Zakat dan Krisis Komunikasi di Era Disrupsi
Oleh: Lidia (Mahasiswi Universitas Gunadarma)

By Revolusioner 07 Okt 2026, 09:18:14 WIB Opini
Zakat dan Krisis Komunikasi di Era Disrupsi

Keterangan Gambar : Foto: Dok. Pribadi Lidia


Ada ironi besar dalam pengelolaan zakat hari ini: organisasi pengelola zakat (OPZ) semakin aktif berkomunikasi, tetapi belum tentu semakin berhasil membuat publik percaya, terlibat, dan berzakat.

Hampir setiap hari media sosial OPZ dipenuhi informasi penyaluran bantuan, peresmian program, kunjungan pejabat, penandatanganan kerja sama, penghargaan, hingga dokumentasi kegiatan. Semua terlihat sibuk. Namun, di tengah derasnya arus informasi itu, pertanyaan yang lebih mendasar patut diajukan: setelah melihat semua unggahan tersebut, apa yang berubah dalam diri publik?

Apakah mereka semakin memahami zakat? Semakin percaya kepada lembaga? Semakin terdorong menunaikan zakat melalui kanal resmi? Atau sekadar menggulir layar, memberikan tanda suka, lalu melupakannya?

Baca Lainnya :

Pertanyaan tersebut penting karena zakat bukan sekadar transaksi keagamaan. Dalam perspektif filantropi Islam, zakat merupakan mekanisme redistribusi kekayaan yang memiliki tujuan sosial, ekonomi, dan moral: mengurangi kesenjangan, melindungi kelompok rentan, memberdayakan mustahik, dan membangun kemaslahatan bersama. Karena itu, komunikasi zakat tidak semestinya berhenti sebagai pekerjaan kehumasan. Ia harus menjadi bagian dari strategi membangun kepercayaan publik dan menggerakkan perubahan sosial.

Dari Komunikasi Seremonial ke Ekosistem Kepercayaan

Problem pertama OPZ adalah kecenderungan komunikasi yang masih berorientasi pada aktivitas. Lembaga mengatakan telah menyalurkan zakat, mengadakan pelatihan, membangun rumah, memberikan beasiswa, atau mendampingi UMKM. Informasi tersebut memang penting sebagai bentuk akuntabilitas. Namun, publik membutuhkan sesuatu yang lebih dari sekadar daftar kegiatan.

Mereka ingin mengetahui: mengapa program itu diperlukan, siapa penerima manfaatnya, bagaimana penerima dipilih, berapa dana yang digunakan, dan apa perubahan yang terjadi sesudah program berjalan. Dalam literatur tata kelola zakat, transparansi semakin dipahami bukan semata-mata sebagai kewajiban menyampaikan laporan keuangan, melainkan sebagai mekanisme membangun kepercayaan.

Perkembangan era disrupsi digital bahkan memperluas makna transparansi: informasi harus mudah diakses, mudah dipahami, relevan, dan memungkinkan publik menilai kinerja lembaga. Di sinilah komunikasi dan akuntabilitas bertemu.

OPZ yang hanya menampilkan angka penghimpunan dan jumlah penerima manfaat belum tentu komunikatif. Sebaliknya, lembaga yang mampu menjelaskan hubungan antara dana yang dihimpun, program yang dijalankan, perubahan yang terjadi, dan dampak sosial yang dihasilkan sedang membangun apa yang dapat disebut sebagai trust architecture.

Teori kepercayaan dalam filantropi menjelaskan bahwa keputusan seseorang untuk memberikan donasi tidak hanya ditentukan oleh niat altruistik. Kepercayaan kepada organisasi, persepsi kompetensi, reputasi, transparansi, serta bukti bahwa dana benar-benar menghasilkan manfaat turut menentukan keputusan tersebut.

Karena itu, strategi komunikasi zakat harus menjawab kecemasan paling sederhana seorang muzaki: jika saya menyerahkan zakat kepada lembaga ini, apakah amanah saya benar-benar sampai dan menghasilkan manfaat?

