BAZNAS Cetak Fundraiser Profesional

By Revolusioner 16 Jul 2026, 07:36:21 WIB Nasional
BAZNAS Cetak Fundraiser Profesional

Keterangan Gambar : Foto: Dok. Baznas.go.id


Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI memperkuat kolaborasi nasional dalam membangun ekosistem fundraiser zakat yang profesional melalui penyelenggaraan BAZNAS Fundraising Forum (BFF). 

Forum yang digelar di Bandung, Jawa Barat, Rabu (15/7/2026), tersebut menjadi wadah menyatukan visi BAZNAS dan Lembaga Amil Zakat (LAZ) untuk meningkatkan kapasitas amil, memperkuat tata kelola penghimpunan zakat, infak, dan sedekah (ZIS), serta mendorong pengelolaan zakat yang transparan, adaptif, dan berorientasi pada penguatan kepercayaan publik. Kegiatan tersebut juga diselenggarakan secara daring melalui siaran langsung YouTube BAZNAS TV.

Turut hadir Pimpinan BAZNAS RI Bidang Mobilisasi dan Pengumpulan Dr. H. Rizaludin Kurniawan, S.Ag., M.Si., CFRM., Pimpinan BAZNAS RI Bidang Pendistribusian, Pendayagunaan, dan Pemberdayaan H. Idy Muzayyad, S.H.I., M.Si., Ketua Yayasan Daarut Tauhid Ir. Bascharul Asana, MBA., serta diikuti oleh amil zakat dari LAZ dan BAZNAS se-Indonesia.

Baca Lainnya :

Pimpinan BAZNAS RI Bidang Mobilisasi dan Pengumpulan, Dr. H. Rizaludin Kurniawan, S.Ag., M.Si., CFRM., menyampaikan, dalam pengelolaan ZIS para amil perlu meninggalkan pendekatan penghimpunan yang mengandalkan belas kasihan dan beralih pada strategi yang berbasis keilmuan, kemudahan, serta transparansi.

Menurutnya, praktik penghimpunan yang mengeksploitasi kesusahan tidak sejalan dengan misi dakwah zakat. Sebaliknya, lembaga zakat harus membangun pendekatan yang profesional agar masyarakat terdorong menunaikan zakat karena memahami manfaatnya dan merasakan kebahagiaan dalam berbagi.

“Zakat itu harus dibuat jelas, menarik, dan mudah. Alur ini tidak boleh dibalik. Kita tidak bisa sekadar memaksa atau memelas terlebih dahulu dengan mengatasnamakan zakat, infak, dan sedekah,” ujar Rizaludin.

Ia menegaskan, fundraising merupakan profesi yang memiliki landasan keilmuan, etika, kompetensi, serta standar praktik yang jelas. Karena itu, strategi penghimpunan dana ZIS harus disusun berdasarkan pendekatan yang terukur, bukan sekadar mengandalkan empati sesaat.

“Kita harus menggunakan ilmu, jangan sekadar mengira-ngira atau mengandalkan belas kasihan dengan cara menjual ‘air mata’ atau kesusahan orang lain,” ucap dia.

Lebih lanjut, Rizaludin menjelaskan, terdapat dua pendekatan utama dalam penghimpunan zakat di Indonesia, yakni pendekatan regulasi (by law) yang didukung kebijakan pemerintah serta pendekatan pemasaran (by marketing) melalui kampanye kreatif dan pelayanan kepada muzaki.

“Di BAZNAS RI pusat, kita mencoba mengombinasikan kedua hal tersebut agar para pembayar zakat mendapatkan pelayanan, pengalaman, dan perubahan spiritual yang transformatif di dalam dirinya,” kata dia.

Rizaludin menambahkan, sebagai lembaga filantropi, membangun kepercayaan publik dan memperkuat profesionalisme amil merupakan fondasi utama dalam pengelolaan zakat.

“Melalui BAZNAS Fundraising Forum, kami ingin menyatukan visi lembaga zakat agar tidak hanya menampilkan kisah sukses mustahik yang bertransformasi menjadi muzaki, tetapi juga mengedukasi masyarakat mengenai dampak zakat terhadap peningkatan kualitas hidup para muzaki sehingga mampu menghadirkan ketenangan (sakinah), penyucian jiwa (tazkiyah), dan ketakwaan,” ujar dia.

Sementara itu, Pimpinan BAZNAS RI Bidang Pendistribusian, Pendayagunaan, dan Pemberdayaan, H. Idy Muzayyad, S.H.I., M.Si., memaparkan sejumlah strategi untuk memperkuat pengelolaan ZIS, antara lain melalui peningkatan literasi zakat, penguatan kepercayaan masyarakat, optimalisasi pemetaan potensi zakat, serta digitalisasi penghimpunan.

Selain itu, menurutnya, diperlukan perluasan kolaborasi dengan pemerintah, ulama, dan berbagai lembaga, peningkatan jumlah serta kapasitas amil profesional, sosialisasi dampak program zakat, hingga penguatan sinergi antarlembaga filantropi.

“Selain itu, diperlukan juga perluasan kolaborasi dengan pemerintah, ulama, dan berbagai lembaga, peningkatan jumlah dan kapasitas amil profesional, sosialisasi dampak program zakat, serta kolaborasi antarlembaga filantropi,” ujar Idy.

Pada kesempatan yang sama, Pembina Yayasan Daarut Tauhid Peduli, KH. Abdullah Gymnastiar atau Aa Gym, memaparkan konsep dakwah zakat yang adaptif terhadap perkembangan zaman.

Menurutnya, keberhasilan lembaga pengelola zakat dalam membangun kepercayaan publik bergantung pada empat aspek utama, yakni layanan yang jelas, menarik, mudah diakses, dan mampu memberikan kepuasan kepada muzaki.

“Kita harus membuat muzaki yang berzakat itu memahami bahwa zakatnya benar-benar sampai kepada yang berhak. Sesuatu yang jelas, menarik, mudah prosedurnya, dan memuaskan akan mendatangkan komitmen, menjadi kebiasaan yang baik, serta bisa menular kepada yang lain,” kata Aa Gym.

Turut hadir Ketua Tim Kerja Kerja Sama Zakat dan Wakaf Kementerian Agama RI Hj. Andayani, S.E., M.M., Deputi I BAZNAS RI Bidang Pengumpulan H. M. Arifin Purwakananta, S.I.Kom., M.I.Kom., CWC., CFRM., Direktur Utama DT Peduli Jajang Nurjaman, S.E., CEO Rumah Zakat Indonesia H. Irvan Nugraha, S.H., M.M., beserta jajaran LAZ dan BAZNAS dari seluruh Indonesia.

Kontributor: Raeihan
Editor: MAS
Sumber: www.baznas.go.id 




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment