BRICS dan Agenda Strategis Kemitraan Pendidikan RI-Rusia
Oleh: Hikmah Abrar (Mahasiswa Kazan State Power Engineering University, Rusia)

By Hikmah Abrar 03 Okt 2026, 15:01:40 WIB Opini
BRICS dan Agenda Strategis Kemitraan Pendidikan RI-Rusia

Keterangan Gambar : Foto: Dok. Pribadi Hikmah Abrar


Kehadiran Indonesia dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS 2026 bukan sekadar tentang posisi Indonesia dalam forum ekonomi dan politik global. Lebih jauh, BRICS dapat menjadi ruang untuk membangun jejaring kerja sama yang menghubungkan pasar, teknologi, sumber daya manusia, pengetahuan, dan institusi pendidikan.

Presiden Prabowo Subianto dalam KTT BRICS 2026 menegaskan pentingnya peran aktif Indonesia dalam tata kelola global serta penguatan kerja sama dengan negara-negara Global South. Dalam konteks tersebut, hubungan Indonesia dengan negara-negara BRICS memiliki dimensi yang semakin luas, tidak hanya ekonomi dan perdagangan, tetapi juga teknologi, pendidikan, riset, dan pengembangan sumber daya manusia. Menurut saya, ada satu unsur yang perlu mendapatkan perhatian lebih besar dari arah kerja sama tersebut: pendidikan.

Sebab, perdagangan dapat mempertemukan negara dalam transaksi ekonomi, investasi dapat membangun industri, dan diplomasi dapat memperkuat hubungan antarpemerintah. Namun, pendidikan membangun sesuatu yang jauh lebih panjang: kapasitas manusia yang akan menjalankan hubungan tersebut selama puluhan tahun ke depan.

Baca Lainnya :

BRICS dan Pendidikan sebagai Instrumen Diplomasi Indonesia

Dalam perspektif hubungan internasional, kerja sama antarnegara tidak hanya berlangsung melalui kekuatan politik, ekonomi, atau keamanan. Pendekatan liberal institutionalism melihat institusi internasional sebagai sarana untuk menciptakan kerja sama, membangun kepercayaan, dan mengurangi ketidakpastian di antara negara.

BRICS dapat dilihat dalam kerangka tersebut. Negara-negara anggotanya tidak hanya memiliki kepentingan ekonomi, tetapi juga memiliki kepentingan untuk memperluas pertukaran pengetahuan, teknologi, budaya, dan sumber daya manusia.

Karena itu, keterlibatan Indonesia dalam BRICS seharusnya dibaca sebagai peluang untuk memperluas jejaring kerja sama pendidikan. Pendidikan dapat menjadi instrumen people-to-people diplomacy, ketika mahasiswa, akademisi, peneliti, dan perguruan tinggi menjadi penghubung hubungan antarnegara.

Indonesia sendiri telah memiliki pintu institusional melalui BRICS Network University (BRICS-NU). Keikutsertaan Indonesia dalam jaringan tersebut membuka peluang untuk memperluas pertukaran mahasiswa, akademisi, peneliti, pengembangan riset bersama, serta kerja sama akademik lintas negara.

Bagi saya sebagai mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh pendidikan di Kazan, Rusia, pendidikan internasional tidak seharusnya dipahami hanya sebagai kesempatan mendapatkan gelar di luar negeri. Ketika seorang mahasiswa Indonesia belajar di Rusia, ia tidak hanya mempelajari disiplin akademik. Ia juga mempelajari bahasa, budaya, sistem pendidikan, perkembangan teknologi, karakter masyarakat, hingga cara negara lain melihat Indonesia.

Begitu pula mahasiswa Rusia yang belajar di Indonesia. Mereka membawa perspektif mengenai Rusia ke Indonesia, sekaligus mengenal Indonesia secara langsung. Dalam teori hubungan internasional, hubungan semacam ini dapat dipahami melalui konsep soft power. Hubungan antarnegara tidak hanya dibangun oleh presiden, menteri, atau diplomat, tetapi juga oleh mahasiswa, akademisi, peneliti, komunitas, dan alumni.

Dengan demikian, investasi pada mahasiswa Indonesia di negara-negara BRICS pada dasarnya juga merupakan investasi diplomasi jangka panjang. Hal tersebut menjadi semakin relevan dalam hubungan Indonesia–Rusia. Pada 2026, pemerintah Indonesia dan Rusia terus mendorong perkembangan kerja sama bilateral di berbagai bidang. Dalam pembahasan kerja sama bilateral tersebut, pendidikan tinggi dan sains termasuk sektor yang mendapatkan perhatian.

Jika kerja sama energi berkembang, Indonesia membutuhkan insinyur dan peneliti. Jika perdagangan meningkat, dibutuhkan ekonom, ahli bisnis internasional, ahli hukum perdagangan, dan profesional yang memahami pasar kedua negara. Jika kerja sama teknologi berkembang, dibutuhkan ilmuwan dan talenta digital.

Dengan demikian, pendidikan bukan sekadar sektor pendukung bagi kerja sama ekonomi. Pendidikan merupakan fondasi sumber daya manusia bagi kerja sama ekonomi itu sendiri.

Dari Beasiswa Menuju Ekosistem Kemitraan Pendidikan

Dalam teori perdagangan global, hubungan ekonomi antarnegara tidak lagi hanya berbicara tentang ekspor komoditas dan impor barang. Ekonomi modern semakin bergantung pada jasa, teknologi, inovasi, data, penelitian, dan human capital. Di sinilah pendidikan internasional menjadi semakin penting.

Mahasiswa yang belajar di luar negeri membawa pertukaran pengetahuan sekaligus membangun jaringan ekonomi dan sosial. Perguruan tinggi dapat melakukan penelitian bersama. Dosen dapat melakukan mobilitas akademik. Laboratorium dapat mengembangkan proyek bersama. Sementara perusahaan dapat terhubung dengan universitas untuk mengembangkan teknologi dan sumber daya manusia.

Karena itu, kerja sama pendidikan Indonesia dengan negara-negara BRICS dapat dirancang sebagai bagian dari strategi ekonomi berbasis pengetahuan. Indonesia memiliki kebutuhan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia di bidang teknologi, energi, manufaktur, pertanian, kesehatan, transportasi, digitalisasi, dan berbagai sektor strategis lainnya. Rusia dan negara-negara BRICS lainnya memiliki pengalaman dan kapasitas akademik yang dapat menjadi bagian dari pengembangan tersebut.

Namun, kerja sama pendidikan tidak seharusnya berhenti pada program beasiswa atau pertukaran mahasiswa. Ke depan, kerja sama dapat dikembangkan melalui program gelar bersama dan double degree, pengakuan kredit akademik, riset bersama, pengembangan pendidikan vokasi, serta hubungan yang lebih erat antara perguruan tinggi dan industri.

BRICS juga telah memberikan perhatian terhadap pendidikan vokasi dan pengembangan keterampilan. Hal ini penting bagi Indonesia karena transformasi ekonomi membutuhkan tenaga kerja yang tidak hanya memiliki gelar akademik, tetapi juga kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan industri.

Selain itu, Indonesia perlu membangun jejaring alumni yang kuat. Mahasiswa Indonesia yang pernah belajar di Rusia, India, China, Brasil, Afrika Selatan, dan negara BRICS lainnya dapat menjadi jembatan bagi kerja sama bisnis, penelitian, pendidikan, maupun diplomasi masyarakat.

Pertanyaannya kemudian bukan hanya berapa banyak mahasiswa Indonesia yang belajar di negara-negara BRICS, tetapi apa yang terjadi setelah mereka kembali?

Apakah pengetahuan mereka terserap dalam industri?

Apakah penelitian mereka menghasilkan inovasi?

Apakah jaringan internasional mereka dapat membantu membuka kerja sama baru?

Dan apakah mereka dapat menjadi bagian dari diplomasi Indonesia di tingkat masyarakat?

Di sinilah ukuran keberhasilan kerja sama pendidikan seharusnya diletakkan. KTT BRICS 2026 memberikan momentum bagi Indonesia untuk memperkuat perannya dalam tata kelola global. Namun, peran global tidak hanya dibangun melalui meja perundingan para pemimpin negara.

Hubungan internasional juga tumbuh di ruang kelas, laboratorium, pusat penelitian, forum mahasiswa, dan jaringan alumni. Dari perspektif mahasiswa Indonesia di Rusia, keberadaan mahasiswa Indonesia di luar negeri bukan sekadar perjalanan akademik personal. Kami membawa Indonesia ke ruang internasional dan pada saat yang sama membawa pulang pengetahuan serta pengalaman yang dapat berguna bagi Indonesia.

Karena itu, ketika Indonesia memperkuat perannya di BRICS, investasi pada pendidikan dan mobilitas akademik seharusnya menjadi bagian dari strategi yang lebih besar mengenai masa depan hubungan internasional Indonesia. BRICS dapat membuka pasar. Diplomasi dapat membuka pintu. Tetapi pendidikanlah yang menyiapkan manusia untuk berjalan melewati pintu tersebut.

Jika Indonesia ingin menghubungkan pasar, modal, teknologi, sumber daya, dan pengetahuan, maka universitas harus menjadi salah satu simpul utama konektivitas tersebut. Pada akhirnya, keberhasilan Indonesia dalam kerja sama BRICS tidak hanya dapat dilihat dari angka perdagangan atau investasi, tetapi juga dari kemampuan Indonesia membangun generasi yang mampu berinteraksi, berkolaborasi, dan berkompetisi dalam ekosistem global. Dan di situlah pendidikan menemukan tempat strategisnya: bukan sebagai pelengkap diplomasi, melainkan sebagai investasi jangka panjang dalam hubungan internasional Indonesia. (*)




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment