkan akan terus bernyawa.
Kontributor: Raeihan
Editor: MAS
Sumber: www.disway.id










.png)
.png)