Persoalan menjadi semakin penting ketika zakat memasuki ruang digital. Teknologi memang membuat transaksi lebih cepat, tetapi sekaligus membuat kepercayaan semakin rapuh. Muzaki dapat berpindah dari satu platform ke platform lain hanya dengan beberapa sentuhan layar.

Lembaga yang gagal menjelaskan kredibilitasnya akan dengan mudah kehilangan perhatian publik.Di sinilah komunikasi tidak lagi sekadar urusan publikasi. Ia menjadi infrastruktur kepercayaan.

Dari Call to Donate ke Call to Participate

Persoalan kedua adalah bagaimana komunikasi mengubah perhatian menjadi tindakan. Era digital membuat masyarakat semakin mudah berpindah dari satu informasi ke informasi lain. Dalam situasi seperti itu, pesan “Mari berzakat bersama kami” tidak lagi cukup. Publik membutuhkan komunikasi yang membantu mereka mengambil keputusan.

Bagaimana menghitung zakat penghasilan? Apa perbedaan zakat, infak, dan sedekah? Kapan zakat harus ditunaikan? Bagaimana memilih lembaga zakat yang kredibel? Untuk program apa dana disalurkan? Bagaimana perkembangan penerima manfaat setelah memperoleh pendampingan?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut sesungguhnya merupakan pintu masuk komunikasi zakat. Di sinilah konsep digital philanthropy menjadi relevan. Kajian Tanja Aitamurto tentang partisipasi digital menunjukkan bagaimana teknologi dapat menggeser posisi masyarakat dari sekadar penerima informasi menjadi partisipan dalam proses pendanaan dan pengambilan keputusan sosial.

Prinsip tersebut dapat diterapkan dalam zakat. Muzaki jangan hanya diposisikan sebagai “pembayar”. Ia dapat menjadi bagian dari ekosistem perubahan sosial: mengetahui persoalan, memilih program, menyalurkan zakat, mengikuti perkembangan program, dan melihat dampaknya.

Dengan demikian, komunikasi zakat harus bergerak dari call to donate menuju call to participate. Perubahan ini penting karena potensi zakat Indonesia sangat besar. BAZNAS memperkirakan potensi zakat nasional mencapai ratusan triliun rupiah. Namun, besarnya potensi tidak otomatis menghasilkan penghimpunan yang sebanding.

Di antara potensi dan realisasi terdapat persoalan kepercayaan, literasi, kemudahan layanan, preferensi muzaki, dan kemampuan lembaga mengomunikasikan dampak. Dengan kata lain, problem zakat bukan hanya bagaimana mengumpulkan lebih banyak uang, tetapi bagaimana mengubah potensi menjadi partisipasi.

Karena itu, OPZ perlu berhenti mengukur keberhasilan komunikasi hanya melalui jumlah pengikut, likes, dan views. Angka-angka tersebut penting, tetapi bukan tujuan akhir. Ukuran yang lebih bermakna adalah apakah komunikasi meningkatkan literasi zakat, membangun kepercayaan, mengonversi perhatian menjadi muzaki, mempertahankan loyalitas muzaki, dan pada akhirnya memperbesar dampak sosial.

Di sinilah teori modal Pierre Bourdieu juga relevan. Modal ekonomi bukan satu-satunya sumber daya yang menentukan perubahan sosial. Modal sosial, budaya, dan simbolik dapat dikonversi menjadi kekuatan ekonomi dan posisi sosial yang lebih baik.

Dalam konteks zakat, dana bukan satu-satunya modal yang perlu dikelola. OPZ juga harus mengelola kepercayaan, pengetahuan, jejaring, reputasi, dan partisipasi publik. Zakat yang efektif bukan sekadar memindahkan uang dari muzaki kepada mustahik, tetapi mengonversi modal tersebut menjadi pemberdayaan.

Karena itu, cerita zakat pun harus berubah. Selama ini, kisah zakat sering berhenti pada foto penyerahan bantuan: seorang penerima menerima paket, pejabat menyerahkan beasiswa, atau mustahik memperoleh modal usaha. Cerita semacam itu mudah diproduksi, tetapi hanya memperlihatkan peristiwa, bukan perubahan.

Publik perlu melihat apa yang terjadi sesudahnya. Apakah pendapatan penerima manfaat meningkat? Apakah anak penerima beasiswa mampu melanjutkan pendidikan? Apakah keluarga yang memperoleh bantuan kesehatan menjadi lebih produktif? Apakah pelaku usaha yang memperoleh modal mampu bertahan dan berkembang? Bahkan, apakah seorang mustahik akhirnya memiliki kapasitas untuk menjadi muzaki?

Inilah impact storytelling yang seharusnya menjadi masa depan komunikasi zakat: cerita yang mempertemukan manusia, data, proses, dan perubahan. Pendekatan ini sekaligus lebih sesuai dengan semangat filantropi Islam.

Zakat tidak dimaksudkan untuk melanggengkan ketergantungan, melainkan menghadirkan keadilan dan kemaslahatan. Dalam perspektif sosiologi profetik Kuntowijoyo, orientasi tersebut dapat dibaca melalui tiga nilai: humanisasi, liberasi, dan transendensi. Zakat harus memuliakan manusia, membebaskan dari berbagai bentuk ketidakberdayaan, dan tetap berakar pada tanggung jawab ketuhanan.

Maka, komunikasi zakat seharusnya tidak mengeksploitasi kemiskinan untuk membangkitkan belas kasihan. Ia harus menghadirkan martabat penerima manfaat dan menjelaskan bagaimana zakat bekerja sebagai instrumen pemberdayaan.

Pada titik inilah OPZ membutuhkan arsitektur komunikasi baru. Pertama, membangun ekosistem konten yang menggabungkan edukasi zakat, layanan publik, transparansi, kisah penerima manfaat, data kemiskinan, dan laporan dampak. Kedua, mengembangkan komunikasi dua arah. Media sosial tidak boleh hanya menjadi pengeras suara lembaga, tetapi ruang untuk mendengar pertanyaan, keluhan, kebutuhan, dan aspirasi publik.

Ketiga, memanfaatkan data untuk menciptakan komunikasi yang lebih personal. Generasi muda tidak cukup diberi ajakan berdonasi. Mereka membutuhkan informasi yang cepat, visual, mudah diverifikasi, dan relevan dengan nilai sosial yang mereka yakini.

Keempat, menyatukan seluruh kanal komunikasi dalam satu ekosistem digital. Website, media sosial, aplikasi, kanal layanan, media massa, hingga komunitas harus bekerja dengan pesan dan data yang terintegrasi. OPZ tidak boleh hadir sebagai banyak akun yang berbicara sendiri-sendiri, tetapi sebagai satu institusi yang memiliki suara, karakter, dan reputasi yang konsisten.

Pada akhirnya, komunikasi zakat tidak boleh ditempatkan di ujung proses, setelah program selesai. Komunikasi harus menjadi bagian dari seluruh rantai nilai zakat: dari literasi menuju kepercayaan, dari kepercayaan menuju partisipasi, dari partisipasi menuju penghimpunan, dan dari penghimpunan menuju pemberdayaan.

Zakat memiliki mandat sosial yang terlalu besar jika komunikasinya hanya menjadi album digital berisi foto seremoni. Di era ketika perhatian publik menjadi komoditas yang diperebutkan jutaan pesan setiap hari, OPZ tidak cukup hanya hadir di layar. Ia harus hadir dalam kesadaran publik.

Sebab, komunikasi zakat yang paling jitu bukanlah komunikasi yang paling sering mengatakan “kami bekerja”, melainkan komunikasi yang membuat masyarakat memahami persoalan, percaya pada amanah, terdorong untuk terlibat, dan akhirnya dapat melihat bahwa zakat benar-benar mengubah kehidupan manusia. (*)




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment